Upff!
Kota Makassar saat ini sangat semarak. Banyak poster, spanduk, dan baliho di pasang di sudut-sudut jalan dan sejumlah tempat strategis. Seperti akan ada kegiatan besar. Siapakah mereka? Tulisan di poster itu juga beragam. Secara garis besar ingin menciptakan keadaan kota ini lebih baik.
Hm, niat yang baik. Tergambar ada suatu tekad dan usaha dari mereka. Makassar membutuhkan figur yang ingin menjadikan kota ini jauh lebih baik. Tidak semberawut dan awut-awutan. Soal amdal, perizinan, sarana publik, lalulintas, pungutan, tokoh panutan, anggota dewan, aparat, perkantoran, poster-poster di pinggir jalan, menjadi tema yang juga awut-awutan untuk dibicarakan.
Tapi kami membicarakan hal itu, suatu waktu, hingga larut malam dan membuat kepala saya pusing sembilan keliling. Jangan sampai Makassar ini menjadi kota yang tidak mempunyai daya tarik, tak nyaman, penduduknya stres setiap hari, demikian kesimpulan kami.
Pulang, pembicaraan lepas itu masih terbayang. Untung tidak terbawa mimpi. Saya terbangun. Cuaca dingin. Salat subuh. Mensyukuri nikmat-Nya. Kembali merebahkan tubuh di tempat tidur. Menarik bantal guling. Memejamkan mata. Hujan tercurah di luar. Upf, teramat nikmat.
Entah sudah berapa lama memejamkan mata, saya merasa tubuh ini ditindih. Napas sesak. Putra-putri saya merebahkan tubuh di perut saya, ternyata. Si sulung memencet hidung, si bungsu mengilik-kilik telapak kaki. Putri saya yang tengah mencium pipi. Saya merangkul mereka, masih rebahan. Sesungguhnya ingin suasana ini lama. Saya melirik waktu, sebentar lagi mereka akan berangkat sekolah, saya akan masuk kerja. Perjumpaan dengan mereka terkadang hanya pada saat yang sepotong seperti ini.
Saya teringat cita-cita seorang kawan, ibu muda, ia teramat ingin mengurusi bayinya dengan sepenuh kasih, melengkapi apa saja kebutuhannya, dan kelak mengantarnya ke sekolah setiap hari. Keinginan yang sungguh mulia. Saya ingin mengatakan bahwa ia harus bertindak untuk mewujudkan itu. Tapi tidak perlu mengatakannya, karena saya yakin ia sudah tahu apa yang harus dilakukan.
Keinginan yang sama juga diutarakan kawan saya, seorang ibu yang tinggal di Mangga Tiga, Makassar, setelah saya mengunjunginya lantaran mendengar kabar tempat tinggalnya diterjang angin puting-beliung. Ia ingin memberi yang terbaik buat putrinya.Saya mengatakan bahwa tak ada waktu yang ideal untuk memulai suatu keinginan kecuali sekarang. Bukan nanti. Tak perlu menunda dengan menunggu sang putri besar, keadaan membaik, tamat kuliah, setelah musim hujan, kalau punya waktu, tidak sibuk, kedudukan tinggi, ekonomi stabil — karena itu adalah pemikiran yang menghalangi untuk mencapai keinginan tersebut.
Saya sudah berada di jalan raya. Ini hal yang rutin setiap hari. Teringat pembicaraan lepas tentang kota ini malam tadi. Teringat beberapa ibu, kawan saya, yang ingin perubahan dan keinginan besar dalam hidupnya. Untuk mengubah semua itu, harus dengan sebentuk tindakan.
Sekarang.Saya menjumpai poster-poster itu lagi. Membalas senyum mereka yang teramat manis. Malah, manisssss. Beberapa di antaranya sudah berusaha saya hapal namanya. Tapi masih saja sering lupa. Kalimat-kalimatnya juga menarik. Upff! Bikin senyum-senyum. Juga menyentuh – hingga lubuk hati yang paling dalam.
Makassar, 9 Februari 2008.

Tinggalkan Balasan