Kematian dari Menara Masjid

•November 28, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Hari sibuk suatu sore.

“Terima kasih atas bimbingan Bapak selama ini,” ujar seorang mahasiswi dengan santun, duduk di hadapan Po’oh.

Po’oh tersenyum menanggapinya.

“Oya, ini untuk Bapak,”  ucap mahasiswi itu sembari menyodorkan sebuah buku. “Sangat bagus untuk Bapak baca,” lanjutnya.

Po’oh masih mengulas senyum. Ia lantas meraih buku itu, membaca judulnya: Malam Pertama di Alam Kubur. Sampul dengan warna kusam, ilustrasi pohon meranggas, burung terbang sepi, dan pekuburan yang gersang. Seketika senyum Po’oh hilang. Bergidik ia membaca judulnya. Namun bergegas ia berucap, “Oh, buku yang sangat bagus. Terima kasih,” ucapnya.

“Kita semua akan mengalaminya. Tidaklah salah bila sebelumnya kita mendapatkan gambaran apa yang bakal kita alami,” ucapnya, kemudian pamit. “Semoga kita tidak menjadi golongan orang-orang yang merugi.”

Po’oh mengangguk. Setelah mahasiswi itu berlalu, ia kembali meraih buku itu. Sungguh ada perasaan berat. Ia membuka-buka sekenanya, matanya langsung tertuju pada kalimat: Dialah kubur, yang akan memusnahkan jasad kita dalam benaman tanah. Jantung Po’oh berdeg! Ia membalik buku itu, membaca sampul belakang: Kematian itu pasti. Ia tidak meleset meski hanya sedetik.Ia bisa datang menyergap dengan tiba-tiba.

Po’oh meletakkan buku itu. Ia menarik napas. Refleks tangannya kembali meraih buku itu kemudian membuka-buka lembarannya. Matanya terantuk pada kalimat lain: Apakah engkau telah bersiap-siap mengahadapi malam pertama itu?

Terkaget sendiri Po’oh. Buku itu seperti “berdialog” dengannya. Seakan berkata dengan kalimat teratur dan mengena, menunjuk dan mengingatkan apa nanti yang bakal dia alami. Mengingatkan bahwa sesuatu yang pasti, akan terjadi kepada siapa saja, termasuk dirinya.

Lama Po’oh terduduk, memandangi judul buku itu. Pesan tentang alam kubur bisa datang dari siapa saja. Termasuk dari seorang mahasiswinya. Po’oh tidak mau tahu apa yang ada di pikiran mahasiswinya ketika mendapatkan buku itu kemudian memberikan kepadanya. Tapi bagi Po’oh, sesungguhnya, sekarang, memang sudah saatnya kita selalu berjaga-jaga.

Di wilayah tempat tinggal Po’oh, dari menara masjid sering diinformasikan tentang seorang warga yang meninggal dunia. Tentu di masjid yang lain juga seperti itu. Terkadang subuh, siang, sore, atau malam hari. Ada yang membuat kaget karena mendadak meninggal, ada juga yang tidak lantaran sudah lama terdengar terbaring sakit. Berita kematian terakhir Po’oh dengar ketika menyimak siaran televisi soal tanggapan presiden tentang rekomendasi Tim Delapan.

Berita kematian dari menara masjid akan terus terdengar di wilayah tinggal Po’oh. Satu demi satu warga setempat telah selesai. Po’oh lantas membayangkan, suatu waktu nanti, panitia masjid akan meng-on-kan mic. Meniup-tiup satu dua kali, kemudian dengan suara datar mengabarkan giliran dirinya.

Po’oh menghela napas. Setiap hari selalu ada kabar kematian di muka bumi ini. Setiap hari selalu ada mayat yang dikubur. Tetapi kita, terkadang,  melupakan jejak kematiannya.

Makassar, 28 November 2009.

Seribu Minah

•November 21, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Seharian saya terusik sosok Minah. Menatap wajahnya di media, sungguh tak tega. Minah seorang perempuan paruh baya yang bukan siapa-siapa. Dalam kesehariannya nyaris tidak ada yang mengenali. Setiap hari dia memperjuangkan nasib – di tengah hiruk-pikuk negeri ini – demi kelangsungan hidupnya, sebagai seorang petani di Dusun Sidoharjo, Banyumas, Jawa Tengah. Dia buta huruf pula.

Suatu siang dia melintas di kebun PT Rumpun Sari Antan 4 yang antara lain berisi tanaman kakao. Berpikir “hanya” tiga buah kakao, Minah berinisiatif memanfaatkannya sebagai bibit untuk ditanam di kebunnya. Nasib sial menghampiri, Minah dituduh mengambil kakao, kemudian dilaporkan ke polisi, terus berlanjut ke persidangan.

Minah menjalani persidangan dengan patuh, seorang diri, tanpa siapa-siapa. Tak ada seseorang seperti Anggodo yang membantu mengatur perkaranya. Minah selalu hadir tepat waktu karena ia seorang warga Indonesia yang taat hukum. Minah tak pernah berpikir menghindari pemeriksaan dengan alasan sakit segala macam. Yang ada di pikirannya adalah harus selalu hadir, membuat lancar proses hukum sebab kalau tidak, bisa dihukum lebih berat.

Puluhan kilometer yang harus ditempuh Minah setiap hadir di persidangan. Sedikitnya 50 ribu rupiah yang harus dia keluarkan untuk ongkos kendaraan dan membeli makanan setiap ikut sidang. Dia sama sekali tidak pernah membayangkan tiga buah kakao akan menambah penderitaannya seperti ini.

Minah menjalani hari-hari beratnya itu, menyelesaikan persoalan hukumnya, dengan gambaran yang sama sekali dia tidak mengerti. Tanpa sesiapa? Tunggu dulu, pada waktu-waktu tertentu, tengah malam misalnya, Minah pasti selalu berdoa, mengharapkan pertolongan dari Yang Di Atas – berkeluh-kesah, mengadu, menceritakan semua tentang nasibnya, berurai air mata. Sebuta huruf Minah, dia tentu merasakan ketidakadilan akan dirinya: pengambil tiga buah kakao diproses dengan lancar sementara koruptor ratusan juta, miliaran, triliunan….

Ada seratusan Minah. Seribu malah yang pernah mengalami nasib sama. Ada yang mencuri sandal, ayam, makanan ringan di toko, pot bunga, dan lain-lain. Kita tentu tidak  “berpihak” kepada pencuri kecil-kecilan dan mengutuk habis pencuri besar-besaran. Kecil-kecilan, namanya juga mencuri, tetap saja perbuatan salah, seperti besar-besaran. Mungkin  karena kecil-kecilan, pembuktiannya gampang, proses hukumnya juga lancar. Sementara yang besar-besaran, pembuktiannya banyak, mesti hati-hati, rinci, dan butuh waktu lama, prosesnya juga lama.

Kita tentu tidak berpihak kepada proses hukum yang hanya bisa kecil-kecilan, sementara yang besar-besaran terkesan mati langkah. Lebih menyedihkan lagi kalau saling lempar wewenang tentang: siapa yang mesti memeriksa atau menangani suatu kasus besar itu.  Atau yang besar-besaran malah kadang mendapat perlakuan istimewa. Bukankah di mata hukum tidak ada yang istimewa antara tiga buah kakao dan sehutan pohon kakao?

Harap jangan cemburu, Minah, sebab proses hukum yang sesungguhnya, hanya bisa diterapkan dengan lancar, baik, lurus, dan tegas kepada orang seperti kamu. Rasa tidakadilan itu nyata adanya. Hukum hanya bisa tegas kepada orang selemah, sekecil, dan sebuta huruf kamu. Karena kenapa? Minah, karena jangan-jangan di mata sebagian penegak hukum: apalah kamu.

Minah, kamu sudah dihukum percobaan satu bulan 15 hari. Tapi saat ini, ada skandal korupsi Bank Century sebesar Rp 6.7 triliun! Tahu jumlahnya kalau itu dibelikan kakao? Pulau tempat tinggalmu bisa tidak kelihatan lantaran tertutupi kakao. Pulau tempat tinggal saya juga. Tahu siapa pelakunya, Minah? Saya tidak tahu. Saya tidak mengerti. Tapi jangan sampai hukuman percobaan sepertimu pun: tidak.

Makassar, 21 November 2009.

Daddy, Ayah, Papa, Bapak, dan Tetta

•November 14, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Lupakan sejenak persoalan KPK, polisi, kejaksaan, DPR, Bibit-Chandra, Antasari,  Rani, Wiliardi, Anggodo, Susno, dan lain-lain. Membuat kepala seperti dipenuhi bintang-bintang dan perasaan teraduk-aduk. Kita berbicara tentang daddy, ayah, bapak, puang, karaeng, dan sejenisnya saja.
Suatu sore, di sudut sebuah kantin di kota ini, saya ngobrol dengan seorang kawan. Kami berkawan sejak 20 tahun. Bila Anda telah berkawan baik selama itu, sepertinya tak ada yang tersisa. Terkadang ia memberikan nasihat soal urusan rumah tangga. Terkadang dengan bahasa meledak-ledak membahas satu kata, misalnya apakah kata “pengharapan” masih perlu digunakan karena sudah ada kata “harapan” yang maknanya kurang-lebih sama. Hanya dua kata itu, kami duduk berlama-lama membahasnya — sembari menyeruput teh dingin kegemaran kami.
“Saya sudah sering mendengar anak-anak memanggilmu apa. Namun saya ingin mendengar langsung, kamu dipanggil apa oleh mereka?” ujarnya sembari melipat koran yang memberitakan perseteruan KPK-Polisi.
Saya menyebutkan salah satu sapaan untuk  orang tua.  “Memangnya kenapa? Ada sesuatu?”
“Tahukah kamu, setiap panggilan atau sapaan itu sangat berhubungan dengan perlakuan, sikap, tindakan, respon, yang kita terima?” ucapnya, menyeruput minuman, mengangkat kedua alis berkali-kali.
“Oke, tudepoin saja, kita ambil misal, daddy. Bagaimana seseorang yang dipanggil daddy oleh anak-anaknya?”
“Ini adalah kondisi yang paling parah untuk sapaan seorang kepala rumah tangga. Kesannya memang sangat modern tapi dampaknya sangat menyedihkan. Sang kepala rumah tangga tidak mempunyai wibawa baik oleh anak-anak, terlebih istrinya. Malah cenderung tak dianggap. Dipatoa-toai. Hubungannya sangat dekat. Malah terkadang anak gadisnya menaikkan kaki di paha daddy, dan anak laki-laki minta diambilkan rokok. Sang deddy pun cenderung melirik-lirik di luar.”
“Terus, kalau dipanggil ayah?” kejar saya.
“Sapaan akrab yang enak didengar. Tapi umumnya yang dipanggil ayah merasa tak berdaya mengatur anak-anaknya, tidak didengar, dan sering dipattolo-toloi. Tipikal yang kurang tegas. Istri mau melakukan sesuatu, pergi, beli, tak perlu persetujuan ayah. Jalan saja. Sang ayah terima saja. Jarak hubungan di dalam keluarga itu sangat dekat sehingga sang ayah gampang diatur.”
“Kalau dipanggil papa?”
“Hampir sederajat dengan ayah,” jawabnya.
“Kalau bapak?” saya memperhatikan mimiknya saksama. Saya seruput minuman berkali-kali menunggu jawabannya.
“Lebih ada jarak dengan sang anak. Tidak terlalu jauh, tak pula terlalu dekat. Anak cukup mendengar. Tapi tetap bisa  bertukar pendapat. Kalau tetta, lumayan dihormati, malah cenderung ditakuti. Jarak hubungannya di dalam keluarga cukup jauh,” ujarnya.
“Lantas yang lebih baik mana?”
“Saya tidak mengatakan mana yang lebih baik. Panggilan itu sudah terbentuk sejak awal. Itu adalah karakter keluarga dan perilaku yang ada di dalam. Tapi bisa kamu buktikan sendiri, bagaimana kepala keluarga yang dipanggil daddy, ayah, bapak, tetta. Lebih hancur lagi kalau dipanggil: pace. Anaknya pembohong, bapaknya pendusta, hehehe.”
Kami lantas bersiap-siap berpisah. “Saya bertambah kaya ini hari. Ada pelajaran yang dapat diambil,” ucap saya, balas mengangkat kedua alis.
“Apa itu?”
“Hati-hati sebelum berumah tangga. Persiapkan segala sesuatu, termasuk kelak, kamu akan dipanggil apa.”

Makassar, 14 November 2009.

Susno, Batu, dan Pohon Menangis

•November 7, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Po’oh terpaku di depan televisi. Ia melihat Komjen Pol Susno Duaji terisak. Menangis. Jutaan pasang mata rakyat Indonesia, juga menyaksikan hal tersebut, tentu. Saat itu dewan menanyakan dugaan penyuapan sebesar Rp 10 miliar yang disangkakan kepadanya – terkait rekaman yang diduga upaya kriminalisasi Komisi Pemberantasan Korupsi.

Susno lantas diminta bersumpah. Di hadapan rakyat Indonesia yang menontonnya, dengan lantang  ia menyebut demi Allah tidak menerima sepeser pun sesuai yang disangkakan kepadanya.  Susno pun menangis. Ia mengatakan bahwa keluarganya tidak mau keluar rumah setelah tuduhan itu merebak. Ia pun menambahkan bahwa tidak selamanya yang disangkakan orang itu benar.  Toh, bila sebelumnya orang beranggapan bahwa matahari berputar mengelilingi bumi, kenyataannya bumi berputar mengelilingi matahari. “Kapada siapa lagi saya mengadu?” ucap Susno terisak.

Po’oh memirsanya saksama. Sesekali ia coba selami perasaan sendiri – mencari getaran-getaran lembut di dalam dirinya. Entahlah, mengapa tidak ada getar keharuan yang ia rasakan. Datar-datar saja. Po’oh merasa apa yang diucapkan Susno itu tidak ada yang istimewa. Ya, ampun, ada apa ini? Malah yang memenuhi pikirannya adalah berbagai kecurigaan.

Barangkali lantaran telah mendengarkan rekaman percakapan telepon yang diperdengarkan Mahkamah Konstitusi sehingga ia tidak tergetar. Po’oh merasa telah terjadi pengkhianatan besar kepada rakyat Indonesia. Pengkhianatan polisi, jaksa, anggota dewan. Ia merasa sebagai rakyat yang lugu dan polos telah dibohongi oleh mereka. Telah didustai oleh pangkat, jabatan, wewenang, dan sumpah  mereka. Mengetahui semua itu, Po’oh rasa-rasanya mau menangis.

Po’oh merasa entah dari mana selama ini. Udara di negerinya ternyata teramat kotor oleh persekongkolan hukum dan politik. Ia sungguh kecewa. Betapa bangganya ia kepada kepolisian. Betapa terkagum-kagumnya ia kepada kejaksaan. Betapa hormatnya ia kepada dewan, tapi mereka seakan tidak memedulikan kepercayaan dan harapan rakyat di negeri ini. Sedih dengan kenyataan itu, Po’oh menumpahkan dengan bertanya kepada beberapa kawan: saya mau menangis, di negeri ini, kepada siapa lagi kita percaya?

Keesokan harinya  Po’oh membaca berita soal Susno menangis yang ia tonton malam hari. Berita lain koran itu juga menyorot “batu menangis” di Bissapu, Bantaeng. Batu menangis? Seorang pria disebutkan mendengar tangisan seorang anak kecil, setelah dicari, dipercaya asalnya dari sebuah batu.

Soal tangis seperti itu, beberapa waktu sebelumnya ada berita tentang pohon petai menangis di Tekung, Lumajang. Sebelumnya pohon petai menangis di Bojangsari, Purbalingga. Pohon beringin ada juga yang menangis di Taman Sari, Jakarta Barat. Pohon randu pun disebutkan menangis di Pati, Kudus.  Pohon yang “menangis” tersebut lantaran dari dahan dan daunnya menetes air. Tetesan air yang dipandang tidak sewajarnya di tengah musim kemarau ini, lantas diterjemahkan sebagai bentuk tangisan dari pohon itu.

Po’oh menghela napas. Negeri ini jangan-jangan tengah sakit parah dari semua lapisannya.  Atau, jangan-jangan masyarakat tidak tahu lagi akan memercayai siapa? Kombes Susno menangis dan tak tahu ke mana lagi mengadu. Batu menangis, pohon pun menangis. Semestinya, keadaan ini membuat kita menangis bersama.

Makassar, 7 November 2009.

Menyenter Bulan

•Oktober 31, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Rumah mati lampu. Po’oh sudah terbiasa keadaan ini. Saudaranya di Banjarmasin mengabarkan telah mengalami pemadaman bergilir sejak tujuh bulan lalu. Keponakan di Pekanbaru menginfokan hal yang sama. Isi facebook-nya melulu soal keluhan mati lampu. Kerabat di Palu malah mengatakan heran di Makassar mati lampu lantas warga berdemo — kondisi mereka jauh lebih parah. Ternyata mati lampu bukan cuma di Sulawesi Selatan, di provinsi lain juga.

Di luar rumah sungguh gelap. Beruntung bulan bersinar terang. Po’oh membuka pintu pagar pelan-pelan kemudian memasukkan kendaraan.. Terdengar pintu samping terbuka, disusul jerit putrinya yang kegirangan lantas berlari menemui Po’oh. Seketika Po’oh menangkap tubuh putrinya yang berusia lima tahun, mengayun, berputar-putar, sembari  melangkah masuk rumah.

Aroma wangi sabun sisa mandi sore tercium di pipi putrinya. Po’oh mencium kepalanya, menanyakan mengapa belum tidur. Juga tak lupa menanyakan apakah putrinya sudah belajar.

“Matlam, Pak!” jawab putrinya spontan. “Masak matlam bisa belajar?”

“Makanya, belajar sebelum matlam,” ucap Po’oh tersenyum.

Matlam adalah sebutan Po’oh untuk “mati lampu”. Putrinya ikut-ikutan. Sekali lagi, Po’oh mencium kepala putrinya.

Istri Po’oh menyiapkan makan malam, diterangi senter kecil. Ia bolak-balik dapur-meja makan. Nyala lilin mulai redup di beberapa sudut.

Pukul 20.30 Wita. Masih mati lampu. Dengan senter kecil, Po’oh menuntun putrinya ke teras belakang. Itu permintaan putrinya. Kebetulan rumah tetangga belakang tidak mendapat giliran mati lampu. Sebaliknya bila lampu Po’oh menyala, giliran rumah tetangga mati lampu. Cahaya di belakang rumah Po’oh cukup terang saat itu. Bulan benderang soalnya.

Putri  Po’oh seakan kehilangan kantuk. Ia mengangkat kursi kecilnya kemudian duduk di dekat Po’oh. Udara cukup gerah, Po’oh membuka baju, kemudian memutar-mutarnya menghalau nyamuk. Di dapur, diterangi cahaya lilin yang tinggal sedikit, istri Po’oh memotong-motong pepaya. Sebentar mereka makan bersama.

“Saya mau menyenter bulan, Pak,” ucap putri Po’oh sembari meraih senter. “Biar tambah terang bulannya. Ini sampai ke bulan ya, Pak?” lanjutnya sembari mengarahkan senter ke bulan.

Po’oh tersenyum. Mengacak rambut putrinya. Ia menjelaskan, cahaya senter itu tak sampai ke bulan. Bulan sangat jauh di langit.

“Sampai, Pak. Tuh, bulannya kena,” balas putrinya.

Po’oh menggerakkan kedua alisnya. “Suka kalau mati lampu begini?” tanyanya sembari menghalau nyamuk di kepala putrinya.

“Suka. Bisa bakar-bakar lilin. Bisa lihat bulan. Bisa duduk-duduk sama bapak.”

“Kenapa memang?” kejar Po’oh.

“Kalau lampu nyala, tidak bisa lihat bulan. Bapak main komputer terus di kamar.”

“Kamu nonton tivi sama mama,” balas Po’oh terkekeh. Ia kemudian mengangkat putri kecilnya itu, mendudukkan di pangkuan. Ia menghela napas. Tak mengapa mendapatkan giliran mati lampu. Sebab, pada seiris malam ini, toh ia memiliki suasana yang spesial bersama putrinya. Suasana yang ternyata bisa berkualitas. Bisa menyenter bulan….

Makassar, 30 Oktober 2009.

Seberapa Sering Terucapkan

•Oktober 24, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Mungkin sudah ribuan kali. Mungkin pula lebih, lebih, dari itu. Sudah teramat banyak yang diucapkan tentang harapan. Demikian pula sudah demikian banyak diceritakan tentang pengharapan dan keinginan besar. Tapi lelaki yang satu ini tetap saja tak ingin berharap lebih tentang apa yang tengah dihadapinya.

Segala sesuatu akan berubah dengan sendirinya. Dia selalu berpikir seperti itu. Dia hanya melakukan apa yang menjadi rutinitasnya. Tuhan yang akan menetapkan hasilnya, kelak, ia akan seperti apa. Toh, semua sudah tergariskan. Karena itu, dia tidak mau berpikir terlalu jauh soal pengharapan.

Lelaki yang satu itu seorang penggila bola. Tapi mungkin dia lupa sebuah nama: Garrincha, asal Brasil. Garrincha muda sangat menyukai sepak bola dan dia teramat ingin menjadi pemain nasional Brasil. Sayang semua klub sepak bola menolaknya. Apa sebab? Kakinya pendek sebelah. Kaki kanan pendek enam centimeter dari kaki kiri.

Tapi Garrincha selalu punya pengharapan. Dia terus berlatih memaksimalkan sepasang kakinya yang tidak berimbang. Dia berlatih keras bagaimana mendrible bola. Dia tingkatkan kelincahannya. Dia tingkatkan penguasaan bolanya. Sebuah klub papan bawah Brasil, Botafogo, dengan terpaksa merekrutnya. Itu pun sebagai pemain pengganti.

Tapi itulah awal Garrincha. Dia diberi kesempatan bermain, menari, meliuk dengan kaki tak berimbang, bahkan mencetak dua gol pada debut pertamanya. Bagaimana ia menggiring bola, pengamat di Brasil melukiskannya dengan kalimat: Bola itu seperti hewan peliharaan yang berlari-lari mengikuti keinginan Garrincha.

Garrincha berhasil membuka mata orang tentang dirinya. Akhirnya dia mendapat tempat di tim nasional. Malah bermain bersama Pele dan menjadi kekuatan inti. Suatu waktu ketika Pele tak bisa tampil lantaran cedera, publik Brasil seakan kehilangan harapan. Tapi Garrincha muncul membawa harapan besar, malah terpilih sebagai Pemain Terbaik Piala Dunia 1962!

Lelaki yang satu ini suka mengutak-atik komputer. Tapi mungkin dia lupa satu nama: Bill Joy yang menyebabkan perkembangan program komputer seperti sekarang. Joy sejak belia menyukai dunia maya. Di University of Michigan ia dikenal sebagai lelaki aneh lantaran lebih memilih menyendiri. Tapi dia sesungguhnya terus berpikir bagaimana menciptakan program demi program untuk memanjakan pengguna komputer.

Tentu saja upaya Joy sangat dekat dengan kegagalan. Dalam buku Outliers Malcolm Gladwell, disebutkan dia terus mencoba. Dia memperbesar pengharapan dengan terus melakukan inovasi baru. Joy lantas dijuluki Edison-nya internet. Dia disebut sangat berpengaruh dalam sejarah komputer modern.  Tentang temuannya, Joy mengungkapkan: selalu mempunyai ribuan kali harapan.

Tapi lelaki yang saya sebutkan itu lebih berharap dari rutinitas dan doa. Dia selalu berdoa agar diberi jalan dan dibukakan pintu rezeki kemudian suatu waktu nanti hidupnya benar-benar berubah. Masalahnya, sangat jarang doa langsung berwujud sesuai yang kita harapkan. Bukankah kita sudah diberi sepasang tangan, kaki, dan mata untuk mewujudkan apa yang kita inginkan?

Seberapa sering terucapkan, seberapa sering lelaki itu abaikan. Dia tahu, sudah berulang kali mendengar malah, bahwa yang orang sesali 15-20 tahun mendatang adalah apa yang dilakukannya hari ini: sesuatu yang tidak pernah sungguh-sungguh.

Makassar, 24 Oktober 2009.

Pengemis dan Makan Malam

•Oktober 17, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ini kisah seorang pengembara yang membawa sekantong roti sebagai bekal perjalanan. Lelaki itu terus berjalan, memakan rotinya bila lapar, sehingga lama-kelamaan, roti itu tinggal sepotong. Melihat bekalnya tinggal sepotong, lelaki itu berkata dalam hati, “jika roti ini aku makan sekarang, besok aku makan apa? Aku bisa mati kelaparan lantaran kehabisan bekal.”

Dalam kisah itu disebutkan, malaikat langsung diperintahkan Sang Maha Pemurah untuk mempersiapkan rezeki lelaki itu bila roti yang terakhir dimakan. Tapi kalau tidak, makanan pengganti ditahan dulu.

Berpikir tidak ada lagi makanan bila roti itu dimakan, lelaki itu tetap bertahan tidak memakan bekal terakhirnya. Ia terus memegang sepotong rotinya. Perutnya semakin dililit lapar. Tubuhnya lemah. Lantaran rasa lapar yang sangat, lelaki pengembara itu meninggal dunia. Ia ditemukan tersungkur di pasir dengan sebelah tangan yang masih menggenggam roti.

***

Nabi Musa as pada suatu hari bertanya kepada Allah Swt, mengapa rezeki yang ia makan mesti melalui tangan-tangan Bani Israel. “Pagi dan sore, makananku selalu melewati tangan-tangan mereka. Mengapa demikian, ya Allah?”

“Aku memang bersikap demikian kepada orang-orang yang Aku cintai, Musa. Rezeki mereka selalu Aku lewatkan melalui tangan orang-orang yang banyak menganggur dan tidak banyak beribadah. Hal tersebut agar mereka ikut mendapatkan pahala. Ketelahuilah rezeki itu datangnya dari-Ku. Akulah yang telah mengalirkan rezeki itu dan memerintahkan mereka untuk memberi rezeki kepada yang lain.”

***

Kami makan malam di salah satu rumah makan di Jalan Pengayoman, Makassar. Sembari menunggu pesanan, saya menceritakan kedua kisah tersebut kepada putra-putri saya. Saya ingin menceritakan bagaimana Maha Pengasih Allah membagikan rezeki kepada hamba-Nya sehingga kita mesti banyak bersyukur.

Kami duduk di dekat dinding kaca yang dilapisi stiker transparan sehingga hanya kaki kami dan kaki meja yang terlihat dari luar. Tengah menikmati hidangan yang kami pesan, tiba-tiba ada seorang perempuan tua jongkok di depan kami sembari mengisyaratkan ingin makan.

Sesuap nasi goreng menggantung di mulut saya. Putra saya yang melihatnya juga melakukan hal sama. Kami terpaku. Betapa nikmatnya makanan yang kami santap ini, tapi di luar sana ada seorang perempuan tua kelaparan. Saya melihat tangan perempuan itu digerak-gerakkan di depan mulut, seakan menagih kami. Tuhan, tentu kamilah yang Engkau tunjuk untuk mengalirkan rezeki kepada perempuan itu.

Saya buru-buru minum, meraih tisu, kemudian mengisyarakatkan putra saya untuk keluar mencari perempuan tua tadi. Putra saya buru-buru merogoh kantong celananya. Begitu tiba di luar, kami tak melihat perempuan itu lagi. Saya bertanya kepada tukang parkir, ia juga tidak melihatnya.

“Pa, bagaimana ini?” ujar putra saya sembari memperlihatkan uangnya. Saya melipat dan membenamkan dompet. Saya kembali masuk ke rumah makan itu, merangkul bahu putra saya, menepuk-nepuknya, sembari berpikir apa yang telah dibahasakan Tuhan kepada saya, saat itu.

Masih saya tolehkan wajah mencari-cari. Tak ada. Justru yang tertinggal: wajah memelas perempuan tua itu.

Makassar, 17 Oktober 2009.

T o k e k

•Oktober 10, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

“Tokek!”

“Bunting ja.”

“Tokek!”

“Tena ja”

Puluhan tahun lalu, ketika masih kanak-kanak, setiap mendengar suara tokek, saya selalu menyahuti dengan kata-kata “kawin” atau “tidak kawin”. Teman-teman saya dengar selalu menyahuti seperti itu. Saya ikut-ikutan. Ada juga yang menyahuti “lulus” atau “tidak lulus”, “menang” atau “kalah”.

Pernah ketika mendengar bunyi tokek, seorang kawan menyahutinya dengan “kawin” atau “tidak”. Ketika ia menyahut “tidak”, tokek itu tidak bersuara lagi. Kami meledek teman itu tidak akan kawin. Mukanya merah padam. Ia sangat marah. Ia langsung menyeruduk saya sembari menancapkan giginya di lengan kiri saya. Saya menjerit kesakitan. Kata orang, teramat sakit kalau digigit tokek dan tidak akan terlepas kecuali terdengar bunyi petir. Tapi gigitan teman saya jauh lebih sakit lagi.

Kami juga segera menghindar kalau melihat tokek. Bentuknya sangat seram dan sangar. Kami diberi tahu, jangan dekat tokek, nanti melompat dan menempeli kami. Kalau menempel, tokek itu tidak akan lepas dengan cara apa pun. Makanya tokek wajib diusir padahal sangat bermanfaat mengusir serangga rumah.

Saya tidak menyangka, puluhan tahun kemudian, pandangan tentang tokek berubah 180 derajat. Tokek yang menjijikkan menjadi pembicaraan di mana-mana. Dicari di mana-mana. Tiba-tiba banyak orang berburu tokek. Harganya melambung tinggi. Benar-benar menjadi primadona. Ada yang menjadikannya nada panggil telepon genggam. Ada seekor tokek yang secara bergiliran dijaga satpam di salah satu rumah sakit. Malah tokek dimuat di iklan baris: dicari tokek seberat 4 ons, hubungi dan seterusnya.

Saya percaya betul tokek diburu setelah rumah tetangga kedatangan beberapa orang bermobil yang ingin melihat tokek. Tetangga menyampaikan mempunyai dua ekor tokek ukuran besar. Beberapa orang lantas datang melihatnya. Saya kaget melihat jumlah orang sebanyak itu hanya urusan tokek. Sayang berat tokek itu tidak sesuai.

Manfaat tokek yang umum didengar adalah sebagai obat penyakit kulit, gatal-gatal, khususnya eksim. Seekor tokek dibakar sampai hangus, dihaluskan menjadi bubuk, dicampur kopi, lantas diseduh air panas. Beberapa hari kemudian penyakit eksim sembuh. Bagi penggemar makanan ekstrim, tokek dipercaya dapat meningkatkan stamina. Bila sekarang diburu dan bernilai jutaan rupiah, kabarnya, dapat meningkatkan kekebalan tubuh bagi penderita AIDS.

Saya melihat di rumah tetangga tokek itu dijaga seperti barang mewah. Sesekali diintip memastikan keberadaannya. Kalau ada, yang punya rumah merasa lega. Kalau tokek bersuara, tetangga itu akan tersenyum lega. Tapi ia merasa tidak nyaman bila ada tetangga lain yang menanyakan keberadaan tokeknya.

Tokek masih terus diburu, tidak hanya di pelosok desa, juga perkotaan. Tidak ada yang menyangka, tokek yang menjijikkan, sekarang jadi barang berharga. Tapi yang pasti, Allah Swt menciptakan apa saja di muka bumi ini, semua mempunyai kegunaan tersendiri. Tidak ada yang diciptakan-Nya sia-sia, bagi makhluk-Nya: kita.

Makassar, 10 Oktober 2009.

Tanah Jujur

•Oktober 3, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ada pandangan bijak leluhur kita di Bugis-Makassar yang menyebutkan bahwa: dunia akan kacau, perempuan akan mati bersalin, huru-hara merajalela, penyakit aneh mewabah, kampung terbakar, tanaman tidak tumbuh subur, kemarau panjang terjadi, banjir di mana-mana, lain yang menanam, lain menuai, lain memasak, lain memakan,  gempa bumi terjadi beruntun, masyarakat akan sengsara dan menderita – bila pemimpinnya salah.

Lantaran itu, masih pesan bijak tersebut, pemimpin harus jujur kepada Sang Pencipta, jujur kepada sesama pemimpin, jujur kepada rakyat, kepada diri sendiri, keluarga, bahkan harus jujur kepada sesuatu yang dilihat maupun yang tidak terlihat.

Setiap peristiwa alam, oleh leluhur kita selalu dikaitkan dengan pemimpin. Bukan dikaitkan warga atau masyarakatnya. Demikian pula tidak dikaitkan kondisi alamnya. Maka untuk terhindar dari semua itu, leluhur kita menegaskan kepada pemimpin agar bersikap jujur.

***

Saya tidak mau mengaitkan gempa beruntun yang terjadi di tanah air, wabah penyakit, kekeringan di mana-mana, lantaran kepemimpinan nasional sekarang. Terlebih saya tidak mau berpendapat bahwa presiden yang  menyebabkan terjadinya bencana beruntun itu, lantaran ditolak oleh alam. Tapi saya lebih ingin melihat gempa itu lantaran tanah yang kita pijak setiap hari.

Tanah itu bersifat jujur dan rendah hati. Pandangan orang tua kita tentang tanah adalah lapisan tipis permukaan bumi yang hidup. Tanah anggerang tallassa atau membawa kehidupan dan sangat memengaruhi aktivitas penduduk bumi. Kejujuran tanah akan memberi apa yang kita tanam lantaran memperlakukannya secara baik. Tanah akan mengeluarkan rezeki bila kita mengharapkan rezeki. Tanah akan memberi kerusakan bila kita merusak tanah.

Tanah yang terbentuk dari pelapukan batuan, mineral, dan tumbuhan itu teramat baik. Sifatnya pun sangat baik. Wajar bila tanah selalu dikaitkan manusia karena tanah memberi kehidupan. Bukankah manusia berasal dari tanah? Orang tua kita, sejak dulu selalu mengingatkan, setiap keluar rumah,  jangan lupa memberi salam kepada tanah.

***

Manusia sudah sangat jauh berubah, ucap seorang kawan. Manusia semakin jauh dari sifat-sifat tanah yang menolak salah. Manusia juga semakin tidak jujur. Banyak tatanan kehidupan yang dilanggar. Banyak tindakan-tindakan yang jauh dari sifat tanah yang menyebabkan ketidakseimbangan. Tanah bergerak menyeimbangkan tatanan yang dilanggar manusia. Tanah akan terus bergerak sesuai sifat yang diperlihatkan manusia yang memijak dan mendiaminya. Hanya saja pergerakan tanah itu, antara lain, menyebabkan gempa.

Siapa yang bisa meluruskan tatanan yang salah itu? Kekuasaan seorang pemimpin. Dengan kekuasaan, sesuatu itu menjadi baik – atau malah menjadi semakin buruk. Kelebihbaikan, seperti yang dipesankan leluhur kita, itu terbangun dari kejujuran.

Benar, tanah itu teramat jujur. Maka gempa, tanah longsor, dan banjir itu sesungguhnya sifat jujur yang diperlihatkan tanah kepada kita,  juga kepada pemimpin kita.

Makassar, 3 Oktober 2009.

Rezeki Tape

•September 26, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pada hari Lebaran, saya menyantap tape Takalar siang hari, tape Sinjai sore hari, dan tape Soppeng malam hari. Nama daerah itu berdasarkan dari mana tape itu berasal. Tape adalah panganan yang terbuat dari beras ketan, rasanya manis. Kebetulan selama Ramadan saya teramat ingin makan panganan itu. Alhamdulillah benar-benar terwujud ketika Lebaran. Tiga rumah keluarga yang saya kunjungi, kompak menawarkan panganan itu. Puas pokoknya.

Bagi saya itu adalah rezeki. Tuhan teramat baik mengatur rezeki hamba-Nya, misalnya tape. Tuhan begitu baik menyediakan apa saja yang diinginkan hamba-Nya, dan mengatur serta menyebarkan rezeki itu dengan cara-Nya pula, lewat hamba-Nya yang lain.

Soal rezeki, saya teringat kisah Nabi Sulaiman as. Suatu hari Sulaiman yang merasa kerajaannya begitu luas, kekayaannya melimpah, dapat memerintah bangsa jin, menguasai bahasa binatang, meminta kepada Allah untuk menanggung rezeki penduduk bumi.

“Tuhan, perkenankanlah hamba untuk menanggung rezeki makan hamba-Mu di bumi ini, satu bulan saja,” mohon Sulaiman.

Allah menjawab, “Sulaiman, kamu tidak akan sanggup.”

“Kalau begitu, satu minggu saja.”

“Kamu juga tidak akan sanggup, ” jawab Allah.

Sulaiman terus meminta, lima hari, empat hari, terus hingga satu hari dan Allah tetap menjawab bahwa Sulaiman tidak akan sanggup melakukan itu. Sulaiman yang merasa kekayaannya cukup, akhirnya memohon: “Tuhan, perkenankan hamba untuk menanggung rezeki makan penduduk bumi ini, satu kali saja. Satu kali saja, ya, Allah….”

Mendengar permohonan nabi-Nya, Allah pun akhirnya mengizinkan Sulaiman untuk melakukan itu. “Baiklah, Sulaiman, silakan, satu kali saja.”

Sulaiman pun mengumpulkan rakyatnya, dipotonglah ribuan hewan untuk dimasak. Buah-buahan, sayur-sayuran juga dikumpulkan, jumlahnya pun membubung seperti beberapa gunung. Aroma masakan yang sedap seakan memenuhi bumi ini. Maka semuanya pun siap. Saat perjamuan itu pun tiba.

“Sudah siap ya, Allah,” lapor Nabi Sulaiman.

“Baiklah, makhluk yang hidup di mana akan mendapat giliran pertama menikmati hidanganmu?”

Nabi Sulaiman memilih yang hidup di laut.  Kepada makhlut laut, Allah lantas menyampaikan bahwa rezeki makan mereka ditanggung oleh hamba-Nya yang bernama Sulaiman. Allah pun menunjuk seekor ikan yang agak besar mendapat giliran pertama.

Bergeraklah ikan itu menemui Nabi Sulaiman dan melaporkan bahwa ia yang ditunjuk mendapat kesempatan pertama menikmati hidangan hari itu. Sulaiman mempersilakan. Ikan itu mendekati makanan, dan hanya sekali sedot, seluruh hidangan yang menggunung itu berpindah ke perut ikan tersebut. Habis tuntas.

Melihat itu, Sulaiman sangat marah dan menegur ikan tersebut. Sulaiman bertanya mengapa ikan itu tidak menyisakan untuk makhluk yang lain. Ikan itu kemudian berkata: “Sulaiman, yang Allah siapkan untukku setiap hari tiga kali lipat dari yang saya makan ini. Karena engkau yang menanggung rezeki makanku, aku minta kamu siapkan selebihnya lagi.”

Mendengar itu, Sulaiman langsung berlutut dan memohon ampun kepada Allah. Ia mengakui kesalahannya. Itu baru seekor ikan besar. Di dasar samudera boleh jadi ada ribuan ikan seperti itu. Belum lagi makhluk yang hidup di darat. Belum lagi manusia yang mempunyai ragam selera dan keinginan, seperti zaman sekarang: tape, es kelapa, keripik ubi, pizza, kebab Turki, burger, dan lain-lain. Belum lagi karena manusia memiliki nafsu yang seakan tidak mempunyai batas dan tepi.

Mahabesar Allah. Mahakeciiiiil kita.

Makassar, 25 September 2009.