Pak Teler

SAYA  menerima telepon dari seorang perempuan, yang sudah saya kenal, Ahad siang, 2 Desember 2007. Perempuan ini adalah staf salah satu perusahaan waralaba yang cukup terkenal di tanah air. Ia mengabarkan bahwa bosnya – yang biasa saya panggil Pak Teler, belakangan saya akrab menyapanya Dewa Mabuk, bos Es Teler 77–, mau ngobrol. Hari itu saya dengan berat hati tidak dapat memenuhi, karena bertanggung jawab dalam festival musik rock yang digelar di halaman kantor dan berlangsung hingga malam hari.

Berselang satu jam setelah itu, Pak Teler, Sukyatno Nugroho, menelepon. Kami bercerita cukup lama. Ia mengutarakan niatnya membantu rakyat kecil di Makassar dengan menggelar sebuah lomba. Ia meminta saya membantunya. Ia juga menyampaikan maaf karena  mencantumkan nama saya dibrosur yang telah ia cetak sebagai salah seorang juri.

“Saya ingin rakyat kecil bergembira dan mereka tumbuh berkualitas,” katanya. “Bagaimana dengan ide ini? Saya melihat yang menjadi ciri khas di Makassar adalah pisang epe. Mereka jangan hanya bisa berjualan tapi juga dapat meningkatkan kualitas dan citarasa jualannya. Mereka harus berlomba menjadi yang terbaik. Semangat itu harus ditumbuhkan. Juga, mari kita membagi kegembiraan dengan mereka,” katanya.

Saya tahu maksudnya. Ia adalah manusia nyeleneh yang penuh ide. Ide untuk diri sendiri juga orang lain. Pak Teler memang unik. Kalau berbicara, seluruh anggota tubuhnya seakan tertawa. Terkadang di belakang namanya ditambahi MBA. Bukan Master Business Administration, tapi Manusia Bisnis Asal-asalan. Malah ada fotonya yang mengenakan toga. Maksudnya untuk lucu-lucuan. Tapi ia ke mana-mana sering menyebut dirinya sebagai orang bodoh. Ketika sekolah dulu, dari 50 murid, ia dua terbaik dari belakang. Seorang yang terakhir, itu pun sakit-sakitan dan jarang masuk sekolah.

“Ide saya masih banyak,” katanya selalu. Semua bertujuan memberi spirit bagi masyarakat kecil. Museum Rekor Indonesia (MuRI) malah mencatatnya sebagai pemegang rekor MuRI untuk pencipta rekor MuRi terbanyak di dunia. Tidak tanggung-tanggung, rekor MuRI yang telah ia catat sebanyak 18.

Suatu hari ia mengabarkan tengah berobat di Singapura. Pemeriksaan rutin, katanya. Lebaran kemarin ia menelepon dari Melbourne, Australia, berlibur, melakukan penjajakan, sekalian menyerap ide. “Awal tahun nanti, kita bikin acara heboh di Makassar,” katanya.

Suara hiruk-pikuk musik rock membuat pembicaraan kami terganggu. Ia tetap bersemangat mengutarakan idenya. Gus Dur, Hermawan Kartajaya, Rhenald Kasali, Pangdam VII Wirabuana telah memberi respon, katanya. Tapi perkataan terakhirnya terdengar lain meski sudah berulang-ulang ia sampaikan. Ia mengatakan: bila kelak meninggal dunia, ia ingin memberikan warisan bagi bangsa dan negara ini. Saya tidak berpikiran apa-apa dan mengatakan bahwa itu sangat mulia. Semua orang punya keinginan dan impian.

Selasa siang, 10 Desember, seusai rapat, saya diperlihatkan koran nasional oleh seorang kawan. Salah satu halaman  koran itu termuat foto Pak Teler dengan tawa khasnya. Sebuah iklan duka-cita setengah halaman. Isinya: Senin, 9 Desember 2007, Pak Teler meninggal dunia.

Kalimat pada iklan itu membuat saya beberapa saat terpaku. Kematian ternyata hanyalah angin. Masih terngiang ketika Pak Teler menelepon pada suatu siang yang bising: bila kelak saya meninggal dunia….  Makassar, 15 Desember 2007

~ oleh alimdjalil di/pada Desember 18, 2007.

Tinggalkan Balasan