Lapar
Lebih baik mati berdarah dari pada mati kelaparan. Demikian ungkapan yang pernah saya dengar. Saya tidak ingat persisnya kapan. Tapi ungkapan tersebut sangat melekat di benak saya. Maknanya cukup dalam. Tentang hidup yang harus diperjuangkan meskipun dengan berdarah-darah. Tentu saja bermakna positif. Ada pula yang berpandangan lain. Misalnya, lebih baik mati digebuk sebagai maling dari pada mati lapar.
Saya pernah mendengar kisah suami-istri yang menjadi pekerja pembersih kaca gedung menjulang di Jakarta. Keduanya harus berada di ketinggian, membersihkan jamur yang melekat di kaca dan dinding gedung. Terkadang mereka bekerja di bawah sengatan matahari. Suami-istri tersebut berjuang demi kelangsungan hidup keluarganya dan tentu saja selalu dalam ancaman bahaya.
Ada juga suami-istri di Mojokerto, keduanya cacat, masing-masing sepasang kakinya buntung, mereka bekerja sebagai penambal ban. Mereka bahu-membahu menghidupi keluarganya, bahkan anaknya dapat disekolahkan tinggi. Keadaan pisik yang demikian tidak lantas membuat mereka kehilangan semangat. Mereka hanya berpantang untuk menderita kelaparan.
Saya seakan sudah kehilangan kehidupan bermasyarakat yang teramat indah di masa lalu, ketika sesama tetangga saling kunjung, saling beri semangkuk makanan. Saya teringat, di masa kecil, sering menerima kolak atau sayur buah sukun dari tetangga. Begitupun sebaliknya. Kehidupan yang sudah teramat langka untuk kondisi sekarang. Malah, di kota besar Makassar, tetangga sebelah rumah terkadang sudah tak saling kenal.
Ketika itu para pamong sering turun, bercengkerama dengan warganya. Pos-pos kamling sering disinggahi sembari minum kapi dan makan ubi goreng, sekalian memantau keadaan warga. Tak ada imbalan “kemudian” hari yang diharap dari warga, selain keikhlasan semata.
Saya teringat kisah agung Khalifah Umar bin Khattab ra. Beliau setiap malam berkeliling untuk mengetahui keadaan warganya. Suatu hari ia mendapati seorang ibu yang tengah menanak batu untuk “menghibur” anaknya yang menangis lantaran lapar. Khalifah lantas mengambil sekarung gandum, memikulnya sendiri, membawakan ibu tersebut. Khalifah tidak ingin “menanak batu” tersebut menjadi bebannya, kelak di kemudian hari.
Di zaman serba digital sekarang, di Makassar, di tengah hiruk-pikuk pembangunan pisik kota metropolitan, seorang warganya, perempuan yang hamil tujuh bulan, meregang nyawa bersama putra, seperti cacing yang kruyek-kruyek, melolong, menjerit, karena perut mereka butuh — meskipun hanya berupa sesuap nasi. Suaminya telah berupaya maksimal, menarik becak, agar keluarganya tidak sekarat dikarenakan lapar. Namun mereka kehilangan daya, anak-istrinya tak kuat menahan lapar, lalu meninggal.
Angin pukul 13.00 Wita terhenti di sebuah lorong di kota ini. Napas seorang ibu berikut anaknya terembus kali terakhir lantaran lambung yang terluka-perih sangat. Baunya tercium busuk, namun alam menyambutnya semerbak. Ibu tersebut sahid, sempurna, ruhnya mungkin tersenyum melintasi pekarangan rumah kita, Makassar, Jakarta, Jepang, dan seterusnya….
Makassar,1 Maret 2008.

Tinggalkan Balasan