Kacamata Galib
Kacamata itu bergagang putih dengan kaca gelap. Bentuknya lucu. Model masa kini. Kacamata itu diberikan seorang kawan, tapi saya lebih familiar memanggilnya “Oom”. Suatu hari saya memuji kacamata gelap yang dikenakannya. Ia ketika itu lalu lalang di kantor dengan sangat styl seperti anak muda. Belakangan ia membelikan kacamata yang sama untuk saya.
Namanya Galib. Ia akrab dipanggil Pak Galib. Pembawaannya sederhana dan terkesan cuek. Ia seorang wartawan senior di kantor kami. Sebagai wartawan muda saya banyak belajar darinya. Ia banyak mengajarkan bagaimana menjalin hubungan baik dengan orang lain. Ia menjalin hubungan dengan banyak kalangan dengan pembawaan yang tetap sama. Saya yakin ia selalu mendapat kemudahan, seperti arti namanya.
Suatu hari saya ke Pasar Toddopuli mencari arang dan parang. Tengah asik memilah-milih parang di depan sebuah ruko, Pak Galib muncul mengendarai vespa putihnya mengenakan celana pendek. Sepasang matanya ditutupi kacamata gelap. Ia mencari makanan favoritnya, bassang, yang terbuat dari jagung dan gula pasir. Sembari menenteng sebuah parang saya menemuinya, melompat ke boncengan motornya kemudian memeluknya dari belakang.
Ia “memaksa” kami ke rumahnya makan bassang. Ia mempromosi makanan itu baik untuk kesehatan. Kami ke rumahnya, mendengar ceritanya yang penuh kekonyolan, didampingi istrinya, dan tentu makan bassang sepuasnya. Saya ketika itu mengingatkan agar jangan terlalu banyak makan bassang karena dapat menyebabkan gula.
Belakangan ia banyak mengeluhkan kondisi kesehatannya mulai turun. Gulanya cukup tinggi. Jantungnya terkadang sesak. Jalannya terkadang pincang. Di kantor ia sering terlihat ngos-ngosan. Suatu hari ia duduk lemas di depan kantor kemudian mengatakan bahwa semua jenis obat telah ia makan tapi kondisinya tidak membaik. Ia mengingatkan agar saya menjaga kesehatan.
Beberapa waktu kemudian terdengar kabar ia tumbang, masuk rumah sakit dikarenakan semua penyakit yang pernah dikeluhkannya. Jumat sore, 1 Februari 2008 saya membesuknya di rumah sakit. Teringat kacamata yang pernah ia berikan, saya ingin mengenakannya dengan maksud untuk menghibur dan mengembalikan memorinya. Istri saya mencegah. Alasannya ini urusan yang serius dan tak usah bercanda. Kami akan membesuk orang yang sakit, soalnya. Momennya tidak tepat.
Kami tiba di kamarnya, menjelang magrib. Ia agak baikan meski masih lemah dan terlihat sangat menderita lantaran penyakitnya. Tekanan suaranya normal. Kami bercanda dan saling goda. Ia mengatakan kami seperti pasangan muda. Saya tersenyum. Itu gaya khasnya. Ia mengatakan bahwa saya salah seorang pemimpinnya. Saya membalasnya dengan mengatakan bahwa ia adalah bapak saya. Matanya berkaca-kaca.
Azan magrib sayup berkumandang. Kami pun pamit. Saya mengatakan semoga ia cepat sembuh. Saya mengusap-usap tangannya, membelai pipinya, mengusap dadanya yang menurutnya teramat sakit kemudian mengusap-usap rambutnya yang beruban. Masih tercium aroma khas minyak rambutnya. “Jangan lagi bergadang, Oom,” ucap saya.
Ia menerawang. Menggeleng. “Selamanya saya tidak akan pernah bergadang lagi,” ujarnya pelan. Giliran tangan saya yang ia usap-usap. Saya memeluknya.
Esok saya menerima telepon. Ia telah pergi untuk selamanya.
Makassar, 2 Februari 2008.

Innalillahi wainna ilaihi roji’un. Lim, saya juga punya begitu banyak kenangan dengan Bapak kita yang satu itu. Semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan, segala amalan baiknya mendapatkan imbalan di hari pembalasan, amin.
===> Ia menerawang. Menggeleng. “Selamanya saya tidak akan pernah bergadang lagi,” ujarnya pelan. Giliran tangan saya yang ia usap-usap. Saya memeluknya.
it’s so real, so close, and so wishes!
saya bisa merasakan, dan juga pernah mencium “roma khas minyak rambutnya”
Thanks, Dg Ngewa!