K r i t i k
Kawan itu menulis sebuah buku. Dia memberikan sebuah dan saya menerimanya dengan senang hati. Dua hari kemudian dia menelepon menanyakan apakah saya sudah membacanya dan saya menjawab: belum. Dua hari berikutnya, lagi-lagi dia mengajukan pertanyaan yang sama dan saya pun memberikan jawaban yang sama, belum.
Setelah itu dia tidak pernah bertanya lagi sampai kami bertemu beberapa hari yang lalu di warung kopi. Soal buku itu kembali dia tanyakan dan saya memang telah tamat membacanya. Dia meminta saya mengomentari buku itu dan saya pun memenuhi keinginannya.
Saya memulai dari beberapa hal positif yang saya temukan di buku itu. Buku fiksi tentang konflik percintaan. Saya katakan bahwa buku tersebut adalah buah pikiran yang bisa menginspirasi banyak orang terutama yang sudah mempunyai pasangan hidup.
Tapi kawan itu kelihatan kurang puas dengan pernyataan yang terkesan umum. Saya menangkap dia curiga bahwa saya tidak membacanya dan sekadar menyenangkan dia. Kawan itu pun bertanya, “Apa saja pemikiran yang bisa menginspirasi itu?”
Karena memang sudah membacanya, saya mengingat beberapa hal yang menurut saya menarik, misalnya kalau berkomunikasi dengan pasangan, sebaiknya kita mengunakan cara berkomunikasi pasangan kita. Bila bertengkar dengan pasangan, bertengkarlah pada saat hati gembira. Juga, pasangan kita tidak bisa membaca pikiran kita – jadi jangan menuntut untuk selalu dimengerti.
Kawan itu kelihatan puas kemudian dia meminta saya mengomentari beberapa kekurangan dari buku itu. Saya pun memenuhi keinginannya. Ternyata, bagian “kekurangan” tersebut teramat banyak yang saya temukan. Kemudian saya pun menyampaikan poin-poin itu dengan gamblang berdasarkan standar tulisan yang menarik dari beberapa buku referensi yang pernah saya baca.
Wajah kawan itu kelihatan keruh setelah saya menyampaikan banyak kekurangan. Saya lantas menegaskan, “Dengan menulis buku ini, kamu sudah melakukan lompatan dan itu jauh lebih unggul dibanding lainnya. Terbukti yang dapat menulis buku itu hanya segelintir. Tidak semua orang bisa,” ucap saya. “Oya, setiap karya kreatif seperti ini, kalau kita sudah melemparkan ke publik, sudah menjadi milik publik. Publik bebas mengapresiasi karya tersebut. Konsekuensinya karya itu akan bebas nilai, bebas kritik dan kita harus menerima itu. Dalam hal apa pun, musik, puisi, film, sinetron, buku — kita jangan berkarya kalau tidak mau dikritik. Malah ada yang mengatakan bahwa jangan hidup kalau tak mau dikritik. Sebab, hidup itu adalah karya, karya itu kritik, kritik itu melengkapi karya, karya itu pertanda hidup dan seterusnya.”
Kawan itu menyeruput kopinya, mungkin kurang puas dengan pernyataan saya. “Tidak gampang lho menulis buku,” gumamnya.
“Ya, tak gampang. Oya, karyamu itu sangat keciiiiiiillll untuk dikritik,” ucap saya sembari memutar-mutar telunjuk di meja untuk mempertegas penilaian kecil itu.
Kawan tersebut menatap saya. Mulutnya terbuka kaget. Saya balas menatapnya lekat. “Kawan, dengarkan baik-baik. Jangankan bukumu, bukankah mahakarya Tuhan pun sering kita kritik?”
Makassar, 3 April 2010.



