Trump dan Durian
Dalam salah satu wawancara di televisi, Donald John Trump, lahir 14 Juni 1946 di Quenns, New York, menceritakan bagaimana sehingga ia bisa menjadi manusia sukses seperti sekarang. Seperti biasa, cerita sukses selalu menarik perhatian. Apa lagi tokoh sekaliber Trump, seorang pengusaha konstruksi dan pemilik perusahaan hiburan yang terkenal seperti Miss Universe, Miss USA, dan Miss Ten USA. Termasuk Taj Mahal Casino adalah miliknya. Acara tersebut ditonton jutaan pemirsa karena selalu menampilkan tokoh dengan latar belakang yang spesial.
Pembawa acara lantas mengajukan pertanyaan yang menarik. “Mr Trump, bagaimana kalau bisnis Anda jatuh, apa yang akan Anda lakukan?”
Mendapat pertanyaan tersebut, dengan tenang Trump menjawab, “Saya akan menjadi pelayan di hotel.”
Spontan, penonton yang ada di studio dan jutaan lainnya di rumah, tertawa keras mendengar jawaban itu. Trump akan menjadi pelayan hotel? Bagi mereka itu tindakan lucu dan sangat menggelikan.
Menanggapi reaksi penonton yang tertawa, dengan tenang Trump mengatakan sambil tersenyum, “Itulah perbedaannya, mengapa sehingga Anda tetap berada di sana dan saya duduk di sini.” Sebagian penonton terdiam.
Ucapan Trump sangat mengena. Sebagian lagi bereaksi dengan tetap tertawa karena jawaban itu tetap dianggap lucu. “Saya ingin melakukan pekerjaan apa saja, sementara Anda cenderung pilih-pilih dan malah lebih sering meremehkan, menganggap enteng apa yang dilakukan orang lain. Karena itu, Anda akan tetap menjadi penonton yang hanya dapat tertawa, saya akan menjadi figur yang duduk di sini,” ujar Trump. “Andaikan kehidupan ini dapat diulang, Anda akan tetap menjadi penonton seperti ini, terus seperti ini, karena kelebihan Anda adalah hanya bisa tertawa.”
Dalam buku “How to Get Rich”, Trump mengisahkan dirinya pernah sangat menderita. Ia pernah stres berat. Bayangkan, hutangnya mencapai USD90 miliar! Namun berkat kerja keras, tidak memandang remeh setiap usaha, kehidupannya perlahan-lahan berubah. Sekarang namanya sudah merupakan “jaminan produk berkualitas”.
Apa rahasia sukses Trump? Ketika pewawancara mengajukan pertanyaan itu, dengan senyum khas Trump menjawab. “Ada juga pada dirimu. Mimpi! Perbesar impian dan keinginanmu maka kamu akan menjadi besar pula.”
Saya telah berulang-ulang mendengar dan membaca kisah Trump. Selalu ada hal yang baru. Biasanya setelah itu saya berputar-putar di kota ini. Melihat banyak penjual buah. Ada durian, sukun, rambutan, dan sirikaya. Juga orang yang nongkrong menghabiskan waktu. Penjual itu sebagian ada yang sudah saya kenal wajahnya. Setiap musim buah, mereka datang ke kota ini, memilih lokasi yang sama tahun lalu. Demikian pula tahun sebelumnya.
Mengingat Trump, tahun ke tahun impian yang mereka bangun hanya sebatas menjual durian setiap musim. Tak ada upaya dan keinginan untuk memperluas dan meningkatkan usahanya. Mereka masih punya peluang. Kesempatan untuk lebih berkembang tetap terbuka. Tapi itu tadi, impian yang mereka bangun sudah telanjur kecil dan sederhana.
Jangan-jangan kita juga seperti itu. Tidak punya impian lagi. Atau telanjur tidak yakin, bahwa impian itu dapat diwujudkan.
Makassar, 15 Maret 2008

Tinggalkan Balasan