Senja Lupa
Menjelang magrib, awal Februari 2010 , Po’oh mengayun langkah menembus sebuah lorong di Jalan Baji Passare, Makassar. Sebelumnya Po’oh menerima telepon dari putrinya yang menanyakan tentang kerajaan tertua di nusantara. Po’oh tersenyum senang karena masih mengingat jawaban tersebut yang kali pertama dia tahu ketika belajar sejarah di sekolah dasar dulu. Diam-diam Po’oh mengagumi daya ingatnya sendiri.
Sekira 20 langkah memasuki lorong itu, ia berpapasan seorang pengendara motor, yang membonceng istri dan kedua anaknya. Pengendara itu menatap aneh ke arah Po’oh kemudian berhenti tiba-tiba. Seketika pengendara itu berteriak menyebut nama Po’oh.
“Aduh, ternyata kita jumpa di sini!” ucapnya, sembari menarik tangan Po’oh dengan gemas. “Lama sekali kita tidak bertemu. Bagaimana kabar teman-teman yang lain?”
Po’oh gelagapan. “O, baik, baik,” jawabnya berbasa-basi. Tapi di sinilah masalahnya. Po’oh sama sekali tidak mengenal pengendara tersebut. Dia berupaya menyedot semua ingatan yang seakan menggumpal di ‘sumsum’ tulang kakinya untuk mengenali orang itu, tetap saja dia tidak menemukan kata kunci siapa lelaki itu.
Maka kebohongan itu terjadi lagi. Agar lelaki tersebut tidak merasa kecewa, Po’oh bersikap seolah-olah mengenali, berakrab-akrab, menepuk-nepuk bahunya, mengusap rambut si anak yang didudukkan di tangki motor, tanya kabar, aktivitas terakhir, sembari mengingat-ingat orang tersebut siapa?
Lelaki itu lantas menyebutkan aktivitasnya. Sial, Po’oh masih lupa. Lelaki itu menceritakan sebagian pengalaman lucu mereka ketika aktif ber-interkom ria hingga tengah malam, saat masih remaja dulu. Ampun, Po’oh ingat interkomnya, juga puluhan nama stasiun teman-temannya: Komando, Lorbun, Kapten Ramon, Kamerun, Lambada, dan lain-lain tapi tetap lupa lelaki itu. Lebih memalukan lagi, lelaki tersebut sudah menyebutkan namanya, berkali-kali, namun Po’oh belum menemukan bayangan apa-apa.
O, langit dan bumi, inilah kejadian yang sangat tidak mengenakkan. Sungguh payah. Lelaki itu sudah menceritakan sebagian pengalaman mereka, bahkan sudah menyebutkan identitasnya tapi Po’oh masih belum mengenali siapa dia. Mengapa lelaki itu benar-benar terhapus dalam memorinya? Ada apa ini?
Po’oh seakan ingin membentur-benturkan kepalanya ke tembok lorong. Satu per satu wajah temannya, lengkap dengan nama, latar belakang, suka-duka, malah gelar akademiknya, lantas berhamburan dari ingatannya – namun lelaki tersebut benar-benar terlupa.
Mereka berpisah. Po’oh menarik napas panjang. Ingin rasanya menangisi keadaan ini. Seekor keong merayap di dinding lorong yang lembap. Po’oh rasa-rasanya mau masuk ke cangkang keong itu kemudian bersembunyi di dalamnya. Sangat menjengkelkan keadaan ini. Lelaki itu sudah menceritakan semua tentang dirinya, bahkan telah menyebutkan nama, masih saja Po’oh tidak mengingatnya.
Po’oh melihat lelaki itu berlalu. Berkali-kali Po’oh menepuk jidat menyesali lupanya. Ia memohon ampun sebab sebelumnya telah membanggakan diri akan daya ingatnya. Namun di depan pengendara itu, yang sesungguhnya teman lama, Po’oh benar-benar menjadi orang bodoh. Tuhan, ampun hamba. Engkau “menegur” hamba dengan peristiwa ini. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui.
Makassar, 13-18 Februari 2010.



