Seluruh Dunia di Makassar

Ketika kali pertama menginjakkan kaki di bangku SMA, dulu, Po’oh berkenalan dengan seseorang yang wajahnya sangat lugu. Lugu seperti tepung terigu yang ditaburkan di kue bayao pannyu.  Po’oh bertanya temannya itu tinggal di mana dan spontan dijawab: Burma!

          Po’oh mengerutkan dahi. “Burma? Di mana itu?”

          Biring utara Maccini!”

          Kawan itu sejak selesai kuliah di Unhas, mengadu nasib ke Jakarta. Sekarang sudah berkeluarga. Po’oh dengar kawannya itu bekerja di salah satu perusahaan otomotif. Ia yang mendesain jok dan bagian dalam kendaraan. Hebat dia.

Baru-baru ini mereka bertemu di Masjid Raya Makassar. Teman Po’oh  itu lantas bertanya, “Sekarang kamu tinggal di mana?”

Spontan Po’oh menjawab, “Timor Leste!”

Kawan Po’oh terperangah. “Hah, yang benar?!”

“Timor Leste,  Tidung Mariolo lewat sedikit Hertasning!”

Kawan itu meninju bahu Po’oh. “Sekarang saya tengah mengunjungi ibu yang tinggal di Uganda.”

“Apa itu?”

Ujung Gang Dangko!”

Setelah bertemu kawan tersebut, Po’oh teringat singkatan-singkatan nama tempat yang cukup khas di Makassar. Entah siapa yang demikian kreatif menciptakannya. Po’oh suka itu. Inilah antara lain yang membuatnya teramat mencintai kota ini. Di balik watak  keras warganya, terselip kreativitas yang dapat memancing senyum.

  Po’oh sudah meninggalkan Masjid Raya. Ia melambaikan tangan kepada kawan yang hebat itu dan mengisyaratkan agar mereka saling kirim kabar. Menyusuri Jalan Masjid Raya, Po’oh teringat kawan SMA yang lain, tinggal di sekitar situ. Badannya tinggi besar, sebagian teman kurang ajar menyebutnya lotong. Dulu temannya itu selalu mengatakan tinggal di Jakarta, Jalan Kandea RT A  ternyata.

Sekarang Po’oh mengarahkan kendaraan ke Jalan Urip Sumoharjo. Inilah kawasan Prancis, Perempatan Maccini Selatan. Beberapa kawan sekolahnya, jurusan SMA 5 dulu, kalau turun dari mikrolet ada yang berteriak, kiri Depok. Itu artinya Depan Pongtiku. Ada juga yang berteriak, Blok M, belokan Maccini.

Panas kian menyengat di luar sana. Kendaraan berebut jalan. Mikrolet tak mau kalah. Terutama jurusan Daya. Untung jalur agak lancar. Beruntung pula mahasiswa tidak demo di kantor dewan.

Mikrolet masih bertumpuk di depan Po’oh berebut jalan. Inilah persaingan hidup. Banyak penumpang yang wajahnya cemberut. Pasti nanti di antara mereka ada yang turun di Belanda, Belakangnya Daya. Sebagian dari mereka mungkin kuliah di Udayana, Ujungnya Daya sana. Terus ke sana akan lanjut ke Swis, sekitar wilayah Sudiang. Kemungkinan pula di antara penumpang itu ada orang Sidney, Sidrap niye. Atau penumpang yang akan turun di dekat PLTU untuk melanjutkan perjalanan ke Kamboja, Kampung Borongjambua. Jangan-jangan di antara mereka ada yang keturunan Libanon, Limbung Bontonompo. Libanon yang terdapat di Bogor, Bontonompo Gowa Raya,  yang punya ikatan kekerabatan dengan orang Senegal, Serikat Nelayan Galesong.

Po’oh tersenyum sukacita. Di kotanya sudah berseliweran orang luar negeri. Juga dari kota lain. Ada dari Paris, Parang tambung dan sekitarnya, Cilacap, Cilallang cappa dan banyak lagi.

Sekarang Po’oh sudah melewati gedung DPRD Sulsel. Tak terasa ia sudah berada di sekitar Brasil, Barawaja samping Tol. Sebentar lagi tiba di kantor. Dengan hanya melintasi beberapa ruas jalan di Makassar, rasa-rasanya ia telah melintasi seluruh dunia.

 

Makassar, 11 Juli 2008.

Bila Menyebut Makassar

Pengalaman ini sudah sering saya ceritakan. Baik lewat tulisan maupun bincang-bincang ringan. Pada 1992 saya menjaga kakak laki-laki saya  – sekarang sudah almarhum —, ketika dirawat di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, lantaran tumor otak. Pengalaman ini menyadarkan saya bagaimana gambaran yang sudah tertanam di kepala orang luar tentang sebuah wilayah bernama Makassar.

Hari pertama saya datang, seperti biasa kami berkenalan. Keluarga pasien yang sudah lama, bertanya kepada orang baru. Perkenalan itu juga untuk berbagi rasa. Sama-sama tengah menghadapi persoalan berat dan perlu untuk berbagi agar beban yang dihadapi berkurang.

Salah seorang ibu bertanya kepada saya. Ia menanyakan siapa yang sakit dan apa penyakitnya. Ini tentu pertanyaan yang biasa. Termasuk ketika ia menanyakan kota asal saya. Saya menyebut Ujungpandang. Ibu itu terdiam lama. Malah tidak melanjutkan pertanyaannya. Giliran saya bertanya, ibu itu malah tampak enggan. Beberapa keluarga pasien terlihat kurang nyaman. Saya menangkap kegelisahan di wajah mereka.

Di depan Ruang Perawatan Syaraf para keluarga pasien menunggu. Mereka mengalas tikar dan tidur-tiduran di situ. Pasien ada di dalam. Saya melakukan hal yang sama, mengalas tikar plastik gulung di sudut, agar tidak terlalu repot untuk melangkah ke toilet. Saya ada di antara mereka, sandar di tembok sembari meluruskan ke dua kaki. Ibu yang tadi ada di sudut lain.

Malam harinya saya bersiap-siap untuk tidur. Beginilah hari-hari yang akan saya jalani selama proses perawatan kakak saya. Beberapa keluarga pasien yang juga sebagian besar berasal dari kota lain seperti Medan, Batam, Semarang, Samarinda masih ngobrol. Ada juga yang terlihat bengong dan memilih berdiam diri. Saya tak kuat lagi, akhirnya tertidur.

Dini hari ketika terbangun, saya melihat tempat di sekitar saya kosong. Keluarga pasien tidur saling rapat-bertumpuk di sudut yang lain. Sangat jauh dari saya. Mereka tidur dengan menjadikan tas bawaan sebagai bantal. Itu pun talinya dililitkan di tangan.

Saya menyadari, sepertinya ada yang “tidak beres” dengan diri saya. Saya menyadari, keberadaan saya seakan “mengganggu” ketentraman mereka. Saya kemudian tahu, sikap mereka yang demikian lantaran saya berasal dari sebuah kota bernama Makassar.

Tahun lalu keponakan saya, cowok, dari Banjarmasin tamat SMA. Orang tuanya mengirim untuk melanjutkan sekolah di Makassar. Sejak hari pertama kedatangannya, teleponnya terus berdering menanyakan keadaan. Terutama dari ibunya yang orang Banjar. Juga kakek dan neneknya.

Saya amati, setiap ada berita  di televisi tentang kejadian di Makassar, sang ibu, kakek, dan nenek meneleponnya. Saya menyampaikan bahwa putranya baik-baik saja dan di Makassar tenang-tenang saja. Tapi mereka selalu merujuk, barusan lihat di televisi.

Anak itu tidak mendaftar di universitas. Ternyata ini saran dari ibunya. Alasannya mahasiswa di Makassar sering demo dan terkadang anarkis. Anak itu mendaftar di Pelayaran. Syukur ia diterima. Saya menyampaikan kabar gembira ini kepada orang tuanya. Tapi esok pagi, ketika bersiap-siap untuk mengantarnya mendaftar ulang, anak itu muncul dengan berurai air mata: ibunya meminta pulang.

“Kamu kan diterima?”

“Batal!”

“Lha, kenapa?”

“Ibu tidak tenang saya di Makassar!”

Saya menghubungi orang tuanya dan memberi jaminan bahwa putranya akan baik-baik saja di Makassar. Keputusan mereka sama, putranya harus kembali. Selama di Makassar, ia kurang tidur memikirkan keadaan putranya. Saya tidak mengerti, ada apa sesungguhnya dengan Makassar. Apa sebenarnya yang tertanam di kepala orang luar tentang Makassar. Siapakah yang menjadikan Makassar sebagai kota yang kesannya seperti itu?

 

Makassar, 4 Juli 2008

 

 

Lambat Loading

Acara di Balai Prajurit Jenderal M Jusuf malam itu dihadiri ratusan siswa se-Makassar. Gegap gempita. Soal sebentuk gerakan mulia – gemar membaca. Po’oh hadir di sana, menikmati acara yang diperuntukkan para siswa kreatif dan berprestasi. Ia sungguh bersemangat berada di tengah generasi harapan bangsa tersebut. Ia merasa ditulari semangat siswa itu. Perasaannya seperti anak SMA lagi.

Melihat kreativitas mereka, Po’oh diam-diam merasa cemburu ada acara siswa digelar di tempat yang cukup berkualitas. Berbeda dirinya dulu, paling heboh kegiatan siswa dilakukan di aula sekolah. Itu pun aula yang penuh debu, banyak sarang labalaba, serta tumpukan bangku rusak. Beruntung siswa sekarang, punya banyak kegiatan untuk menyalurkan bakat mereka. Tidak seperti dirinya, tidak mempunyai sarana memadai untuk melakukan kegiatan.

Beberapa rangkaian acara berlalu dengan penataan yang cukup apik. Berikutnya siswa berprestasi diadu soal pengetahuan umum. Pertanyaan diajukan walikota dan tokoh lain. Misalnya tentang makna lambang Kota Makassar, pertanian yang tumbuh di perkotaan, dan lain-lain. Semua pertanyaan dijawab dengan lancar. Po’oh kagum kepada mereka. Berkali-kali ia bertepuk tangan. Anak sekarang memang hebat-hebat. Ini karena bacaan mereka yang cukup banyak. Di sini terlihat, siswa yang banyak membaca, pengetahuannya pun akan bertambah.

Berikutnya, pertanyaan diajukan seorang pelaku ekonomi yang ada di Makassar. Pertanyaannya, menurut Po’oh, sangat gampang: sebutkan salah satu judul sajak Khairil Anwar. Mendengar pertanyaan itu, Po’oh membatin akan segera dilahap para siswa pilihan itu.

Beberapa jenak setelah pertanyaan itu diajukan, Po’oh melihat tak ada siswa yang unjuk jari. Mereka terlihat bingung dan berpikir keras. Po’oh kecele. Ia tidak menduga para siswa yang masuk final itu tak satu pun mengetahui sajak Khairil Anwar. Ia tak menduga, pertanyaan yang menurutnya teramat mudah tak seorang pun yang menjawabnya.

Po’oh seakan lemas di tempat duduknya. Ia bertanya dalam hati bagaimana pengetahuan sejarah dan sastra yang diajarkan di sekolah sekarang? Bila membandingkan dirinya dulu, soal sajak sudah diperkenalkan sejak sekolah dasar. Ia sudah mengenal Aku dan Kerawang-Bekasi berikut menghapal isinya sejak dini. Ketika SMA, nama dan sajak Khairil Anwar sudah di luar kepala. Bagaimana pula sastrawan berikut karyanya yang lain, tentu semakin asing bagi siswa itu.

Diam-diam Po’oh merasa sedih atau boleh jadi kecewa. Khairil Anwar adalah bagian dari sejarah negeri ini, terutama di bidang sastra. Karyanya banyak dikutip dan diperbincangkan. Karena beberapa siswa terpilih yang mewakil masing-masing sekolah itu tak ada yang mengenal Khairil Anwar, Po’oh menarik kesimpulan sepihak bahwa pendidikan sejarah khususnya karya sastra di sekolah-sekolah mulai diabaikan. Atau minat siswa terhadap karya sastra memang kurang? Po’oh yakin mereka hapal luar kepala bila ditanya tokoh Katos dalam game God of War atau Dante dalam Devil May Cry. Tapi, bukankah mereka para siswa yang gemar membaca?

Melihat gambaran siswa tersebut soal pengetahuan sejarah bangsanya, Po’oh teringat iklan di televisi yang masih sering tayang sekarang. Iklan itu menggambarkan salah satu kelas dan pak guru tengah memberikan pelajaran sejarah. Tampaknya iklan itu juga menggambarkan siswa di wilayah timur negeri ini.

Pak guru mengajukan pertanyaan. “Kapan terjadi Perang Diponegoro?”

 Siswa yang ditanya garuk-garuk kepala. Bingung minta ampun. Dia juga terlihat lambat loading. Karena pertanyaan itu sulit dijawab, pak guru memberi jawaban bahwa Perang Diponegoro pada 1825-1830.

Mendengar jawaban tersebut, siswa itu seketika berucap, “Lha, itu kan sesudah azan magrib, Bapa!”

Mengingat itu, mengingat siswa yang tidak bisa menjawab pertanyaan soal sajak Khairil Anwar, Po’oh merasa ada yang kurang. Ia meninggalkan balai itu dengan perasaan yang sedih sekali.

 

Makassar, 27 Juni 2008.

 

Sungguh Terlalu

Manusia yang sadar mempunyai potensi lantas tidak menggali potensinya maka ia akan menjadi ampas. Saya lupa siapa yang pernah mengungkapkan kalimat itu. Atau jangan-jangan saya sendiri. Tapi yang jelas, manusia ditekankan untuk berusaha, mewujudkan kehidupan yang lebih baik dan berkualitas.

          Berusaha yang dimaksud adalah dalam bentuk melakukan sesuatu. Bukan berusaha diberikan sesuatu. Berusaha adalah perpaduan kemauan, gerak, impian, harapan, sistem, dan doa. Saya juga siapa yang pernah mengungkapkan hal ini. Jangan-jangan saya sendiri. Tapi yang jelas, sisi kelemahan manusia adalah ketika ia lebih banyak mengharap untuk diberi.

          Masyarakat kita dalam tatanan bernegara selalu memposisikan diri untuk diberi. Padahal ini adalah tanda kemunduran suatu negara. Masyarakat kita cenderung lemah mental dan semangat. Saya lupa siapa yang pernah mengatakan hal itu, tapi yang jelas bukan saya. Saya hanya sadar, sekarang bantuan, subsidi yang diberikan kepada masyarakat itu cenderung menjadikan mereka bermental pemalas dan bukan lagi petarung.

          Sungguh terlalu.

          Ada kisah seperti ini. Seseorang pria suatu hari menggali lubang sampah di belakang rumahnya. Kurang-lebih satu setengah jam menggali, ia kaget bukan kepalang lantaran menemukan harta peninggalan berupa guci, keramik, dan permata. Kalau benda itu diuangkan, nilainya cukup besar.

          Kabar gembira itu serta-merta ia sampaikan kepada tetangganya. Berbondong-bondonglah para tetangga mendatangi dan melihat galian tersebut. Mereka terkagum-kagum. Berdecak-decik. Peninggalan itu cukup banyak dan tentu sangat bermutu.

          “Saya merasa masih banyak benda lain yang tertanam di bawah. Tempat ini ternyata menyimpan harta yang berlimpah. Kalian silakan menggali. Masing-masing yang kalian dapatkan, itu menjadi milik kalian,” ujar pria penggali tersebut penuh semangat. Ia berharap kehidupan para tetangganya akan tertolong dengan harta peninggalan tersebut.

          Para tetangga itu hanya berdiri di sekitar lubang. Sebagian jongkok tak tahu mau bikin apa. Lainnya bercerita satu sama lain tentang bagaimana mendapatkan harta tersebut. Teknik apa yang mereka gunakan. Dari sudut mana mereka mulai menggali. Berapa potensi harta peninggalan itu sekarang, dan seterusnya.

          “Ayo, mari kita menggali. Lakukanlah! Lakukan!” seru pria itu lagi kepada tetangganya.

          Mereka tak bereaksi. Hanya saling pandang.

          “Ayo, lakukanlah seperti saya!”

          “Tapi… kami mempunyai masalah,” ucap salah seorang di antara mereka. “Bagaimana cara kami menggali?”

“Ya, gunakan alat,” jawab pria itu. Ia mulai menekan-nekan sekopnya, mencari harta yang lain dengan penuh semangat.

“Masalahnya kami tidak mempunyai sekop dan cangkul,” ujar beberapa tetangga itu, hampir bersamaan.

          “Ya, kalian carilah.”

          “Masak kami akan menggali, sementara sekop dan cangkul tidak disiapkan? Masalahnya kami tidak mempunyai cukup uang. Bisakah kami semua dibelikan sekop dan cangkul?”

          Sungguh terlalu.

          Untung para tetangga itu tidak melanjutkan dengan mengatakan: “Tolong selama kami menggali nanti, jangan lupa di sekitar kami ditutupi tenda agar tidak kepanasan dan sekalian disiapkan makanan yang cukup dan air jeruk yang diiiiiiiingin sekali.”     

 

          Makassar, 21 Juni 2008.

 

 

Mau Khaled

 

SELALU  akan lahir manusia-manusia yang luar biasa di permukaan bumi ini. Manusia yang dapat mewujudkan maunya, melawan tantangan di dalam dirinya, menaklukkan tantangan di sekitarnya, menjadikannya lengkap.

Ada seorang pemuda yang luar biasa. Pada usia 10 tahun ia mengalami kecelakaan sehingga tangan kanannya harus diamputasi. Praktis ia butuh waktu beberapa lama untuk beradaptasi dengan mengandalkan tangan kirinya. Keadaan tersebut membuatnya sangat terganggu. Terlebih setelah cacat seperti itu ia mengalami pelecehan-pelecahan. Banyak kegiatan yang menolak keberadaannya. Ia merasa disisihkan.

Suatu hari ia berjalan di tepi Sungai Nil, Mesir. Banyak orang berenang di situ. Ia melihat semuanya cacat seperti dirinya. Ternyata khusus untuk klub penderita tunaganda. Pemuda itu merasa tidak sendiri. Ia memutuskan untuk bergabung. Malah, belakangan ia menunjukkan prestasi dan terpilih untuk ikut olimpiade khusus penderita tunaganda. Ia berhasil sebagai pemenang.

Pada 1981, ia mengambil keputusan yang luar biasa: ikut berlomba menyeberangi Terusan Mance atau Terusan Inggris. Orang yang mendengar itu tidak percaya. Itu keinginan konyol. Terusan Mance cukup ganas. Suhunya 3 derajat C. Ombaknya besar. Jarak tempuhnya 30 km. Dan yang paling utama, pemuda itu cacat. Hanya mengandalkan tangan kiri. Tubuhnya kecil. Bagaimana mungkin bisa berenang dengan sempurna? Maka saran umum yang dialamatkan kepadanya: lebih baik mengubur keinginan tersebut sebelum ia yang terkubur di Terusan Mance.

Tapi pemuda tersebut mempunyai mau. Ia menulikan telinga dari suara-suara yang meragukan kemampuannya. Di dalam dirinya selalu berkobar dorongan bahwa ia mampu melakukannya. Diam-diam ia tetap melakukan persiapan. Ia terus berlatih daya tahan dan kemampuan fisiknya. Penyelenggara lomba akhirnya menyerah, mau mengikutkan pemuda itu, dengan catatan, semua risiko ditanggung sendiri.

Pada 1982, berangkatlah pemuda itu ke Inggris. Ia mengikuti karantina selama enam bulan, melakukan latihan penyesuaian waktu serta memperbaiki kebugaran. Syarat yang ditetapkan penyelenggara waktu tempuh terendah peserta 3,5 km per jam. Pemuda itu cuma 3 km per jam. Pemuda itu tetap ngotot dan berjanji memperbaiki waktu tempuhnya.

Dua hari menjelang lomba, persoalan lain muncul. Telinganya mengalami pembengkakan. Ada benjolan yang menyebabkan sakit luar biasa. Pemuda itu tidak putus asa. Ia pergi ke dokter dan minta dioperasi. Operasi dilakukan. Dokter menyarankan agar selama satu minggu tidak melakukan aktivitas apa pun agar cepat sembuh. Artinya ia tidak bisa ikut lomba.

Tapi pemuda itu punya mau. Ia tetap bersikeras ikut lomba. Penyelenggara lagi-lagi menyerah. Pemuda itu tetap berlomba. Ia berenang dengan hanya mengandalkan tangan kiri karena tangan kanannya buntung, melawan suhu yang dingin, telinga yang perih lantaran air asin dikarenakan luka operasi. Ia melawan dirinya, melawan semua rintangan di sekitarnya, ia terus mengayuh dengan sebelah tangan, terus mengayuh sambil membayangkan tepian Terusan Mance.

Hari itu dunia seakan takluk oleh kemauan keras dan keteguhan seorang pemuda. Ia menjuarai lomba tersebut, mencatat waktu terbaik, mengungguli waktu peserta lain yang berbadan normal. Pemuda itu mencatat sebagai manusia tercepat dan manusia tunaganda pertama menaklukkan Terusan Mance. Pemuda itu bernama Khaled Hasan. Kisahnya dipaparkan secara gamblang oleh Dr Ibrahim Elfiky dalam buku Dream Revolution.

Berbeda jauh dengan diri kita, yang penuh keraguan, suka menunda, selalu memikirkan apa nanti kata orang, sehingga kita mengubur mau kita, meskipun itu dalam hal yang sederhana. Padahal  kita sempurna….

 

Makassar, 7 Juni 2008

 

 

N a s i b

Mereka tidak berdua. Berempat. Ada bayangan mereka yang terpantul samar-samar di danau buatan Kampus Unhas. Mereka tidak berempat. Berlima. Ada matahari yang mengintip di balik pohon sana. Mereka tidak berlima. Banyak. Di tengah sana, sekelompok mahasiswa asik mendayung sampan. Masih muda, enerjik, ceria, dan penuh canda. Sampan tua itu sewaktu-waktu bisa menenggelamkan mereka.

“Arah seseorang, tergantung siapa yang berada di depannya,” ucap Po’oh kemudian.

“Bukan tergantung siapa yang berada di sampingnya?” ralat kawannya.

“Bukan. Di depannya. Bagaimana di depan, seperti itu pula seseorang yang berada di belakangnya,” ucap Po’oh.

Pembicaraan “pengisi waktu” pada Maret 2008, sembari menunggu dosen pembimbing itu, mengambil tema tentang nasib. Bila seeorang menjadi komunitas yang tidak berdaya, lemah, miskin, apakah itu nasib? Apakah seseorang lahir dengan perangkat nasib yang sudah diperuntukkan baginya? Bila seseorang seperti apa adanya sekarang, apakah itu karena nasib yang sudah tergaris?

“Mengapa mesti di depan?” ujar kawan Po’oh.

“Karena kecenderungan seseorang, yang di depan selalu akan diikuti yang di belakang,” jawab Po’oh.

“Contohnya?”

“Bagaimana orang tuamu? Bagaimana kehidupannya, seperti itu pula kehidupanmu sekarang. Bagaimana orang yang selalu bersamamu, lingkunganmu, seperti itu keadaanmu sekarang. Kamu berada di komunitas mana, akan seperti itu pula kecenderungan langkahmu. Kamu berada di komunitas politik, kamu pun akan bergerak untuk menjadi pengamat politik atau pelaku politik – karena setiap hari pikiran dan waktumu banyak tercurah untuk komunitas tersebut,” jelas Po’oh.

“Apakah itu nasib?”

“Nasib bukan suatu peta yang tercetak sejak dulu. Nasib itu ditentukan oleh keadaan dan keputusan kita sendiri sehingga menjadikan peta itu berubah.”

Kawan itu terdiam.

Po’oh melanjutkan, “Seseorang itu harus berani berbelok, melompat, tidak mengikuti seseorang yang berada di depannya. Seseorang harus berani mengambil keputusan untuk mengubah keadaan dirinya sekarang. Berusahalah besar tanpa bayang-bayang dari orang besar. Melompatlah dengan dirimu sendiri. Melompatlah dari nasibmu sekarang.”

Mereka semakin banyak di tempat itu. Beberapa pria datang memancing. Lainnya nongkrong sembari melemparkan pandang ke danau.

“Sekarang, apa yang kamu inginkan?” tanya kawan Po’oh.

“Bertemu dosen pembimbing. Dikatakan nasib bila kita berada terus-menerus berada di sini, berharap, cuma menunggu kedatangannya. Maka yang harus kita lakukan adalah pindah dari sini, beranjak dari sini, mencarinya, sampai ketemu. Kita pasti akan mendapatkannya.”

 

Makassar, 31 Mei 2008

Pampang

Waktu masih kecil, di kampung, saya pernah aktif di salah satu perguruan pencak silat. Bukan karena kemauan sendiri tapi ikut-ikutan teman. Saya tidak mau dia “berilmu” tinggi, sementara saya tidak. Saya tidak mau ia dapat mematahkan balok sedangkan saya hanya kerupuk. Pokoknya saya tidak mau kalah. Alhasil ia dapat mencapai sabuk hijau, saya mentok di sabuk putih.

          Suatu hari kami melakukan ujian kenaikan tingkat. Kalau dihitung-hitung kami berjalan hampir mengelilingi tiga kecamatan di Ujungpandang ketika itu. Capek sekali. Salah satu rutenya, menyeberangi Sungai Pampang yang dulu masih berawa dan banyak ditumbuhi pohon nipa. Di sinilah masalahnya. Di sinilah sabuk saya tetap berwarna putih.

Semua teman – termasuk beberapa anak cewek — sudah berada di seberang. Tinggal saya seorang. Saya tidak bisa berenang soalnya. Saya ragu. Beberapa teman saya memanggil dan menyemangati. Guru saya juga sudah memberi aba-aba agar saya berenang.

Hupf! Saya menceburkan diri masuk sungai. Kalau tidak, saya hanya terpaku di pinggir sungai. Dua-tiga meter bergerak, selebihnya gerakan tangan saya jalan di tempat. Bukan mengapung tapi malah masuk ke dalam sungai. Saya tak bisa bernapas. Saya tenggelam. Benar-benar blup-blup. Masih terdengar tawa teman saya. Mereka pasti menyangka saya berpura-pura tenggelam. Saya tak bisa berkata apa pun. Dada saya terasa penuh. Air sungai melewati tenggorokan tanpa terkontrol. Rongga hidung saya perih. Ribuan duri seakan menusuk rongga hitung dan permukaan kepala saya. Dunia mulai berwarna-warni.

Barulah satu per satu teman saya melompat dan menolong saya. Tiba di pinggir sungai saya gugup – juga malu sekali. Lebih malu lagi karena bukannya mereka prihatin, justru menertawai saya. Malah ada yang mengatakan kalau bukan dia yang melompat duluan, entah apa yang terjadi pada saya. Saya bersyukur dapat tertolong tapi dalam hati saya sedih sekali.

Bertahun-tahun insiden Pampang menjadi pembicaraan di antara kawan-kawan saya. Setiap bertemu mereka selalu mengungkit itu. Juga bagaimana mereka berusaha menolong saya. Saya merasa diledek. Mereka tentu tidak bermaksud apa-apa tapi dalam hati saya merasa kecil sekali – benar-benar hanya bisa mematahkan kerupuk.

Saya terlalu cepat berputus asa karena sejak insiden itu, memutuskan untuk meninggalkan perguruan pencak silat tersebut. Teman-teman meneruskan latihannya hingga mencapai sabuk warna-warni. Ada yang mewakili daerah bertanding silat. Ada juga yang mendapatkan medali.

Saya malu mengenang hal itu: Pampang, sungainya yang banyak ditumbuhi pohon nipa, tenggelam —  ketika menonton film yang sudah cukup lama. Dalam salah satu adegan, Instruktur selam Bill Sunday membangunkan seorang negro, Carl Basson yang bercita-cita menjadi penyelam negro pertama di Angkatan Laut Amerika. Dinihari yang dingin negro itu dibangunkan, disiram air seember kemudian diseret ke sebuah bak air. Kepala negero itu dibenamkan ke bak, megap-megap, nyaris kehabisan napas. “Inilah cita-citamu!” ejek sang instruktur.

Instruktur Bill seakan mengatakan bahwa seseorang itu harus mempunyai cita-cita, tidak gampang menyerah, dan kita mengejarnya dengan perasaan “teramat ingin”. Seperti di dalam air dan kita teramat ingin segera dapat bernapas.

Setiap melihat Sungai Pampang, saya teringat kejadian waktu kecil dulu. Ketika saya merasa menjadi manusia yang tidak berharga: lemah, tidak mempunyai tujuan, ikut-ikutan, dan lari dari sesuatu yang sepele.

 

Makassar, 11 April 2008.

         

 

 

 

Pelontos

Seorang karib yang sudah teramat lama tidak bersua, pada sepotong subuh mengirim pesan singkat bahwa ia telah menggunduli kepalanya sebagai bentuk rasa syukur. Syukur atas kemenangan yang berpihak suara rakyat. Saya juga bersyukur ternyata karib itu masih mengingat saya . Paling tidak bahwa kami berdua ada.

Saya banyak belajar darinya tentang memegang sebuah prinsip, konsistensi, kejujuran, kepolosan, pengorbanan, kerelaan, persaudaraan, dan pertemanan. Tentu saja sebagai manusia, ada beberapa prinsipnya yang berbeda dengan pemikiran saya. Tapi secara utuh, saya teramat salut kepadanya.

“Tapi rasa syukur, mengapa mesti dengan pelontos?” demikian saya membalas pesan singkatnya.

Sekitar lima menit, tujuh, 10,  saya tidak mendapat balasan. Padahal saya sudah membayangkan akan mendapatkan jawaban yang taktis seperti kebiasaannya. Saya berpendapat, mencoba meraba pendapatnya, pelontos adalah sesuatu yang tidak mempunyai alasan. Atau, tidak menjawab pertanyaan sudah merupakan suatu jawaban.

Kurang-lebih 15 menit, saya mendapatkan balasannya. Ia menekankan perbedaan gundul artis dengan awam. Lagi-lagi sesuatu yang tidak saya duga. Gundul artis berujung popularitas, gundul awam adalah kerelaan. Tapi sesungguhnya saya menangkap rasa syukurnya — setelah sekian lama terbebani menunggu kemenangan suara rakyat itu.  Siapa pun berpendapat, orang sabar sekali pun, menunggu itu berat. Maka wajar bila salah satu pengungkapan sederhananya adalah dengan pelontos.

Saya langsung mengirimkan pesan singkat lagi. “Dalam The Secret disebutkan bahwa apa yang kita dapatkan hari ini adalah apa yang kita pikirkan beberapa waktu lalu. Tapi hati-hati saja karena buku tersebut sama sekali tidak melibatkan kekuatan doa dan peranan Tuhan.”

Sembari menunggu balasan pesan singkatnya, saya tergelitik dengan pelontos. Saya coba mengaitkan melihat sesuatu “ke depan” dengan apa yang dilakukan saat ini secara sederhana. Hari ini kita mencukur janggut, ke depan wajah kita akan bagaimana. Hari ini kita operasi lasik, ke depan penglihatan kita bagaimana. Hari ini kita melangkah ke kiri, ke depan akan tiba di mana.

Lantas pelontos? Hari ini kita pelontos, ke depan segala yang membebani pikiran, keruwetan, kesumpekan, gatal-gatal, tidak mengganggu hari-hari kita. Setelah pelontos, kita menginginkan kejernihan demi kejernihan mengisi kepala kita. Juga agar terlihat lebih segar dan dinamis. Itu cuma.

Hanya saja, masing-masing orang melihat ke depan dengan cara yang berbeda. Ini wajar karena setiap manusia sempurna dengan berbagai perbedaan. Belum lagi perbedaan kata hati, maksud hati, suara hati.

Perbedaan itu adalah jarak tertentu dari persamaan. Maka wajar bila ada perbedaan. Seumpama ada tiga orang yang berdiri di balik jendela yang sama, biasanya melihat hal yang berbeda. Ada yang tertarik untuk melihat lalu-lalang kendaraan, ada mungkin rumput, satunya lagi langit biru. Kalau Anda berada di antara mereka, boleh jadi Anda justru hanya memandangi secara pelontos tingkah mereka bertiga.  

  Makassar, 28 Maret 2008. 

Trump dan Durian

Dalam salah satu wawancara di televisi, Donald John Trump, lahir 14 Juni 1946 di Quenns, New York, menceritakan bagaimana sehingga ia bisa menjadi manusia sukses seperti sekarang. Seperti biasa, cerita sukses selalu menarik perhatian. Apa lagi tokoh sekaliber Trump, seorang pengusaha konstruksi dan pemilik perusahaan hiburan yang terkenal seperti Miss Universe, Miss USA, dan Miss Ten USA. Termasuk Taj Mahal Casino adalah miliknya. Acara tersebut ditonton jutaan pemirsa karena selalu menampilkan tokoh dengan latar belakang yang spesial.

Pembawa acara lantas mengajukan pertanyaan yang menarik. “Mr Trump, bagaimana kalau bisnis Anda jatuh, apa yang akan Anda lakukan?”

Mendapat pertanyaan tersebut, dengan tenang Trump menjawab, “Saya akan menjadi pelayan di hotel.”

Spontan, penonton yang ada di studio dan jutaan lainnya di rumah, tertawa keras mendengar jawaban itu. Trump akan menjadi pelayan hotel? Bagi mereka itu tindakan lucu dan sangat menggelikan.

Menanggapi reaksi penonton yang tertawa, dengan tenang Trump mengatakan sambil tersenyum, “Itulah perbedaannya, mengapa sehingga Anda tetap berada di sana dan saya duduk di sini.” Sebagian penonton terdiam.

Ucapan Trump sangat mengena. Sebagian lagi bereaksi dengan tetap tertawa karena jawaban itu tetap dianggap lucu. “Saya ingin melakukan pekerjaan apa saja, sementara Anda cenderung pilih-pilih dan malah lebih sering meremehkan, menganggap enteng apa yang dilakukan orang lain. Karena itu, Anda akan tetap menjadi penonton yang hanya dapat tertawa, saya akan menjadi figur yang duduk di sini,” ujar Trump. “Andaikan kehidupan ini dapat diulang, Anda akan tetap menjadi penonton seperti ini, terus seperti ini, karena kelebihan Anda adalah hanya bisa tertawa.”

Dalam buku “How to Get Rich”, Trump mengisahkan dirinya pernah sangat menderita. Ia pernah stres berat. Bayangkan, hutangnya mencapai USD90 miliar! Namun berkat kerja keras, tidak memandang remeh setiap usaha, kehidupannya perlahan-lahan berubah. Sekarang namanya sudah merupakan “jaminan produk berkualitas”.

Apa rahasia sukses Trump? Ketika pewawancara mengajukan pertanyaan itu, dengan senyum khas Trump menjawab. “Ada juga pada dirimu. Mimpi! Perbesar impian dan keinginanmu maka kamu akan menjadi besar pula.”

Saya telah berulang-ulang mendengar dan membaca kisah Trump. Selalu ada hal yang baru. Biasanya setelah itu saya berputar-putar di kota ini. Melihat banyak penjual buah. Ada durian, sukun, rambutan, dan sirikaya. Juga orang yang nongkrong menghabiskan waktu. Penjual itu sebagian ada yang sudah saya kenal wajahnya. Setiap musim buah, mereka datang ke kota ini, memilih lokasi yang sama tahun lalu. Demikian pula tahun sebelumnya.

Mengingat Trump, tahun ke tahun impian yang mereka bangun hanya sebatas menjual durian setiap musim. Tak ada upaya dan keinginan untuk memperluas dan meningkatkan usahanya. Mereka masih punya peluang. Kesempatan untuk lebih berkembang tetap terbuka. Tapi itu tadi, impian yang mereka bangun sudah telanjur kecil dan sederhana.

Jangan-jangan kita juga seperti itu. Tidak punya impian lagi. Atau telanjur tidak yakin, bahwa impian itu dapat diwujudkan.

Makassar, 15 Maret 2008

Tawa Penonton

Seorang kawan Po’oh di pasca mengaku mempunyai seorang kawan yang sangat butuh pekerjaan tambahan. Kawannya itu seorang honorer di perusahaan milik pemerintah. Namanya kerja honorer tidak punya jaminan hidup – sewaktu-waktu dapat dikeluarkan. Biaya hidupnya tinggi. Anaknya banyak, untung istrinya satu. Tapi mereka juga perlu dihidupi. Karena itu perlu pendapatan tambahan.

“Mungkin ada kenalan sehingga dia dapat dipekerjakan apa,” kata kawan Po’oh prihatin.

“Keahliannya apa?” kejar Po’oh.

“Macam-macam. Listrik boleh, ledeng boleh, nyupir boleh.”

Po’oh menyatakan ingin bertemu dengan teman kawannya itu.

Bertemulah mereka di sebuah warung kopi. Mereka berbasa-basi sejenak kemudian masuk ke pokok persoalan. Teman kawan Po’oh yang bermata tirus dan perokok berat itu bercerita tentang dirinya. Sifat manusiawi seseorang, suka menceritakan diri sendiri.

“Sehari habis berapa bungkus?” Po’oh memulai.

“Dulu lima sekarang dua,” ujar lelaki tirus itu. Terkesan kalem tapi sesungguhnya ia coba membanggakan bahwa dirinya seorang “perokok berat”.

Po’oh tersenyum, berusaha mengatur napas agar sisa asap rokok lelaki itu tidak terhirup ke paruparunya. “Sudah berapa lama merokok?”

Sejak SD, sejak sekitar 30 tahun yang lalu,” jawabnya. Kali ini lelaki itu seakan tidak bisa menyembunyikan perasaan bangganya.

Po’oh memperlihatkan raut wajah dengan sepasang mata melotot. “Waow, benar-benar paruparu asbak,” serunya.

Lelaki itu malah terlihat senang. Wajahnya sumringah. Ia ikut tertawa sehingga tampak sebagian giginya yang cokelat kehitaman. Ia menceritakan bagaimana dirinya tidak bisa berbuat apa-apa tanpa rokok. Lebih baik tidak makan daripada tidak merokok.

Pembicaraan beralih ke soal pekerjaan dan mulai menyerempet kebutuhan hidup. Lelaki itu mulai terlihat gelisah. Kayaknya ini tema pembicaraan yang tidak nyaman baginya. “Hidup ini harus dijalani apa adanya. Jangan terlalu ambisius. Bisa-bisa malah korupsi,” katanya.

“Hidup ini justru tidak apa adanya,” sanggah Po’oh pelan. ”Harus kita rebut peluang yang sudah ditebar Sang Pencipta. Kita berdiam diri, malah tidak mendapatkan apa-apa. Hidup ini adalah pertaruhan dan pilihan bagi para pengambil risiko. Hidup justru akan menjadi ladang penyiksaan bagi para pecundang dan pengecut,” beber saya.

Kawan Po’oh tampak merasa tak enak. Temannya yang perokok itu juga demikian.

“Kawan saya ini memulai pertaruhan hidup dengan mengambil risiko sebagai penjual pulsa. Sekarang ia sudah memiliki gerai penjualan henpon. Sebentar lagi gerainya bertambah. Saya yakin akan terus berkembang. Ia menghilangkan egonya untuk mengais rezeki yang ditebar. Tidak ada gengsi untuk berburu sukses,” cerocos Po’oh. 

Sejenak diam. Teman kawan Po’oh yang perokok itu sibuk mengutak-atik henponnya. Seakan-akan menghubungi seseorang. Berulang-ulang.

“Ini juga pertanyaan bagi diri saya,” ucap Po’oh, “apakah kita mau mengambil risiko seperti dia? Atau nyali kita hanya bisa menjadi penonton, yang menertawakan dan meledek apa yang dilakukan orang lain? Atau kita hanya menjadi penonton, sementara orang lain terus melaju menuju sukses?”

Teman kawan Po’oh menghisap rokoknya dalam-dalam. Tertawa-tawa.          

Makassar, 6 Maret 2008.