Orang Kecil
Beberapa hari lalu saya tonton di televisi, seorang perempuan renta ingin menukar tikarnya yang sudah robek, tidak layak, bikin gatal, dengan tikar baru. Dia berkeliling mencari orang yang mau menukarkan selembar tikarnya. Tentu dia mendapatkan banyak penolakan. Juga diremehkan dan dianggap tidak pantas.
Tapi perempuan tua tersebut tetap mencari seseorang, minta tolong, siapa tahu bersedia menukar tikarnya dengan yang baru. Dia terus berjalan, mendekati setiap orang, membujuk, sesekali orang itu diajak berkenalan, namun selalu saja menerima penolakan – bahkan penghinaan.
Tanpa kenal putus asa, perempuan tua itu akhirnya menemukan seseorang yang mau mendengarkan keluhan dan menceritakan keinginannya mendapat tikar baru lantaran tikar daun pandannya sudah tidak layak pakai. Seseorang itu adalah perempuan paruh baya, wajahnya tergambar penuh beban, sehari-hari menjual buah-buahan di sudut sebuah jalan, pendapatannya pas-pasan untuk hidup sehari-sehari. Suaminya seorang buruh. Ia, dalam struktur kemasyarakatan kita sering disebut orang kecil.
Tapi perempuan tersebut tidak berpikir panjang untuk menolong perempuan tua pemilik tikar daun pandan yang sudah robek itu. Ia kemudian pergi membeli tikar baru, harganya Rp 35 ribu, kemudian kembali menyerahkan tikar itu kepada si perempuan renta. Wajahnya sungguh polos dan ikhlas. Ia seakan tidak berpikir bahwa uang pembeli tikar yang ia perjuangkan dengan duduk menunggu pembeli di pingggir jalan dan di bawah terik sinar matahari itu, sangat berharga bagi orang kecil seperti dirinya. Tergambar bahwa yang ada di pikirannya, perempuan renta tersebut harus ditolong, dibelikan tikar baru agar dapat tidur nyenyak.
Peristiwa tersebut adalah keseharian kita. Perbuatan perempuan penjual buah itu seakan menampar banyak orang – ya, kita semua. Keikhlasan yang ia perlihatkan sungguh sempurna, sementara kita terkadang tidak utuh lantaran terkadang ada pertimbangan dan perhitungan tertentu. Perempuan itu sungguh orang besar.
Penulis Bruce Larson mengatakan bahwa uang adalah sepasang tangan yang lain untuk menyembuhkan, memberi makan, dan memberi kegembiraan kepada keluarga-keluarga yang kekurangan di muka bumi; dengan kata lain, uang adalah diri kita yang lain.
Demikian pula ungkapan Andrew Carnegie yang dikenal sangat dermawan dan sering terlihat di pedalaman Afrika dan India bahwa tujuan hidupnya adalah mengumpulkan kekayaan pada setengah usia dan setengahnya lagi adalah membagikan kepada orang lain.
Saya pindah channel. Nonton siaran berita. Kebetulan ada reses wakil rakyat. Juga ada berita tentang pemerintah yang turun memberi bantuan di sebuah sekolah dasar. Ditayangkan pula salah satu partai politik yang membagikan sembako – tampak seseorang menyerahkan bungkusan sementara wajahnya menghadap kamera para wartawan.
Terkadang kita terlihat demikian baik, ikhlas, bersungguh-sungguh memberi bantuan ke pasar-pasar, warga kurang mampu, panti sosial, rumah ibadah padahal ada sesuatu yang diharapkan. Lebih gagah lagi, bantuan yang diserahkan itu biasanya bukan dari dana pribadi tapi dari negara – ya, dari rakyat.
Siapa tahu, ah, jangan-jangan, dana yang kita serahkan itu dari mereka yang menerima sumbangan juga. Hehe, lantas orang kecil itu siapa?
Makassar, 27 Maret 2010.



