Tawa Penonton
Seorang kawan Po’oh di pasca mengaku mempunyai seorang kawan yang sangat butuh pekerjaan tambahan. Kawannya itu seorang honorer di perusahaan milik pemerintah. Namanya kerja honorer tidak punya jaminan hidup – sewaktu-waktu dapat dikeluarkan. Biaya hidupnya tinggi. Anaknya banyak, untung istrinya satu. Tapi mereka juga perlu dihidupi. Karena itu perlu pendapatan tambahan.
“Mungkin ada kenalan sehingga dia dapat dipekerjakan apa,” kata kawan Po’oh prihatin.
“Keahliannya apa?” kejar Po’oh.
“Macam-macam. Listrik boleh, ledeng boleh, nyupir boleh.”
Po’oh menyatakan ingin bertemu dengan teman kawannya itu.
Bertemulah mereka di sebuah warung kopi. Mereka berbasa-basi sejenak kemudian masuk ke pokok persoalan. Teman kawan Po’oh yang bermata tirus dan perokok berat itu bercerita tentang dirinya. Sifat manusiawi seseorang, suka menceritakan diri sendiri.
“Sehari habis berapa bungkus?” Po’oh memulai.
“Dulu lima sekarang dua,” ujar lelaki tirus itu. Terkesan kalem tapi sesungguhnya ia coba membanggakan bahwa dirinya seorang “perokok berat”.
Po’oh tersenyum, berusaha mengatur napas agar sisa asap rokok lelaki itu tidak terhirup ke paruparunya. “Sudah berapa lama merokok?”
“Sejak SD, sejak sekitar 30 tahun yang lalu,” jawabnya. Kali ini lelaki itu seakan tidak bisa menyembunyikan perasaan bangganya.
Po’oh memperlihatkan raut wajah dengan sepasang mata melotot. “Waow, benar-benar paruparu asbak,” serunya.
Lelaki itu malah terlihat senang. Wajahnya sumringah. Ia ikut tertawa sehingga tampak sebagian giginya yang cokelat kehitaman. Ia menceritakan bagaimana dirinya tidak bisa berbuat apa-apa tanpa rokok. Lebih baik tidak makan daripada tidak merokok.
Pembicaraan beralih ke soal pekerjaan dan mulai menyerempet kebutuhan hidup. Lelaki itu mulai terlihat gelisah. Kayaknya ini tema pembicaraan yang tidak nyaman baginya. “Hidup ini harus dijalani apa adanya. Jangan terlalu ambisius. Bisa-bisa malah korupsi,” katanya.
“Hidup ini justru tidak apa adanya,” sanggah Po’oh pelan. ”Harus kita rebut peluang yang sudah ditebar Sang Pencipta. Kita berdiam diri, malah tidak mendapatkan apa-apa. Hidup ini adalah pertaruhan dan pilihan bagi para pengambil risiko. Hidup justru akan menjadi ladang penyiksaan bagi para pecundang dan pengecut,” beber saya.
Kawan Po’oh tampak merasa tak enak. Temannya yang perokok itu juga demikian.
“Kawan saya ini memulai pertaruhan hidup dengan mengambil risiko sebagai penjual pulsa. Sekarang ia sudah memiliki gerai penjualan henpon. Sebentar lagi gerainya bertambah. Saya yakin akan terus berkembang. Ia menghilangkan egonya untuk mengais rezeki yang ditebar. Tidak ada gengsi untuk berburu sukses,” cerocos Po’oh.
Sejenak diam. Teman kawan Po’oh yang perokok itu sibuk mengutak-atik henponnya. Seakan-akan menghubungi seseorang. Berulang-ulang.
“Ini juga pertanyaan bagi diri saya,” ucap Po’oh, “apakah kita mau mengambil risiko seperti dia? Atau nyali kita hanya bisa menjadi penonton, yang menertawakan dan meledek apa yang dilakukan orang lain? Atau kita hanya menjadi penonton, sementara orang lain terus melaju menuju sukses?”
Teman kawan Po’oh menghisap rokoknya dalam-dalam. Tertawa-tawa.
Makassar, 6 Maret 2008.

Tinggalkan Balasan