Kota Dunia
Saya naik kereta listrik dari Sakai, Osaka ke Kyoto, Jepang, Akhir Mei 2006. Semua serba bergegas. Saya ikut-ikutan. Melangkah di lorong kereta, tanpa sengaja saya menginjak kaki seorang perempuan. Perempuan yang tengah gelantungan itu terlihat panik, kemudian membungkuk-bungkukkan badan.
“Sitsurei simas,” ujarnya berulang-ulang kepada saya. Ia menundukkan wajah, tidak menatap wajah saya.
Kepada peterjemah yang menyertai, saya minta dijelaskan maksudnya. Penerjemah mengatakan bahwa perempuan itu minta maaf karena telah salah menempatkan kaki sehingga saya menginjaknya. Saya terdiam. Padahal jelas-jelas tadi saya yang melangkah terburu-buru sehingga menginjak kakinya.
Saya tersadar ini di kota orang, negeri orang. Kalau di kota saya, Makassar, perempuan itu tentu akan melotot, mengatakan di mana saya menaruh mata, tidak sopan, salah sedikit ujung telunjuknya akan mencolok mata saya.
Kami tiba di Kyoto, yang terkenal sebagai kota kebudayaan. Banyak kuil Buddha di wilayah ini. Nuansa alami dan tradisional masih teramat kental. Wilayahnya terdiri dari perbukitan.
Memasuki kawasan kuil Kinkaku-jii, kami disambut seorang lelaki, sekitar 60 tahun, bertubuh kecil, memperkenalkan diri sebagai pensiunan — semacam dinas pariwisata, dengan teramat ramah menjelaskan situasi di kawasan kuil tersebut.
Ke mana kami melangkah, ia ikut serta, terus tersenyum, menjelaskan berbagai hal yang kemungkinan menjadi pertanyaan kami. Ia berkeringat diterpa matahari Kyoto yang hangat. Sesekali ia hapus dengan handuk kecil. Langkahnya cepat-bergairah, mengkuti langkah kami.
Saya sudah berpikir berapa besar tip yang akan diberikan kepadanya nanti. Ia sudah membantu menjelaskan berbagai hal menarik di dalam komplek kuil itu. Kami mendapatkan banyak informasi. Masak kami tidak memberinya semacam balas jasa?
Kami sudah selesai. Sudah cukup mengitari kawasan kuil tersebut. Di gerbang keluar, lelaki itu masih ikut. Tetap ikut hingga kami akan naik taksi. Malah membukakan pintu dengan sikap hormat. Saat inilah tip itu akan diberikan. Dompet dikeluarkan, dan lelaki itu buru-buru menggerakkan kedua tangannya sebagai tanda penolakan. Ia menolak dengan penuh hormat.
Saya kecele. Saya tersadar, ini di kota orang, negeri orang. Peterjemah yang menyertai menjelaskan bahwa kunjungan kami ke kawasan itu sudah merupakan kehormatan baginya. Menjelaskan kuil itu kepada para pengunjung, merupakan bentuk pengabdian mereka kepada para dewa. Kalau di kota saya Makassar, rasa-rasanya tak ada lagi sukarela seperti itu.
Kami balik ke Sakai, Osaka ketika hari menjelang sore. Saat itu jelang pemilihan walikota. Jangankan wajah para calon walikota, iklan saja teramat kurang di pinggir jalan. Soal reklame, spanduk, dan sejenisnya mereka sangat menghargai hak publik. Mereka menghargai warga yang bila membuka jendela rumah, tak ada sisi jalan yang tak terlihat lantaran terhalang spanduk. Poster para kandidat saya lihat hanya pada sebuah tembok tak jauh jari sebuah kampus. Tidak di mana-mana.
Makassar, diimpikan menjadi kota dunia pada 2025. Bila hanya soal pisik, untuk mencapai itu tidaklah sulit. Tapi bagaimana kesiapan manusianya? Adakah seorang perempuan Makassar yang merasa bersalah padahal kakinya terinjak, atau seorang lelaki yang merasa puas memberi penjelasan kepada pendatang tentang wilayahnya dan tanpa pamrih?
Makassar, 16 Februari 2008.

Tinggalkan Balasan