Ashura

MALAM Ashura, 10 Muharram, seluruh masjid seperti merintih. Terdengar zikir dilantunkan dengan sepenuh rasa. Teramat menusuk perasaan. Ada yang terisak. Dada bergetar haru. Langit seperti berdiam diri. Seluruh isinya seakan tunduk, hormat terhadap malam menjelang peristiwa yang teramat agung di Karbala           

Beberapa saat sebelumnya saya mengitari sebagian Makassar. Sebagian jalan macet. Ada bakar-bakar ban bekas. Ada orasi. Ada wajah-wajah marah dan kecewa. Ada juga wajah kesal terhadap yang kecewa. Ada kerumunan massa di beberapa sudut kota. Hm, esok, kepemimpinan di daerah ini ditentukan.           

Menjelang tengah malam saya balik ke rumah. Biasanya satu-dua putri saya berlari menyambut. Kali ini sepi. Saya masuk ke rumah dengan perasaan letih. Letih terjebak macet di jalan. Saya mendorong pintu kamar putra saya. Pelan-pelan. Saya dapati tengah duduk di tempat tidur, memangku kitab suci. Ia membaca surah-surah pendek. “Ini malam ashura,” katanya.           

Saya bergetar. Bergegas saya mengambil wudu kemudian melaksanakan salat Isya. Saya ingin menangis. Suara-suara di masjid masih seperti merintih – mengenang malam paling mencekam namun teramat mulia bagi cucu dan keturunan Rasulullah saw. Adakah pengorbanan yang paling besar, selain mempertahankan kebenaran meski dalam tekanan dan kondisi apa pun?

Usai salat, saya mendapati putra saya masih memangku kitab suci. Ia membaca ayat yang berarti: sesungguhnya setelah ada kesulitan, akan ada kemudahan. Saya juga mengartikan, sesungguhnya setelah ada pengorbanan akan ada kemenangan. Setelah ada usaha akan ada hasil.   

Sesungguhnya setelah Ashura akan ada ashari atau saat-saat yang gemilang. Ashura adalah hari ke-10 Muharram. Pada hari itu, 1368 tahun silam, cucu Rasulullah saw, Husain bin Ali dibantai di padang Karbala, dekat Sungai Eufrat. Ia dibantai lantaran kekuasaan yang begitu silau di mata Yazid ibn Muawiyah dan Ibn Ziyad. Imam Husain dianggap sebagai duri kekuasaan yang digenggam Yazid dan Ziyad.Inilah sejarah yang sangat menyesakkan. Persis 50 tahun setelah Rasulullah wafat, nyaris seluruh keluarganya dibantai dengan teramat keji di tangan pasukan Yazid dan Ziyad.

Inilah saat yang paling hitam dalam sejarah sekaligus menjadi tonggak kebangkitan dan persatuan umat Islam menuju saat yang gemilang tersebut.

Setelah kejadian itu, terjadi pemberontakan dan demo di mana-mana. Terjadi perlawanan dan pemberontakan terhadap kekuasaan Yazid dan Ziyad. Masyarakat marah. Kekuasaan telah memabukkan keduanya, telah membutakan mata keduanya, sehingga cucu Nabi pun dibunuh secara keji. Masyarakat melakukan pembalasan. Keduanya pun meninggal dengan teramat hina.           

Kekuasaan terkadang berteman dengan kejahatan dan kekejian. Tidak sedikit kekuasaan, yang digenggam manusia yang tidak benar, membuat sejarah terbenam teramat dalam di lumpur.

Saya teringat syair Arab tentang kekuasaan, yang ditujukan kepada para pemerintah yang berbunyi seperti ini: kekuasaan cenderung membawa kebuasan tak terlawankan. Ketika kekuasaan telah memperlihatkan daya tariknya kepada penguasa, penguasa hanya akan terpaku dan melihatnya sebagai harta jarahan. Bukan lagi sebagai amanah dan tanggung jawab.  

Makassar, 19 Januari 2008

10 Muharram 1429 H             

~ oleh alimdjalil di/pada Januari 23, 2008.

Tinggalkan Balasan