Po’oh terpaku di depan televisi. Ia melihat Komjen Pol Susno Duaji terisak. Menangis. Jutaan pasang mata rakyat Indonesia, juga menyaksikan hal tersebut, tentu. Saat itu dewan menanyakan dugaan penyuapan sebesar Rp 10 miliar yang disangkakan kepadanya – terkait rekaman yang diduga upaya kriminalisasi Komisi Pemberantasan Korupsi.
Susno lantas diminta bersumpah. Di hadapan rakyat Indonesia yang menontonnya, dengan lantang ia menyebut demi Allah tidak menerima sepeser pun sesuai yang disangkakan kepadanya. Susno pun menangis. Ia mengatakan bahwa keluarganya tidak mau keluar rumah setelah tuduhan itu merebak. Ia pun menambahkan bahwa tidak selamanya yang disangkakan orang itu benar. Toh, bila sebelumnya orang beranggapan bahwa matahari berputar mengelilingi bumi, kenyataannya bumi berputar mengelilingi matahari. “Kapada siapa lagi saya mengadu?” ucap Susno terisak.
Po’oh memirsanya saksama. Sesekali ia coba selami perasaan sendiri – mencari getaran-getaran lembut di dalam dirinya. Entahlah, mengapa tidak ada getar keharuan yang ia rasakan. Datar-datar saja. Po’oh merasa apa yang diucapkan Susno itu tidak ada yang istimewa. Ya, ampun, ada apa ini? Malah yang memenuhi pikirannya adalah berbagai kecurigaan.
Barangkali lantaran telah mendengarkan rekaman percakapan telepon yang diperdengarkan Mahkamah Konstitusi sehingga ia tidak tergetar. Po’oh merasa telah terjadi pengkhianatan besar kepada rakyat Indonesia. Pengkhianatan polisi, jaksa, anggota dewan. Ia merasa sebagai rakyat yang lugu dan polos telah dibohongi oleh mereka. Telah didustai oleh pangkat, jabatan, wewenang, dan sumpah mereka. Mengetahui semua itu, Po’oh rasa-rasanya mau menangis.
Po’oh merasa entah dari mana selama ini. Udara di negerinya ternyata teramat kotor oleh persekongkolan hukum dan politik. Ia sungguh kecewa. Betapa bangganya ia kepada kepolisian. Betapa terkagum-kagumnya ia kepada kejaksaan. Betapa hormatnya ia kepada dewan, tapi mereka seakan tidak memedulikan kepercayaan dan harapan rakyat di negeri ini. Sedih dengan kenyataan itu, Po’oh menumpahkan dengan bertanya kepada beberapa kawan: saya mau menangis, di negeri ini, kepada siapa lagi kita percaya?
Keesokan harinya Po’oh membaca berita soal Susno menangis yang ia tonton malam hari. Berita lain koran itu juga menyorot “batu menangis” di Bissapu, Bantaeng. Batu menangis? Seorang pria disebutkan mendengar tangisan seorang anak kecil, setelah dicari, dipercaya asalnya dari sebuah batu.
Soal tangis seperti itu, beberapa waktu sebelumnya ada berita tentang pohon petai menangis di Tekung, Lumajang. Sebelumnya pohon petai menangis di Bojangsari, Purbalingga. Pohon beringin ada juga yang menangis di Taman Sari, Jakarta Barat. Pohon randu pun disebutkan menangis di Pati, Kudus. Pohon yang “menangis” tersebut lantaran dari dahan dan daunnya menetes air. Tetesan air yang dipandang tidak sewajarnya di tengah musim kemarau ini, lantas diterjemahkan sebagai bentuk tangisan dari pohon itu.
Po’oh menghela napas. Negeri ini jangan-jangan tengah sakit parah dari semua lapisannya. Atau, jangan-jangan masyarakat tidak tahu lagi akan memercayai siapa? Kombes Susno menangis dan tak tahu ke mana lagi mengadu. Batu menangis, pohon pun menangis. Semestinya, keadaan ini membuat kita menangis bersama.
Makassar, 7 November 2009.
