Ringan Langkah

•Februari 6, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Sembari membolak-balik halaman koran Fajar di rumah, saya menerima SMS dari seseorang. Isinya: Pak, saya PNS di Unhas meninggalkan pekerjaan saya beberapa jam, sudah izin atasan. Saat ini saya menunggu dibukanya kantor lurah. Sudah sekitar setengah jam menunggu belum buka, padahal sebelum ke sini  sudah konfirmasi atau deal dengan staf lurah. Di kantorku saya memberi pelayanan prima karena itu ibadah.

Saya tertegun membacanya. Saya membayangkan bagaimana ia menunggu di kantor pemerintah, seperti beberapa kejadian yang pernah saya alami, sementara pegawai belum datang. Ada perasaan kesal. Tapi tidak tega juga untuk menumpahkannya. Saya membalas SMS-nya dengan mengatakan agar ia bersabar dan semoga urusannya berjalan lancar.

Sekali lagi SMS itu saya baca. Kalimat terakhir yang menyebut pelayanan prima dan ibadah kembali membuat saya tertegun lama. Saya percaya setiap sesuatu ada tujuannya. Tuhan tidak menjadikan segala sesuatu sia-sia. Tidak sia-sialah sebutir pasir. Sebutir pasir tetap menjadi bagian terpenting dari sebuah gedung tinggi yang menjulang indah. Tuhan selalu punya maksud. Bahkan ada maksud pada telepon yang tidak terjawab, telepon genggam yang terlupa, hilang, atau SMS yang lama baru terkirim. Sesuatu yang terkadang kita tidak bermaksud apa-apa melakukannya, sesungguhnya ada maksud apa-apa bagi orang lain.

Saya menangkap bahwa pesan dari kalimat itu adalah beraktivitas dengan ikhlas. Bila ikhlas, yang bersangkutan tak akan merasa terbebani oleh apa, bagaimana, dan siapa pun. Ikhlas tidak akan teperdaya oleh janji muluk. Juga tidak akan terpengaruh godaan kedudukan. Seseorang yang ikhlas selalu merasa bahagia menjalankan aktivitas yang dia lakukan dan selalu berpikir untuk tidak menyusahkan orang lain. Seseorang itu juga, tentu, tidak pernah mengeluh.

Mengeluh? Seorang kawan pernah bertanya di facebook bagaimana agar dia bisa berkembang, tidak banyak mengeluh, dan menjalani aktivitasnya dengan gembira. Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya teringat SMS yang saya kutip di atas. Saya mengatakan sembari berharap apa yang saya katakan benar, bahwa satukan kerja dengan ibadah.

Bukankah kita sering menjumpai seseorang yang terlihat rajin beribadah tapi di waktu lain perbuatannya menyimpang dan mengkhianati pekerjaannya? Sebab, seseorang yang demikian, menempatkan ibadah di satu sisi dan kerja di sisi lain.  Dengan demikian dalam hidupnya, terkadang, ibadah jalan, penyimpangan dan penyelewengan juga tetap jalan. Di sisi lain beribadah, setelah itu korup. Bukankah ketika ada penyimpangan, saat itu juga akan menjadi beban? Sementara kehidupan ini seolah menempuh perjalanan jauh.

Saya meletakkan telepon genggam. Melontarkan napas. Isi SMS itu masih terngiang. Benar, kita mesti berjalan dengan ikhlas. Sebuah kalimat pernah saya jumpai dalam sebuah buku yang judulnya entah. Dalam menempuh perjalanan ini, ringankan beban Anda. Ringankan langkah kaki kita.

Makassar, 5 Februari 2010

Aku Kaya dan Miskin

•Januari 30, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Saya pernah menonton reality show salah satu televisi swasta yang menggambarkan seorang mahasiswi menumpang tinggal di rumah keluarga miskin. Untuk menghidupi keluarga itu, sang ayah menangkap biawak dan ular kemudian dijual ke pasar. Sedangkan sang ibu jualan keripik dengan berkeliling kampung.
Saya terpaku lantaran menyadari betapa berat bagi mereka untuk mendapatkan 1000 rupiah. Terkadang sang ayah mesti menangkap ular berbisa hingga malam hari. Digambarkan, suatu hari, dibantu mahasiswi itu, mereka berjalan keliling kampung menawarkan keripik. Hari itu mereka mendapatkan 15 ribu rupiah. Sang ibu tak kuasa membendung tangis lantaran baru kali itu jualannya banyak terjual. Biasanya, setiap hari, ia pulang lunglai dengan membawa paling banyak 3000 rupiah.
Tapi kehidupan yang terbatas itu membuatnya sabar dan tetap dapat tersenyum. Apa yang mereka lakukan setiap hari dijalaninya dengan ikhlas. Juga semakin mendekatkan mereka dengan Sang Pencipta.
Saya teringat kisah – lupa di mana pernah mendapatkan kisah ini – tentang keluarga Aku kaya yang pergi berlibur ke desa untuk mengetahui kehidupan keluarga miskin. Pada hari libur berangkatlah mereka sekeluarga ke sebuah desa yang penduduknya dihuni sebagian besar orang miskin. Melihat kehidupan yang serba kekurangan, pasti mereka sangat tidak nyaman dan penuh penderitaan.
Aku kaya ini mendekati seorang petani yang tengah beristirahat mencangkul sawah. Ia kemudian mengajukan pertanyaan, “Bagaimana kamu menikmati kehidupan yang seperti ini?” tanya si Aku kaya polos.
Sembari tersenyum, si petani miskin itu berkata, “Kamu memiliki berapa ekor anjing di rumah?”
“Seekor. Jenis Golden Retriever, ” kata si kaya dengan bangga menyebut jenis anjing yang harganya mahal.
“Kami banyak. Juga berbagai jenis, berkeliaran di mana-mana,” ucap si petani tenang. Kemudian petani itu melanjutkan, “Kalian mempunyai taman yang kecil, mungkin terletak di depan atau belakang rumah, kami memiliki hutan, bukit, sawah, dan gunung yang mengelilingi rumah kami. Kalian mempunyai kolam yang panjangnya hanya beberapa meter. Kami memiliki sungai yang meliuk dan teramat panjang, airnya dingin dan jernih dengan ikan yang beraneka. Kalian memiliki lampu taman yang berasal dari luar negeri, kami memiliki bulan dan bintang-bintang untuk menerangi taman kami. Luas beranda kalian hanya sebatas halaman depan. Lihat beranda kami, sebatas horizon. Kalian tinggal di tanah sempit, kami sebatas mata memandang. Untuk menikmati makanan kalian harus membeli, sementara kami bisa menanamnya sendiri. Untuk melakukan sesuatu kalian membutuhkan pelayan, kami sanggup melayani diri kami sendiri….”
Si Aku kaya itu tidak mendengar apa-apa lagi. Ia tertunduk menyadari bahwa sesungguhnya ia teramat miskin. Apa yang saat ini dimilikinya tidak berarti apa-apa dibanding yang “dimiliki” petani miskin  itu.
Saya pun tertunduk melihat senyum sang ayah di televisi itu, setelah beberapa ular yang ditangkapnya terjual. Mereka sungguh kaya….
Makassar, 30 Januari 2010.

S e p e l e

•Januari 23, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Bandara Internasional Sultan Hasanuddin sudah kami tinggalkan. Sayup terdengar azan salat Isya. Sekarang memasuki jalan tol.  Hariyadi Jasim, pemilik hotel dan apartemen Dharmawangsa, Jakarta yang saya jemput bersama istri, berulang-ulang mengomentari perkembangan kota Makassar. Katanya, tidak menyangka Makassar akan sepesat ini pembangunannya. Teramat cepat seperti berlari.

Saya memacu kendaraan dengan kecepatan cukup. Istri saya menceritakan perkembangan terakhir kota ini. Hariyadi menanggapi antusias setiap cerita kami. Memasuki Jl AP Pettarani, saya bertanya, sebagai pemilik hotel yang sering digunakan elit politik melakukan pertemuan, bagaimana dia menyikapi bom Marriot II?

Dia menarik napas. Kemudian dengan sikap santun menjawab, “Saya merasa tidak enak sebab sebagian besar penghuni kamar di Marriot  kemudian pindah ke Dharmawangsa, hotel kami. Kami tidak bergembira karena itu. Kami sangat prihatin dan kejadian seperti itu semoga tidak terulang. Sungguh kasihan,” ucapnya sungguh-sungguh.

Hariyadi saya lihat terkaget-kaget akan lalu-lintas di Makassar. Motor menyalib dari kiri dan kanan. Sesekali dia melihat beberapa bangunan yang dilalui. Saya berpikir jangan-jangan dia tengah melihat-lihat lahan yang strategis untuk dibanguni hotel. Pebisnis kakap seperti dia tentu selalu menganggap segala sesuatu itu tidak sepele dan sangat sensitif terhadap setiap peluang.

Peluang? Soal yang satu ini, saya teringat motivator internasional dan penggagas Sekolah Tahan Banting, almarhum Paul J Meyer. Dia mengatakan darahnya seketika berdesir setiap ada peluang yang mendekat ke arahnya.

Meyer dalam bukunya Berbagi Keberuntungan kemudian menceritakan peluang yang pernah ia dapat hanya dengan melihat iklan kecil di sebuah surat kabar. Secara sepintas iklan itu tidak menarik. Tempatnya juga tidak menonjol. Tapi Meyer mencium ada sesuatu yang menarik sebab iklan itu menawarkan penjualan beberapa rumah mewah di sudut kota.

Seketika ia mengangkat telepon dan seorang lelaki tua, 80 tahun, menyahuti. Lelaki itu dipercaya sang pemilik untuk menjualnya. Meyer mencari tahu dan informasi-informasi sederhana tentang bangunan itu ia kumpulkan. Dia juga menjaga sikap bahwa apa yang dilakukan semata untuk membantu menjual. Bertahun-tahun kemudian bangunan itu dijual kepadanya dan dia mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari rumah mewah itu.

Kuncinya, demikian Meyer, selalu menganggap segala sesuatu itu penting. Jangan meremehkan sesuatu yang dianggap sepele. Terkadang sesuatu yang dianggap sepele itu, nilainya luar biasa.

Kembali ke Jl Pettarani. Hariyadi banyak bertanya tentang Makassar termasuk perkembangan properti. Dia teramat cermat menggali informasi dan tentu tidak memiliki kata sepele. Semua dia simak saksama.

Ah, saya menghela napas. Seperti kendaraan yang semrawut, mungkin telah banyak peluang yang mendekat atau menyerempet perjalanan saya. Tetapi tetap saja saya menganggapnya sepele.

Makassar, 23 Januari 2010

Sinar dan Zhang Da

•Januari 16, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Soal tanggung jawab dan berbakti kepada orang tua, saya banyak belajar dari kedua anak kecil ini: Sinar, enam tahun dan Zhang Da, 10 tahun. Keduanya seperti malaikat kecil yang diperlihatkan Allah Swt tentang cinta dan bakti kepada orang tua. Sinar tinggal di Desa Riso, Kecamatan Tapango, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Zhang Da di Provinsi Zhejiang, China. Sinar mengurus ibunya. Zhang Da ayahnya.
Si kecil Sinar tiba-tiba menghadapi kenyataan dirinya tanpa sesiapa di sebuah rumah yang tergolong kumuh bersama ibunya yang lumpuh tak berdaya. Sang ayah pergi ke Malaysia dan kabarnya tidak pernah terdengar. Peran yang begitu besar langsung dipikul Sinar, mengurus, membersihkan, mencuci, memasak, dan memenuhi segala keperluan ibunya.
Sepasang mata Sinar terkadang tidak berkedip ketika dari jendela melihat teman-teman sebayanya dengan bebas dan tanpa beban bermain di pekarangan sepulang sekolah. Sinar tak punya waktu seperti mereka. Sinar mesti menjaga ibu yang untuk bergerak pun susah — jangan-jangan mau minum, bergeser, membalikkan tubuh atau buang air.
Dalam kesendirian seperti itu, Sinar tentu sangat mengharapkan kepulangan sang ayah. Tapi ia bukan anak yang cengeng. Ia bisa mengambil tanggung jawab. Ia enam tahun tapi bisa menjadi tulang punggung. Ketika ditanya tentang ayahnya, Sinar tak lagi menangis. Ia tidak lagi mengenal apakah tangis adalah bentuk kesedihan, keharuan, atau apa.
Demikian pula kisah Zhang Da, yang saya dapat dari mailing list. Anak ini menerima kenyataan harus bertanggung jawab kepada bapaknya yang lumpuh dan sakit-sakitan. Sang ibu meninggalkan mereka lantaran tidak kuat hidup miskin dan mengurus suaminya. Dengan kondisi demikian, semua tiba-tiba bertumpu di pundak Zhang Da. Ia harus sekolah, mencari makan, mengurus bapaknya, juga menyiapkan obat-obatan.
Zhang Da bukan anak kecil yang lemah. Ia mengambil tanggung jawab untuk menghidupi ayahnya, juga dirinya. Rumah mereka terletak di pinggiran hutan kecil. Jauh dari keramaian. Sekolah Zhang Da di sebelah hutan itu. Ia bangun lebih awal, mengurusi ayahnya, membersihkan, menyiapkan keperluan, kemudian berangkat ke sekolah. Setiap hari ia melintasi hutan itu.
Dalam perjalanan, Zhang Da memunguti apa yang dianggap perlu. Ia juga mengisi perutnya dengan memakan daun dan buah. Ia akhirnya tahu mana daun yang bisa dicerna berikut efeknya bagaimana. Dari uji-coba tubuhnya, daun itu kemudian ia berikan ke ayahnya.
Suatu hari kondisi sang ayah parah. Zhang Da menempuh perjalanan jauh, menemukan puskesmas kecil, kemudian menceritakan kondisi ayahnya. Melihat medan yang harus ditempuh, perawat di puskesmas angkat tangan, tidak bisa menemui ayah Zhang Da. Anak kecil itu mengambil keputusan nekat. Ia minta diajari bagaimana cara menyuntik, bagian mana, berapa takarannya, dan obat yang mana. Ia lantas minta alat suntik dan obat-obatan karena akan menyuntik sendiri ayahnya.
Lima tahun Zhang Da melakukan hal itu, ayahnya lumpuh tapi tetap segar-bugar. Pihak puskesmas penasaran, melaporkan ke kementerian. Pemerintah China tercengang akan kisah Zhang Da kemudian disiarkan televisi. Ketika wawancara, menteri kesehatan memperkenankan Zhang Da untuk meminta apa saja, dan pemerintah akan mewujudkan. Kebetulan acara itu dihadiri banyak pengusaha besar yang bersimpati.
Apa yang Zhang Da minta? Dengan pelan anak kecil itu berucap: “Ibu… saya minta ibu kembali!”

Makassar, 16 Januari 2010.

Dua Jam 15 Menit

•Januari 9, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ketika itu Selasa, awal Januari 2010. Po’oh bersama istri mengurus persuratan di kantor pemerintah. Setelah susah-payah mendapatkan tempat parkir, dengan payung kecil yang sebagian ujungnya terlipat ke atas, mereka bergegas mencapai kantor yang dimaksud agar pakaian tidak basah lantaran hujan.
Kantor pemerintah itu teramat luas. Mereka menembus beberapa lorong yang panjang sebelum mendapatkan ruang yang mereka cari. Itu pun mesti bertanya berkali-kali.
“Sepi, ya?” ucap Po’oh.
Istrinya melirik jam. “Para pegawai tentu sibuk di ruangan masing-masing, menyelesaikan pekerjaan mereka.”
Setelah naik-turun tangga, sampailah di ruang persuratan yang mereka maksud. Ruangan itu tanpa pegawai seorang pun. Bentuknya memanjang, terdapat enam meja dan di depan setiap meja masing-masing terdapat dua kursi. Hanya ada seorang siswa yang tengah Praktik Kerja Lapang (PKL) duduk di belakang salah satu meja, sesekali melirik  televisi, sesekali menulis di sebuah buku yang entah apa. Siswa PKL itu yang melayani, mencatat surat yang masuk, kaku, tak banyak bersuara selain memberitahukan bahwa tujuan surat itu harus diubah.
Hari itu sekira pukul 09.00 Wita. Sepi sekali ruangan itu. Juga kumuh. Po’oh mendongak ke plafon, penuh sarang laba-laba. Di dekat pintu masuk, ada gagang sapu yang kehilangan ijuk. Di sudut ruangan ada galon kosong yang tergeletak-rebah. Tak jauh dari situ juga terdapat keranjang sampah rebah. Sebagian isinya tercecer di lantai. Di sisi jendela banyak botol plastik kosong dan berdebu. Ada kalender yang tergantung di tengah ruangan. Hm, masih Agustus 2009.
Lantaran surat yang mereka bawa kepada yth-nya mesti diubah, istri Po’oh berinisiatif meminjam tipeks, sekalian mesin tik yang tergeletak bisu di salah satu meja. Agak kesulitan istri Po’oh memasukkan kertas lantaran penggulungnya agak keras. Kemudian ia mulai menekan beberapa tuts. Hurufnya tidak kentara. Pita mesinnya sudah berlubang-lubang.
“Ini namanya kita menduduki kantor orang. Pegawainya mana?” tanya Po’oh kepada siswa PKL itu, yang ditanggapi dengan gelengan halus.
Setelah kesalahan itu diubah, siswa PKL tadi membawa surat tersebut ke ruangan sebelah yang dihuni seorang pegawai yang layar komputernya menampakkan situs jejaring. Selanjutnya adalah menunggu proses surat itu. Kepala bagian yang berkantor di lantai bawah: ada. Surat itu tinggal di-print, kemudian dibawa untuk ditandatangani. Beres. Po’oh perkirakan paling lama untuk proses itu 15 menit.
Tapi sekarang sudah dua jam. Belum selesai. Pun ruangan itu masih tanpa pegawai. Lima belas menit kemudian, persuratan itu kelar. Hm, untuk persuratan yang sederhana, yang sebenarnya tanpa risiko apa pun, dibutuhkan waktu dua jam 15 menit. Itu pun setelah siswa PKL itu dibantu stempel dan menggantikannya menulis di pembukuan.
Tak lama kemudian datang satu-dua warga dengan tujuan yang sama. Po’oh dan istrinya saling pandang, tersenyum, membayangkan salah satu yang datang belakangan itu akan pulang jam berapa.
Po’oh dan istrinya pulang, melintasi lorong kantor yang sama. Tiba di lantai bawah, mereka menjumpai banyak pegawai berkumpul, mengelilingi beberapa lapak yang menjual kacamata, ikat pinggang, senter, lem korea, hiasan kecantikan, minyak gosok, jepit-ikat rambut dan lain-lain. Ramai nian. Sebagian pegawai terlihat bergegas pergi, entah ke mana. Pantas setiap tahun pegawai negeri diterima lantaran ruang-ruang kantor kehilangan pegawai pada jam-jam seperti ini.
Meninggalkan para pegawai itu, Pooh melirik bendera merah-putih setengah tiang di halaman kantor pemerintah tersebut, yang seakan memeluk erat tiang bendera lantaran kedinginan dan basah.

Makassar, 8 Januari 2010.

Lamba’ Doko

•Januari 2, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Putra Po’oh pulang les bahasa Inggris. Sebelumnya ia meminta agar Po’oh  menjemputnya lebih awal. Po’oh datang 25 menit dari waktu yang mereka sepakati. Putranya ngambek atas keterlambatan itu. Sepanjang jalan ia ngomel lantaran kehilangan waktu 25 menit untuk menyelesaikan tugas sekolah, sebelum menonton pertandingan PSM yang disiarkan televisi nasional.

Dengan waktu 25 menit yang terbuang itu, ia terpaksa harus mengubah jadwal:  nonton PSM dulu kemudian menyelesaikan tugas, atau menyelesaikan tugas sembari menonton televisi. Dengan demikian, waktu tidurnya pun akan tertunda 25 menit.

“Bapak selalu terlambat,” protesnya. “Kenapa bergeraknya lambat sekali? Belum lagi kalau di jalan macet. Bisa-bisa semakin lambat tiba. Akibatnya saya pun akan terlambat menyelesaikan tugas.”

Po’oh tersenyum tipis, mengusap rambut putranya, kemudian meminta maaf. Ia tidak mau beralasan jalanan macet, ada tugas yang mesti diselesaikan, atau ada urusan penting. Kenyataannya dia memang terlambat bergerak untuk pergi menjemput tadi.

“Katanya orang harus bergerak cepat dan tepat? Tidak lamba’ doko. Bapak sendiri lambat…,” putra Po’oh masih terus ngomel. “PSM pasti sudah bertanding. Kalau tercipta gol, saya pasti tidak melihatnya. Masak tunggu siaran berita? Kan mesti cari  waktu lagi?”

Sekali lagi Po’oh meminta maaf. Putranya benar. Ia yang salah. Tapi apa tadi? Lamba’ doko? Itu bahasa Makassar, yang artinya gerak dan responnya lambat.

Setelah membaca penelitian relevansi “cepat bergerak” dengan “keberhasilan”, dalam The Balance Ways, MK Sutrisna Suryadilaga, Po’oh sering menyampaikan kepada putranya tentang hal itu. Tapi sekarang, dalam urusan menjemput saja, ia malah tidak bisa membuktikannya.

Penelitian itu dilakukan Levine, seorang guru besar psikologi di California State University, Amerika Serikat,  pada 1984. Levine meneliti relevansi kecepatan para pejalan kaki dengan perkembangan suatu negara. Penelitian tersebut untuk menggali dari perspektif psikologi berjalan kaki dengan kesiapan suatu bangsa dalam berusaha maksimal.

Kesimpulan Levine, semakin cepat cara berjalan, semakin maju bangsa itu.  Indonesia termasuk salah satu negara yang diteliti dan penduduknya berjalan lambat, 27,2 detik per 23,8 meter. Bandingkan dengan Jepang yang berjalan 20,7 detik per 23,8 meter. Kenyataannya, mana lebih maju dan berkembang, bangsa Jepang atau Indonesia?

Individu yang berjalan cepat kenyataannya memperlihatkan keunggulan-keunggulan dalam prestasi, demikian pula dalam bertindak. Sebagai contoh BJ Habibie dan H M Jusuf Kalla. Keduanya cepat dalam berjalan. Seiring dengan kecepatan bertindak dan mengambil keputusan. Pemikirannya selalu terlihat ada “lompatan” di banding orang kebanyakan.

Kembali ke Po’oh. Benar, jalanan ternyata macet. Kendaraan bergerak sedikit demi sedikit. Waktu yang terbuang semakin banyak. Putranya sudah ngambek lantaran merasa kehilangan babak pertama pertandingan PSM.

“Coba kalau cepat datang, tentu tidak terlambat begini. Tentu tidak terjebak macet,” masih saja putra Po’oh protes, bersungut-sungut.

Po’oh tersenyum, menenangkan putranya. Benar, ini lamba’ doko. Sesuatu yang pasti tentang kemalasan adalah dekat dengan kemiskinan dan kesusahan. Demikian pula hukum yang pasti dari suatu keterlambatan adalah ketertinggalan dan tentu saja repot sendiri kehilangan waktu.

Makassar, 02 Januari 2010.

Pegawai Negeri

•Desember 26, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Terkubur sudah keinginan kawan Po’oh menjadi seorang pegawai negeri. Pertama dia mendaftar di Departemen Dalam Negeri, kedua di Departemen Luar Negeri. Dua-duanya dia merasa gagal sekaligus menutup cita-citanya menjadi seorang pegawai negeri.

Pengalaman yang terakhir, di Deplu itu – sekira empat tahun lalu — dia memilih untuk “tahu diri”. Setelah mengetahui yang ikut seleksi beberapa anak mantan pejabat yang pernah bertugas di Deplu dan mereka disambut ramah para penguji, kawan Po’oh diam-diam meninggalkan ruang ujian. Dia pulang, sadar seleksi itu bukan untuknya. Dia berkesimpulan, jauh sebelum dirinya lahir di dunia ini sebenarnya dia sudah “terseleksi”. Alasannya, dia bukan dari keluarga siapa-siapa.

Po’oh kenal betul bagaimana prestasi kawannya itu ketika sekolah di Makassar. Dia juga mendengar sepak terjang kawannya ketika kuliah di Universitas Indonesia. Kawan itu serba bisa, pokoknya di atas rata-rata. Kinerja dan tanggung jawabnya bagus. Integritasnya tinggi. Pokoknya, kalau dia menjadi pegawai, dia bisa menjadi abdi negara yang baik.

Kabar terakhir kawan itu ke Jepang, memilih melanjutkan pendidikan. Semoga bila kembali nanti, ilmunya bisa dicurahkan untuk membangun bangsa ini. Banyak putra Indonesia yang diakui di luar negeri lantaran prestasi keilmuannya. Mereka dapat menemukan dan mengembangkan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Ini beberapa contoh. Kalau berbicara mengenai radar dan gelombang magnetik di dunia ini, nama Liem Tiang Gwan pasti disebut. Demikian pula kalau berbicara Alcatel. Puluhan temuannya telah dipatenkan dan betul-betul dimanfaatkan pihak Jerman. Liem berasal dari mana? Semarang. Dia putra Indonesia. Liem telah berusaha kembali ke tanah air. Tapi selalu saja ada hambatan. Liem sekarang tinggal di Ulm, Jerman.

Di Singapura ada Dr Andreas Raharso, menjabat sebagai Kepala Riset Global Hay Group. Pusat riset tersebut mempunyai cabang di kota-kota penting dunia dan berpusat di Singapura. Selama ini kepala risetnya selalu orang Amerika dan Eropa. Dr Andreas orang Asia pertama sebagai kepala riset. Putra Indonesia dia.

Tidak mudah menjadi pimpinan di perusahaan riset Amerika. Persyaratannya sangat ketat. Termasuk di perusahaan risat Pro Thera Biologisc di Rode Island. Tapi hebatnya Prof Yow Pin Liem menjadi pucuk pimpinan di perusahaan itu. Oya, dia berpaspor Burung Garuda.

Ada peneliti Arief Indrasumunar di Universitas Queensland, Australia. Dia mendapatkan paten internasional atas keberhasilannya melakukan kloning tiga gen yang berperan dalam pembentukan “root nadule” dalam kedelai sehingga manfaat kedelai dapat dimaksimalkan. Kalau selama ini produk susu kedelai yang awet kita kenal berasal dari Australia, tunggu dulu, yang membuatnya awet dan tahan lama itu adalah temuan putra Indonesia.

Lantaran keilmuannya itu, mereka mendapatkan kedudukan tinggi di negeri orang. Perusahaan besar berlomba membuka lebar-lebar pintu untuknya. Di negara tempat mereka bekerja, dia diberi tempat. Hidupnya dijamin. Kebutuhannya dipenuhi agar tidak pergi ke mana-mana. Pemerintah setempat memberi jaminan. Soalnya, dia adalah aset yang berharga bagi negara itu.

Hebatnya kita di Indonesia, mereka itu selalu dianggap bukan siapa-siapa. Ketika kembali ke Indonesia mereka tidak mendapatkan tempat. Keilmuannya tidak dipandang. Malah, menjadi pegawai negeri pun mereka tidak diterima….

Makassar, 25 Desember 2009.

“Suami Saya Itu…”

•Desember 19, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Perempuan bertubuh ringkih itu datang ke rumah Po’oh membawa kesedihan yang seakan tidak tertanggungkan. Baru satu-dua kalimat dia bertutur, tangisnya sudah tidak terbendung. Perempuan itu menceritakan masalah suaminya, seorang pegawai swasta di Kabupaten Gowa, yang “dirumahkan” lantaran tersangkut masalah keuangan.
Po’oh dan istrinya mendengarkan saksama. Setiap orang ingin menceritakan tentang diri sendiri. Po’oh mengisyaratkan  kepada istrinya agar mereka lebih banyak mendengar. Biarkan perempuan itu menumpahkan ganjalan perasaannya.
Perempuan itu kawan baik mereka. Suaminya pun demikian. Mereka sudah terbiasa saling curah perasaan – menceritakan permasalahan seperti ini. Keadaan demikian bisa dialami siapa saja. Tak seorang pun di muka bumi ini yang tidak pernah menghadapi cobaan.
“Suami saya seakan kehilangan semangat. Dia sangat terpukul dengan kenyataan yang dialaminya. Dia cenderung menghindar dari orang luar. Setiap hari hanya di rumah, baca koran, mengurung diri, tidur. Saya stress dan kesal melihatnya seperti itu. Mestinya dia bangkit, keluar menghadapi kenyataan.”
“Tidak juga dengan seperti itu,” ucap saya.
“Tidak. Mestinya dia ingat, punya tanggung jawab, istri dan anak-anak. Saya selalu katakan, coba lihat keluarga yang lain, pendidikannya tidak tinggi tapi mereka bisa berhasil. Pernah pula mereka kesulitan keuangan namun mereka bisa bangkit. Ini, dia, malah kelihatan seperti orang yang tidak bisa berpikir apa-apa,” cerocos perempuan itu.
Masih banyak lagi yang perempuan itu tumpahkan, seperti hujan yang tercurah sore tadi. Sesekali dia menyeka air matanya dengan ujung kelingking. Dapat dimaklumi, perempuan mana yang tidak merasa gelisah bisa sang suami tiba-tiba mendapatkan masalah keuangan.
Setelah perempuan itu agak tenang, Po’oh berucap, “Kenyataan yang pasti, pikiran suamimu penuh beban saat ini. Perasaannya kalut. Beban itu yang harus dikurangi. Bantulah dia dengan tidak menambah beban pikiran baru. Sebaiknya jangan  terus-menerus menyalahkan dan memojokkan dia. Kalau suami di rumah seperti itu, berdiam diri, biarkan saja. Siapa tahu dengan begitu pikirannya nyaman. Jangan biarkan dia sendiri menghadapi persoalan itu. Sebentar, bila tiba di rumah, sentuh dia, katakan: kita bersama-sama akan menghadapi semua ini.”
Perempuan itu terdiam beberapa saat. “Bersama dalam bentuk apa?”
“Dalam bentuk beri dia senyum. Support dia. Doakan setiap salat. Buat dia merasa tenang dan nyaman untuk berpikir dan mencari jalan keluar.”
Gelegar  guntur berkali-kali yang menjadi alasan perempuan itu pamit. Istri Po’oh merangkulnya. Saling tempel pipi. Beberapa saat setelah perempuan itu berlalu, istri Po’oh berucap, “Saran-saranmu tadi, seakan mengarahkan saya untuk juga lebih paham, ya…?”

Makassar, 18 Desember 2009.

Lima Ribu

•Desember 12, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Seseorang yang sudah saya anggap saudara, selalu peduli dan jeli menangkap masalah-masalah humanis, masih sangat pagi, memperkenalkan seorang tukang becak asal Jeneponto yang bermukim di Maros, via telepon.

“Saya lupa namanya tapi ada prinsip dia yang menarik sebagai tukang becak,” ucapnya dengan suara serak.

“Apa itu?”

“Tukang becak itu, dalam sehari hanya mengejar penghasilan lima ribu rupiah,” ucapnya.

“Hmm.”

“Kalau dia sudah mengantongi lima ribu, dia balik ke rumahnya, istirahat, tidak melakukan aktivitas genjot becak lagi.”

“Begitu setiap hari?”

“Setiap hari begitu.”

“Mengapa tidak melakukan prinsip kerja mendapatkan penghasilan sebanyak-banyaknya untuk memenuhi keperluan lain? Mengapa tidak ada semangat kerja untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak setiap hari?”

“Mungkin baginya, lima ribu setiap hari cukup. Bila mengharapkan lebih dari itu, jangan-jangan dia merasa telah mengambil bagian dari jatah orang lain.” “Menarik. Hanya mengejar lima ribu setiap hari. Setelah itu pulang. Simpel sekali prinsipnya. Rezeki hari ini cukup untuk hari ini.”

“Apa makna yang saya mau sampaikan?”

“Kesederhanaan. Merasa cukup. Tidak berlebih.”

“Betul. Merasa cukup. Apa yang banyak kita lihat sekarang, persoalan, keruwetan, lantaran tidak merasa cukup itu. Selalu ingin mengejar yang berlebih sehingga memasuki wilayah-wilayah yang tidak pantas untuknya.”

Kami mengakhiri pembicaraan. Saya bersyukur mendapatkan pelajaran seperti itu. Pandangan keseharian dari masing-masing orang. Di satu sisi saya tidak sependapat dengan prinsip seperti itu. Kesannya tidak survive. Tapi di sisi yang  lain, saya menghormati pandangan tukang becak itu.

Cukup lima ribu, tukang becak tersebut merasa sudah bisa mendapatkan segala apa yang dibutuhkan hari itu. Tentu dia merasa tidak perlu mengusik siapa-siapa. Tidak perlu macam-macam. Terlebih memikirkan untuk mendapatkan apa yang bukan haknya.

Sesungguhnya tukang becak ini telah memperlihatkan kehidupan yang “bermargin”, yakni kehidupan yang cukup, tidak seperti berada di dalam air – tidak bisa bernapas. Tukang becak itu sebetulnya sudah mendapatkan napas yang cukup.

Makassar, 12 Desember 2009.

Ra n t i n g

•Desember 5, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Hujan pertama pada Desember tahun ini lumayan tercurah. Lumayan untuk mengetahui apakah ada atap bocor, saluran tersumbat, dahan dan ranting yang terlalu rimbun dan berbahaya bila patah. Hari berikutnya matahari kembali cerah sehingga ada kesempatan untuk memperbaiki yang bocor, membersihkan yang tersumbat, dan memangkas yang rimbun. Allah Maha Pengasih.

Kami memangkas sebagian ranting yang mengganggu. Tetangga juga melakukan hal yang sama. Aparat perkotaan memangkas ranting-ranting di pinggir jalan yang kemungkinan bisa berbahaya bagi pengguna jalan.

Sembari menarik dan mengumpulkan ranting yang sudah dipangkas, saya teringat ungkapan: agar kehidupan kita lebih berkualitas, pangkaslah ranting. Jangan biarkan meranggas ke mana-mana. Ranting kehidupan yang terlalu banyak, terkadang akan menjauhkan dari kualitas hidup yang sebenarnya.

Di buku Margin yang ditulis Richard A Swendson, saya menemukan pendapat Jean Flaming yang mengatakan memandang kehidupan seperti sebuah pohon. Batangnya adalah jangkar kehidupan, yakni hubungan dengan Tuhan. Dahan adalah keluarga, pekerjaan, dan pengembangan pribadi. Ranting adalah aktivitas dan keinginan yang selalu bertambah.

Tentang ranting, saya teringat seorang kawan perempuan di sebuah pesta pernikahan yang tampil biasa saja. Saya memuji penampilannya. Ia dengan lugas mengatakan bahwa pakaiannya terbatas, yang penting cocok dan enak dipakai. Ia tidak mau pusing dengan penampilan yang selalu baru. Terlebih tidak pusing dengan penampilan yang selalu dari itu ke itu.

Saya mengatakan itu bagus, sebab bila pakaian kita sedikit, setiap hari kita hanya membutuhkan waktu sedikit untuk mengurus dan memilih baju.

“Terkadang kesemrawutan hidup kita, lantaran terlalu banyak yang harus kita pilih dan pikirkan,” ucap saya. “Bila harta benda kita sedikit, cukup yang benar-benar perlu, konsekuensinya kita tidak harus memikirkan dan memelihara banyak benda.”

“Setubuh,” cetusnya. “Saya tidak mau terbebani hal yang sebenarnya tak perlu membenani hidup kita dan mencuri terlalu banyak waktu kita.”

Segala sesuatu yang kita miliki, sesungguhnya memiliki kita. Kalimat ini saya contek dari tulisan Richard itu. Benar juga. Coba lihat, apa yang kita miliki? Kendaraan? Kendaraan memiliki kita untuk mengurus tetekbengeknya. Baju banyak? Baju memiliki kita untuk mencuci dan merapikannya. Setiap akhir pekan kita menghabiskan waktu untuk mengurusnya. Perabotan yang mewah? Perabotan mewah akan memiliki dan menuntut kemewahan dari kita untuk menjaga dan merawatnya.

Jangan sampai kehidupan kita penuh dengan aktivitas ranting – sehingga meninggalkan kehidupan pohon dan dahan-dahannya. Kehidupan pohon dan dahan juga membutuhkan waktu yang cukup. Bila ranting terlalu rimbun, pohon akan mudah tumbang, terlebih bila angin selalu bertiup kencang.

Lantaran itu, pangkas ranting yang tidak perlu. Anda yang memiliki banyak ranting tentu mendapatkan banyak beban. Ketahuilah, dari beban Anda, orang lain yang mendapatkan keindahannya.

Makassar, 5 Desember 2009.