Bila Menyebut Makassar
Pengalaman ini sudah sering saya ceritakan. Baik lewat tulisan maupun bincang-bincang ringan. Pada 1992 saya menjaga kakak laki-laki saya – sekarang sudah almarhum —, ketika dirawat di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, lantaran tumor otak. Pengalaman ini menyadarkan saya bagaimana gambaran yang sudah tertanam di kepala orang luar tentang sebuah wilayah bernama Makassar.
Hari pertama saya datang, seperti biasa kami berkenalan. Keluarga pasien yang sudah lama, bertanya kepada orang baru. Perkenalan itu juga untuk berbagi rasa. Sama-sama tengah menghadapi persoalan berat dan perlu untuk berbagi agar beban yang dihadapi berkurang.
Salah seorang ibu bertanya kepada saya. Ia menanyakan siapa yang sakit dan apa penyakitnya. Ini tentu pertanyaan yang biasa. Termasuk ketika ia menanyakan kota asal saya. Saya menyebut Ujungpandang. Ibu itu terdiam lama. Malah tidak melanjutkan pertanyaannya. Giliran saya bertanya, ibu itu malah tampak enggan. Beberapa keluarga pasien terlihat kurang nyaman. Saya menangkap kegelisahan di wajah mereka.
Di depan Ruang Perawatan Syaraf para keluarga pasien menunggu. Mereka mengalas tikar dan tidur-tiduran di situ. Pasien ada di dalam. Saya melakukan hal yang sama, mengalas tikar plastik gulung di sudut, agar tidak terlalu repot untuk melangkah ke toilet. Saya ada di antara mereka, sandar di tembok sembari meluruskan ke dua kaki. Ibu yang tadi ada di sudut lain.
Malam harinya saya bersiap-siap untuk tidur. Beginilah hari-hari yang akan saya jalani selama proses perawatan kakak saya. Beberapa keluarga pasien yang juga sebagian besar berasal dari kota lain seperti Medan, Batam, Semarang, Samarinda masih ngobrol. Ada juga yang terlihat bengong dan memilih berdiam diri. Saya tak kuat lagi, akhirnya tertidur.
Dini hari ketika terbangun, saya melihat tempat di sekitar saya kosong. Keluarga pasien tidur saling rapat-bertumpuk di sudut yang lain. Sangat jauh dari saya. Mereka tidur dengan menjadikan tas bawaan sebagai bantal. Itu pun talinya dililitkan di tangan.
Saya menyadari, sepertinya ada yang “tidak beres” dengan diri saya. Saya menyadari, keberadaan saya seakan “mengganggu” ketentraman mereka. Saya kemudian tahu, sikap mereka yang demikian lantaran saya berasal dari sebuah kota bernama Makassar.
Tahun lalu keponakan saya, cowok, dari Banjarmasin tamat SMA. Orang tuanya mengirim untuk melanjutkan sekolah di Makassar. Sejak hari pertama kedatangannya, teleponnya terus berdering menanyakan keadaan. Terutama dari ibunya yang orang Banjar. Juga kakek dan neneknya.
Saya amati, setiap ada berita di televisi tentang kejadian di Makassar, sang ibu, kakek, dan nenek meneleponnya. Saya menyampaikan bahwa putranya baik-baik saja dan di Makassar tenang-tenang saja. Tapi mereka selalu merujuk, barusan lihat di televisi.
Anak itu tidak mendaftar di universitas. Ternyata ini saran dari ibunya. Alasannya mahasiswa di Makassar sering demo dan terkadang anarkis. Anak itu mendaftar di Pelayaran. Syukur ia diterima. Saya menyampaikan kabar gembira ini kepada orang tuanya. Tapi esok pagi, ketika bersiap-siap untuk mengantarnya mendaftar ulang, anak itu muncul dengan berurai air mata: ibunya meminta pulang.
“Kamu kan diterima?”
“Batal!”
“Lha, kenapa?”
“Ibu tidak tenang saya di Makassar!”
Saya menghubungi orang tuanya dan memberi jaminan bahwa putranya akan baik-baik saja di Makassar. Keputusan mereka sama, putranya harus kembali. Selama di Makassar, ia kurang tidur memikirkan keadaan putranya. Saya tidak mengerti, ada apa sesungguhnya dengan Makassar. Apa sebenarnya yang tertanam di kepala orang luar tentang Makassar. Siapakah yang menjadikan Makassar sebagai kota yang kesannya seperti itu?
Makassar, 4 Juli 2008




Tinggalkan Balasan