L a u t
Saya menyodorkan kertas gambar kepada ketiga anak saya. Saya meminta mereka menggambar pemandangan. Hasilnya, mereka menggambar komposisi: gunung, sawah, pohon, sebentang jalan, dan matahari. Saya teringat ketika seusia mereka, komposisi gambar saya juga seperti itu. Berkali-kali saya ikut lomba menggambar, selalu begitu bentuknya.
Saya memandangi gambar mereka dengan perasaan suka. Namun sesungguhnya ada sesuatu yang lain: mengapa tidak ada yang menggambar laut – perahu nelayan, orang memancing, berenang, dan beberapa pohon nyiur di tepi pantai? Mengapa laut hilang dari imajinasi mereka? Mengapa laut telah menjadi objek yang tidak menarik dalam bayangan mereka?
Suatu siang saya menghadiri serah terima komandan marinir di Dermaga Layang Lantamal. Setelah itu saya dan beberapa rekan dari Fajar TV ngobrol dengan Danlantamal VI, Laksma Bambang Wahyudi tentang laut. Mengertilah saya mengapa bayangan laut hilang dari imajinasi anak-anak sekarang.
Danlantamal mengatakan bahwa kolonial Belanda tahu betul bangsa yang menguasai laut akan menjadi kuat. Nusantara dihubungkan oleh laut. Karena itu, kekuatan laut negeri kita dilemahkan. Bangsa kita digiring ke darat, bercocok tanam, menjadi pegawai, dan sebagainya. Imajinasi tentang laut perlahan-lahan dihapus dengan gunung dan sawah. Hasil laut dan pekerjaan laut pun dinegatifkan nilainya. Ingat anggapan makan ikan akan cacingan? Ingat pandangan pelaut banyak istri?
Saya menengok sejarah Bugis-Makassar yang dahulu dikenal sebagai pelaut ulung. Terbayang bagaimana repotnya van Diemen, Johan van Wesenhagen, dan Speelman ketika akan merapat ke Makassar. Mereka diserang pasukan lepalepa dari berbagai penjuru yang bergerak cepat mendekati kapal musuh. Perjalanan laut kompeni sering terhalang oleh ketangguhan armada laut orang Makassar.
Ketika Kerajaan Gowa dikuasai, langkah pertama yang dilakukan kompeni adalah memotong naluri laut orang Makassar. Mereka, terutama yang hidup di pesisir laut, digiring untuk bekerja di darat. Kelebihan-kelebihan kehidupan di darat dimunculkan. Di sekolah-sekolah kompeni, khususnya bagi anak bangsawan, keindahan gunung dan sawah menjejali benak keturunan pelaut ulung tersebut. Dengan demikian, minat dan kecintaan laut pun berkurang.
Karena kurangnya kecintaan laut, saya melihat perilaku nelayan kita pun berubah. Dulu sangat bersahabat dengan laut. Seperti syair lagu: Kail dan jala cukup menghidupimu – ikan dan udang menghampiri dirimu. Ya, dulu dengan kail dengan jala. Sekarang dengan: bom!
Ketika berbincang dengan Danlantamal, hadir pada saat itu sejumlah petinggi Lantamal VI. Mereka menggambarkan kondisi kelautan nusantara. Dialek mereka tak ada yang Bugis-Makassar. Ingin melontarkan pertanyaan mengapa teramat sedikit orang Bugis-Makassar yang masuk Angkatan Laut.
Pertanyaan itu seakan tersangkut di tenggorokan, malu. Dalam hati saya menjawabnya sendiri, bahwa Bugis-Makassar, sudah meninggalkan laut. Mereka bukan lagi pelaut ulung.
Makassar, 15 Mei 2010



