Batu

ADA  satu kegemaran Po’oh: suka mengumpulkan batu. Entah batu gunung, kali, atau karang. Bukan batu permata. Batu yang bentuknya unik. Terkadang ia berhenti di jalan, bila melihat ada batu yang nganggur dan diabaikan. Po’oh meminta jasa pembecak agar diangkutkan batu itu ke rumah.

Pernah ia menghadiri akikah di rumah salah seorang kawannya. Sambil bersantap, sepasang matanya menelusuri batu yang berserakan di depan rumah kawannya itu. Matanya tertarik dua buah batu yang ukurannya sedang namun selintas mirip kepalan tangan. Ia teramat ingin batu itu kemudian meletakkannya di pekarangan rumah. Bila tamu yang lain mengagumi bunga yang ada di situ, Po’oh justru melirik batu.

Waktu kecil, Po’oh sering disebut “kepala batu”. Ia tidak mau mendengar omongan orang. Pernah ia menggali tanah, di belakang rumah, dengan maksud untuk membuat gua. Ia membayangkan sebagai tempat peristirahatan. Orang tuanya melarang agar tidak menggali untuk tujuan apa pun. Po’oh kecil tidak mendengar. Ia terus menggali. Ketika liang gua sudah seukuran tubuhnya, ia mencoba untuk tidur-tiduran di dalam. Tiba-tiba runtuh. Po’oh blingsatan. Mulutnya penuh tanah. “Dasar kepala batu,” kata orang tuanya setelah “mengevakuasi” Po’oh.

 Ada cerita tentang batu yang Po’oh suka. Dikisahkan seorang anak kecil yang setiap minggu berlibur ke rumah kakeknya. Di belakang rumah sang kakek terdapat bongkahan batu yang cukup besar. Anak kecil tersebut sering bermain di batu itu. Malah itu menjadi tempat bermain favoritnya. Naik-turun di batu tersebut membuatnya mendapatkan sensasi.

Dalam waktu yang cukup lama, sang anak kecil tidak mengunjungi rumah kakek. Suatu hari ia kembali mengunjungi kakeknya. Begitu tiba, ia langsung ke belakang rumah. Ia sudah teramat ingin mendapati bongkahan batu favoritnya.

Tapi ia kecewa. Juga heran. Di belakang rumah kakek tak lagi dijumpai batu itu. Pasti sang kakek telah membuangnya, pikirnya. Ia tiba-tiba merasa, rumah kakeknya  sudah kehilangan daya tarik. Tapi ia terpesona melihat sebuah patung batu di tempat itu.

“Batunya di mana, Kek?” protes anak kecil itu.

Sang kakek kemudian menunjuk sebuah patung yang teramat indah. “Itulah batu tersebut. Kakek hanya membuang bagian yang tidak penting dari batu itu dan memunculkan bagian yang terindah. Hasilnya seperti ini,” ucap sang kakek.

Po’oh teringat Michelangelo Bunnaroti, ketika patung Pieta ciptaannya dipuji banyak orang. Itu adalah salah satu patung bercita rasa seni cukup tinggi, terletak di Sistine Chapel, Vatican City.

Menanggapi itu, Michelangelo hanya merendah, “Saya hanya menghilangkan bagian-bagian yang terburuk dari batu itu. Setiap batu mengandung keindahan. Saya hanya membuang bagian-bagian yang tidak berharga sehingga keindahannya benar-benar tampak.”

Seperti batu yang dapat menjelma menjadi patung yang teramat indah, setiap manusia sesungguhnya mempunyai potensi keindahan. Setiap manusia dapat saja memperlihatkan kilaunya, daya tariknya, tergantung apakah ia akan membuang sifat-sifat yang tidak berguna di dalam dirinya atau tidak. Termasuk sifat “kepala batu”.             

Makassar, 26 Januari 2008.          

           

  

~ oleh alimdjalil di/pada Januari 31, 2008.

Tinggalkan Balasan