Pakaian Dalam

SEORANG  kawan asal Jeneponto dengan suara serak yang nyaris diterbangkan angin, mengutarakan pandangannya tentang remaja sekarang dan dia ingin menuliskan hal itu. Dia memberi contoh, di tempat kos dan terutama anak cewek, tidak risih lagi memperlihatkan pakaian dalamnya. Pakaian tersebut digantung dan dijemur begitu saja seakan sengaja diperlihatkan untuk umum. Malah cara berpakaiannya pun terkesan untuk umum.

“Sangat bergeser jauh,” ucapnya seakan mengeluh. “Dulu mereka sangat menjaga jemuran dan menyembunyikan pakaian khususnya. Sekarang seakan sengaja dipajang.”

“Perubahanlah yang menjadikan seperti itu. Lingkungan mereka yang baru menjadikan demikian. Sekali lagi, ini kondisi sekarang. Anak remaja sekarang, terutama yang cowok juga, bagaimana cara berpakaiannya? Model celananya melorot, kelihatan pakaian dalam, sehingga kita merasa waswas melihatnya. Lantaran model seperti itu, sehingga di Amerika ada gerakan Naikkan Celana Anda,” saya memancing pandangannya.

“Nah, itulah. Sangat berubah. Terus, bila kita berbicara nilai dan kebaikan, bukankah tidak akan bergeser – entah dulu maupun sekarang? Kondisi bisa berbeda tapi nilai kebaikan tidak akan berubah sampai kapan pun. Seberubah apa pun keadaan sekarang, kebaikan tetap kebaikan. Siapa pun orangnya, nilai kebaikan tetap sama.”

Saya sependapat. Nilai itu tumbuh dari dalam. Nilai itu bersumber dari hati yang selalu tulus dan mengacu untuk berbuat baik, ujung-ujungnya menjadi manusia yang baik. Saya teringat pesan Bugis yang sangat indah. Disebutkan bahwa yang harus kita jadikan pemimpin di dalam tubuh adalah hati yang baik. Ada juga yang dinamakan penumpang  tubuh yaitu mata, telinga, lidah, dan hidung. Para penumpang itu kadang bertingkah.

Karena itu, jangan terlalu memercayai penglihatan mata, pendengaran telinga, perkataan lidah, dan penciuman hidung. Maka yang mesti diikuti adalah hati yang baik. Mata-hati yang baik tidak sembarang melihat, lidah-hati yang baik tidak sembarang berkata, telinga-hati yang baik tidak sembarang mendengar, hidung-hati yang baik tidak sembarang mencium.

Kembali soal pakaian dalam, saya teringat seorang kawan — redaktur sebuah harian di Batam. Gaya bertuturnya seperti orang Melayu. Ketika itu kami mengikuti rapat koordinansi pemberitaan. Kami berdua ditempatkan sekamar.
Saya perhatikan, ia sangat menjaga tingkah laku. Bila mandi, ia membawa seluruh pakaian gantinya ke kamar mandi, kemudian keluar dalam keadaan sudah rapi.

Pakaian kotornya ia kepit, kemudian disimpan di bagian – entah. Tapi yang jelas selama dua hari sekamar dengannya, saya tidak pernah melihat pakaian kotor dan pakaian dalamnya digeletakkan begitu saja. Tidak pernah saya lihat. Baginya bagian dalam itu harus terjaga dengan baik. Hm, dia adalah manusia yang sangat menjaga diri-nya.
Oya, kawan itu ternyata orang Bugis.

Makassar, 01 Mei 2010

~ oleh alimdjalil pada Mei 8, 2010.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.