B h u t t o
KEMATIAN teruntuk siapa saja. Tak terkecuali Sir Nawaz Bhutto, Zulfikar Ali Bhutto, dan Benazir Bhutto. Kematian tidak selamanya tragis. Kecuali Nawaz Bhutto, Zulfikar Ali Bhutto, dan Benazir Bhutto. Kematian adalah sejarah yang patut dicatat: khusus untuk Bhutto.
Sesungguhnya kematian tidak mengenal dinding apa pun. Dia dapat menyentuh siapa saja, dalam keadaan apa saja. Kematian tidak mempunyai rencana. Dia hanya menyelesaikan sebuah akhir, dalam situasi apa saja.
Kematian tidak mengenal dingin, panas, air, batu, api, debu, angin, tanah, hitam, putih, hewan, tumbuhan, A, B, Z, pangkat, apa, siapa, Senin, Rabu, Jumat, Desember, 2006, 2007, baik, buruk, dan seterusnya.
Kematian juga tidak mengenal siapa keluarga Bhutto. Dia tidak mengenal ketika pada suatu pagi, 27 Desember 2007, seorang perempuan berjiwa keras, cerdas, dan cantik akan naik ke mobil yang menjemputnya seusai kampanye, sebuah letusan mengarah ke lehernya — memutuskan urat nadinya, membuatnya berakhir: maut.
Kematian tidak mengenal amnesti yang menjadikan Benazir memutuskan meninggalkan Dubai, Uni Emirat Arab, lantas kembali menjejakkan kaki di Bandara Internasional Jinnah, tanah kelahirannya, Pakistan pada 18 Oktober lalu. Kematian juga tidak mengenal janji dari seorang Menteri Luar Negeri, Amerika Serikat, Condoleezza Rice, bahwa Benazir akan didukung dalam upaya mengembalikan kekuasaan tertinggi di Pakistan. Kematian tidak mengenal semua rangkaian itu.
Bhutto selalu identik dengan kekuasaan. Tapi kekuasaan Bhutto selalu identik kematian. Bhutto dalam beberapa bahasa, termasuk sansekerta, berarti penguasa atau raksasa. Kenyataannya Bhutto memang dekat dengan kekuasaan dan keraksasaan itu. Sir Nawaz Bhutto adalah tuan tanah Sindhi yang sangat terkenal dan berpengaruh di Junagadh. Zulfikar Ali Bhutto mantan perdana menteri Pakistan. Jejaknya diikuti putrinya, Benazir yang malah menduduki jabatan tertinggi itu dalam dua kesempatan. Namun dalam upaya kali ketiga, Benazir malah bertemu maut.
Bhutto adalah gambaran kekuasaan yang dekat dengan kematian. Atau sebaliknya, kematian yang dekat dengan kekuasaan. Tapi yang pasti, kematian tidak mengenal kekuasaan, terlebih siapa pun yang mencari kekuasaan.
Kematian selalu memberi pelajaran. Bhutto adalah pelajaran yang sederhana tentang kekuasaan dan kematian. Kematian selalu ditangisi akhirnya. Hm, seperti tangis setiap umat manusia ketika kali pertama menghirup udara di alam dunia. Para Bhutto telah menjalani kematian tanpa perlu dikenal kematian.
Benar, setiap kematian hanyalah menyempurnakan persoalan satu ini, seperti yang tersurat dalam Ath-Thariq: 5-7: Maka hendaklah manusia memerhatikan dari apakah dia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang dipancarkan, yang keluar dari tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan.
Maka kematian, bagaimana pun prosesnya, sesungguhnya untuk menyempurnakan wujud dan keberadaan manusia sebagai apa….
Makassar, 29 Desember 2007.

Tinggalkan Balasan