Pelontos

Seorang karib yang sudah teramat lama tidak bersua, pada sepotong subuh mengirim pesan singkat bahwa ia telah menggunduli kepalanya sebagai bentuk rasa syukur. Syukur atas kemenangan yang berpihak suara rakyat. Saya juga bersyukur ternyata karib itu masih mengingat saya . Paling tidak bahwa kami berdua ada.

Saya banyak belajar darinya tentang memegang sebuah prinsip, konsistensi, kejujuran, kepolosan, pengorbanan, kerelaan, persaudaraan, dan pertemanan. Tentu saja sebagai manusia, ada beberapa prinsipnya yang berbeda dengan pemikiran saya. Tapi secara utuh, saya teramat salut kepadanya.

“Tapi rasa syukur, mengapa mesti dengan pelontos?” demikian saya membalas pesan singkatnya.

Sekitar lima menit, tujuh, 10,  saya tidak mendapat balasan. Padahal saya sudah membayangkan akan mendapatkan jawaban yang taktis seperti kebiasaannya. Saya berpendapat, mencoba meraba pendapatnya, pelontos adalah sesuatu yang tidak mempunyai alasan. Atau, tidak menjawab pertanyaan sudah merupakan suatu jawaban.

Kurang-lebih 15 menit, saya mendapatkan balasannya. Ia menekankan perbedaan gundul artis dengan awam. Lagi-lagi sesuatu yang tidak saya duga. Gundul artis berujung popularitas, gundul awam adalah kerelaan. Tapi sesungguhnya saya menangkap rasa syukurnya — setelah sekian lama terbebani menunggu kemenangan suara rakyat itu.  Siapa pun berpendapat, orang sabar sekali pun, menunggu itu berat. Maka wajar bila salah satu pengungkapan sederhananya adalah dengan pelontos.

Saya langsung mengirimkan pesan singkat lagi. “Dalam The Secret disebutkan bahwa apa yang kita dapatkan hari ini adalah apa yang kita pikirkan beberapa waktu lalu. Tapi hati-hati saja karena buku tersebut sama sekali tidak melibatkan kekuatan doa dan peranan Tuhan.”

Sembari menunggu balasan pesan singkatnya, saya tergelitik dengan pelontos. Saya coba mengaitkan melihat sesuatu “ke depan” dengan apa yang dilakukan saat ini secara sederhana. Hari ini kita mencukur janggut, ke depan wajah kita akan bagaimana. Hari ini kita operasi lasik, ke depan penglihatan kita bagaimana. Hari ini kita melangkah ke kiri, ke depan akan tiba di mana.

Lantas pelontos? Hari ini kita pelontos, ke depan segala yang membebani pikiran, keruwetan, kesumpekan, gatal-gatal, tidak mengganggu hari-hari kita. Setelah pelontos, kita menginginkan kejernihan demi kejernihan mengisi kepala kita. Juga agar terlihat lebih segar dan dinamis. Itu cuma.

Hanya saja, masing-masing orang melihat ke depan dengan cara yang berbeda. Ini wajar karena setiap manusia sempurna dengan berbagai perbedaan. Belum lagi perbedaan kata hati, maksud hati, suara hati.

Perbedaan itu adalah jarak tertentu dari persamaan. Maka wajar bila ada perbedaan. Seumpama ada tiga orang yang berdiri di balik jendela yang sama, biasanya melihat hal yang berbeda. Ada yang tertarik untuk melihat lalu-lalang kendaraan, ada mungkin rumput, satunya lagi langit biru. Kalau Anda berada di antara mereka, boleh jadi Anda justru hanya memandangi secara pelontos tingkah mereka bertiga.  

  Makassar, 28 Maret 2008. 

~ oleh alimdjalil di/pada April 2, 2008.

Tinggalkan Balasan