Susno, Batu, dan Pohon Menangis

•November 7, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Po’oh terpaku di depan televisi. Ia melihat Komjen Pol Susno Duaji terisak. Menangis. Jutaan pasang mata rakyat Indonesia, juga menyaksikan hal tersebut, tentu. Saat itu dewan menanyakan dugaan penyuapan sebesar Rp 10 miliar yang disangkakan kepadanya – terkait rekaman yang diduga upaya kriminalisasi Komisi Pemberantasan Korupsi.

Susno lantas diminta bersumpah. Di hadapan rakyat Indonesia yang menontonnya, dengan lantang  ia menyebut demi Allah tidak menerima sepeser pun sesuai yang disangkakan kepadanya.  Susno pun menangis. Ia mengatakan bahwa keluarganya tidak mau keluar rumah setelah tuduhan itu merebak. Ia pun menambahkan bahwa tidak selamanya yang disangkakan orang itu benar.  Toh, bila sebelumnya orang beranggapan bahwa matahari berputar mengelilingi bumi, kenyataannya bumi berputar mengelilingi matahari. “Kapada siapa lagi saya mengadu?” ucap Susno terisak.

Po’oh memirsanya saksama. Sesekali ia coba selami perasaan sendiri – mencari getaran-getaran lembut di dalam dirinya. Entahlah, mengapa tidak ada getar keharuan yang ia rasakan. Datar-datar saja. Po’oh merasa apa yang diucapkan Susno itu tidak ada yang istimewa. Ya, ampun, ada apa ini? Malah yang memenuhi pikirannya adalah berbagai kecurigaan.

Barangkali lantaran telah mendengarkan rekaman percakapan telepon yang diperdengarkan Mahkamah Konstitusi sehingga ia tidak tergetar. Po’oh merasa telah terjadi pengkhianatan besar kepada rakyat Indonesia. Pengkhianatan polisi, jaksa, anggota dewan. Ia merasa sebagai rakyat yang lugu dan polos telah dibohongi oleh mereka. Telah didustai oleh pangkat, jabatan, wewenang, dan sumpah  mereka. Mengetahui semua itu, Po’oh rasa-rasanya mau menangis.

Po’oh merasa entah dari mana selama ini. Udara di negerinya ternyata teramat kotor oleh persekongkolan hukum dan politik. Ia sungguh kecewa. Betapa bangganya ia kepada kepolisian. Betapa terkagum-kagumnya ia kepada kejaksaan. Betapa hormatnya ia kepada dewan, tapi mereka seakan tidak memedulikan kepercayaan dan harapan rakyat di negeri ini. Sedih dengan kenyataan itu, Po’oh menumpahkan dengan bertanya kepada beberapa kawan: saya mau menangis, di negeri ini, kepada siapa lagi kita percaya?

Keesokan harinya  Po’oh membaca berita soal Susno menangis yang ia tonton malam hari. Berita lain koran itu juga menyorot “batu menangis” di Bissapu, Bantaeng. Batu menangis? Seorang pria disebutkan mendengar tangisan seorang anak kecil, setelah dicari, dipercaya asalnya dari sebuah batu.

Soal tangis seperti itu, beberapa waktu sebelumnya ada berita tentang pohon petai menangis di Tekung, Lumajang. Sebelumnya pohon petai menangis di Bojangsari, Purbalingga. Pohon beringin ada juga yang menangis di Taman Sari, Jakarta Barat. Pohon randu pun disebutkan menangis di Pati, Kudus.  Pohon yang “menangis” tersebut lantaran dari dahan dan daunnya menetes air. Tetesan air yang dipandang tidak sewajarnya di tengah musim kemarau ini, lantas diterjemahkan sebagai bentuk tangisan dari pohon itu.

Po’oh menghela napas. Negeri ini jangan-jangan tengah sakit parah dari semua lapisannya.  Atau, jangan-jangan masyarakat tidak tahu lagi akan memercayai siapa? Kombes Susno menangis dan tak tahu ke mana lagi mengadu. Batu menangis, pohon pun menangis. Semestinya, keadaan ini membuat kita menangis bersama.

Makassar, 7 November 2009.

Menyenter Bulan

•Oktober 31, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Rumah mati lampu. Po’oh sudah terbiasa keadaan ini. Saudaranya di Banjarmasin mengabarkan telah mengalami pemadaman bergilir sejak tujuh bulan lalu. Keponakan di Pekanbaru menginfokan hal yang sama. Isi facebook-nya melulu soal keluhan mati lampu. Kerabat di Palu malah mengatakan heran di Makassar mati lampu lantas warga berdemo — kondisi mereka jauh lebih parah. Ternyata mati lampu bukan cuma di Sulawesi Selatan, di provinsi lain juga.

Di luar rumah sungguh gelap. Beruntung bulan bersinar terang. Po’oh membuka pintu pagar pelan-pelan kemudian memasukkan kendaraan.. Terdengar pintu samping terbuka, disusul jerit putrinya yang kegirangan lantas berlari menemui Po’oh. Seketika Po’oh menangkap tubuh putrinya yang berusia lima tahun, mengayun, berputar-putar, sembari  melangkah masuk rumah.

Aroma wangi sabun sisa mandi sore tercium di pipi putrinya. Po’oh mencium kepalanya, menanyakan mengapa belum tidur. Juga tak lupa menanyakan apakah putrinya sudah belajar.

“Matlam, Pak!” jawab putrinya spontan. “Masak matlam bisa belajar?”

“Makanya, belajar sebelum matlam,” ucap Po’oh tersenyum.

Matlam adalah sebutan Po’oh untuk “mati lampu”. Putrinya ikut-ikutan. Sekali lagi, Po’oh mencium kepala putrinya.

Istri Po’oh menyiapkan makan malam, diterangi senter kecil. Ia bolak-balik dapur-meja makan. Nyala lilin mulai redup di beberapa sudut.

Pukul 20.30 Wita. Masih mati lampu. Dengan senter kecil, Po’oh menuntun putrinya ke teras belakang. Itu permintaan putrinya. Kebetulan rumah tetangga belakang tidak mendapat giliran mati lampu. Sebaliknya bila lampu Po’oh menyala, giliran rumah tetangga mati lampu. Cahaya di belakang rumah Po’oh cukup terang saat itu. Bulan benderang soalnya.

Putri  Po’oh seakan kehilangan kantuk. Ia mengangkat kursi kecilnya kemudian duduk di dekat Po’oh. Udara cukup gerah, Po’oh membuka baju, kemudian memutar-mutarnya menghalau nyamuk. Di dapur, diterangi cahaya lilin yang tinggal sedikit, istri Po’oh memotong-motong pepaya. Sebentar mereka makan bersama.

“Saya mau menyenter bulan, Pak,” ucap putri Po’oh sembari meraih senter. “Biar tambah terang bulannya. Ini sampai ke bulan ya, Pak?” lanjutnya sembari mengarahkan senter ke bulan.

Po’oh tersenyum. Mengacak rambut putrinya. Ia menjelaskan, cahaya senter itu tak sampai ke bulan. Bulan sangat jauh di langit.

“Sampai, Pak. Tuh, bulannya kena,” balas putrinya.

Po’oh menggerakkan kedua alisnya. “Suka kalau mati lampu begini?” tanyanya sembari menghalau nyamuk di kepala putrinya.

“Suka. Bisa bakar-bakar lilin. Bisa lihat bulan. Bisa duduk-duduk sama bapak.”

“Kenapa memang?” kejar Po’oh.

“Kalau lampu nyala, tidak bisa lihat bulan. Bapak main komputer terus di kamar.”

“Kamu nonton tivi sama mama,” balas Po’oh terkekeh. Ia kemudian mengangkat putri kecilnya itu, mendudukkan di pangkuan. Ia menghela napas. Tak mengapa mendapatkan giliran mati lampu. Sebab, pada seiris malam ini, toh ia memiliki suasana yang spesial bersama putrinya. Suasana yang ternyata bisa berkualitas. Bisa menyenter bulan….

Makassar, 30 Oktober 2009.

Seberapa Sering Terucapkan

•Oktober 24, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Mungkin sudah ribuan kali. Mungkin pula lebih, lebih, dari itu. Sudah teramat banyak yang diucapkan tentang harapan. Demikian pula sudah demikian banyak diceritakan tentang pengharapan dan keinginan besar. Tapi lelaki yang satu ini tetap saja tak ingin berharap lebih tentang apa yang tengah dihadapinya.

Segala sesuatu akan berubah dengan sendirinya. Dia selalu berpikir seperti itu. Dia hanya melakukan apa yang menjadi rutinitasnya. Tuhan yang akan menetapkan hasilnya, kelak, ia akan seperti apa. Toh, semua sudah tergariskan. Karena itu, dia tidak mau berpikir terlalu jauh soal pengharapan.

Lelaki yang satu itu seorang penggila bola. Tapi mungkin dia lupa sebuah nama: Garrincha, asal Brasil. Garrincha muda sangat menyukai sepak bola dan dia teramat ingin menjadi pemain nasional Brasil. Sayang semua klub sepak bola menolaknya. Apa sebab? Kakinya pendek sebelah. Kaki kanan pendek enam centimeter dari kaki kiri.

Tapi Garrincha selalu punya pengharapan. Dia terus berlatih memaksimalkan sepasang kakinya yang tidak berimbang. Dia berlatih keras bagaimana mendrible bola. Dia tingkatkan kelincahannya. Dia tingkatkan penguasaan bolanya. Sebuah klub papan bawah Brasil, Botafogo, dengan terpaksa merekrutnya. Itu pun sebagai pemain pengganti.

Tapi itulah awal Garrincha. Dia diberi kesempatan bermain, menari, meliuk dengan kaki tak berimbang, bahkan mencetak dua gol pada debut pertamanya. Bagaimana ia menggiring bola, pengamat di Brasil melukiskannya dengan kalimat: Bola itu seperti hewan peliharaan yang berlari-lari mengikuti keinginan Garrincha.

Garrincha berhasil membuka mata orang tentang dirinya. Akhirnya dia mendapat tempat di tim nasional. Malah bermain bersama Pele dan menjadi kekuatan inti. Suatu waktu ketika Pele tak bisa tampil lantaran cedera, publik Brasil seakan kehilangan harapan. Tapi Garrincha muncul membawa harapan besar, malah terpilih sebagai Pemain Terbaik Piala Dunia 1962!

Lelaki yang satu ini suka mengutak-atik komputer. Tapi mungkin dia lupa satu nama: Bill Joy yang menyebabkan perkembangan program komputer seperti sekarang. Joy sejak belia menyukai dunia maya. Di University of Michigan ia dikenal sebagai lelaki aneh lantaran lebih memilih menyendiri. Tapi dia sesungguhnya terus berpikir bagaimana menciptakan program demi program untuk memanjakan pengguna komputer.

Tentu saja upaya Joy sangat dekat dengan kegagalan. Dalam buku Outliers Malcolm Gladwell, disebutkan dia terus mencoba. Dia memperbesar pengharapan dengan terus melakukan inovasi baru. Joy lantas dijuluki Edison-nya internet. Dia disebut sangat berpengaruh dalam sejarah komputer modern.  Tentang temuannya, Joy mengungkapkan: selalu mempunyai ribuan kali harapan.

Tapi lelaki yang saya sebutkan itu lebih berharap dari rutinitas dan doa. Dia selalu berdoa agar diberi jalan dan dibukakan pintu rezeki kemudian suatu waktu nanti hidupnya benar-benar berubah. Masalahnya, sangat jarang doa langsung berwujud sesuai yang kita harapkan. Bukankah kita sudah diberi sepasang tangan, kaki, dan mata untuk mewujudkan apa yang kita inginkan?

Seberapa sering terucapkan, seberapa sering lelaki itu abaikan. Dia tahu, sudah berulang kali mendengar malah, bahwa yang orang sesali 15-20 tahun mendatang adalah apa yang dilakukannya hari ini: sesuatu yang tidak pernah sungguh-sungguh.

Makassar, 24 Oktober 2009.

Pengemis dan Makan Malam

•Oktober 17, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ini kisah seorang pengembara yang membawa sekantong roti sebagai bekal perjalanan. Lelaki itu terus berjalan, memakan rotinya bila lapar, sehingga lama-kelamaan, roti itu tinggal sepotong. Melihat bekalnya tinggal sepotong, lelaki itu berkata dalam hati, “jika roti ini aku makan sekarang, besok aku makan apa? Aku bisa mati kelaparan lantaran kehabisan bekal.”

Dalam kisah itu disebutkan, malaikat langsung diperintahkan Sang Maha Pemurah untuk mempersiapkan rezeki lelaki itu bila roti yang terakhir dimakan. Tapi kalau tidak, makanan pengganti ditahan dulu.

Berpikir tidak ada lagi makanan bila roti itu dimakan, lelaki itu tetap bertahan tidak memakan bekal terakhirnya. Ia terus memegang sepotong rotinya. Perutnya semakin dililit lapar. Tubuhnya lemah. Lantaran rasa lapar yang sangat, lelaki pengembara itu meninggal dunia. Ia ditemukan tersungkur di pasir dengan sebelah tangan yang masih menggenggam roti.

***

Nabi Musa as pada suatu hari bertanya kepada Allah Swt, mengapa rezeki yang ia makan mesti melalui tangan-tangan Bani Israel. “Pagi dan sore, makananku selalu melewati tangan-tangan mereka. Mengapa demikian, ya Allah?”

“Aku memang bersikap demikian kepada orang-orang yang Aku cintai, Musa. Rezeki mereka selalu Aku lewatkan melalui tangan orang-orang yang banyak menganggur dan tidak banyak beribadah. Hal tersebut agar mereka ikut mendapatkan pahala. Ketelahuilah rezeki itu datangnya dari-Ku. Akulah yang telah mengalirkan rezeki itu dan memerintahkan mereka untuk memberi rezeki kepada yang lain.”

***

Kami makan malam di salah satu rumah makan di Jalan Pengayoman, Makassar. Sembari menunggu pesanan, saya menceritakan kedua kisah tersebut kepada putra-putri saya. Saya ingin menceritakan bagaimana Maha Pengasih Allah membagikan rezeki kepada hamba-Nya sehingga kita mesti banyak bersyukur.

Kami duduk di dekat dinding kaca yang dilapisi stiker transparan sehingga hanya kaki kami dan kaki meja yang terlihat dari luar. Tengah menikmati hidangan yang kami pesan, tiba-tiba ada seorang perempuan tua jongkok di depan kami sembari mengisyaratkan ingin makan.

Sesuap nasi goreng menggantung di mulut saya. Putra saya yang melihatnya juga melakukan hal sama. Kami terpaku. Betapa nikmatnya makanan yang kami santap ini, tapi di luar sana ada seorang perempuan tua kelaparan. Saya melihat tangan perempuan itu digerak-gerakkan di depan mulut, seakan menagih kami. Tuhan, tentu kamilah yang Engkau tunjuk untuk mengalirkan rezeki kepada perempuan itu.

Saya buru-buru minum, meraih tisu, kemudian mengisyarakatkan putra saya untuk keluar mencari perempuan tua tadi. Putra saya buru-buru merogoh kantong celananya. Begitu tiba di luar, kami tak melihat perempuan itu lagi. Saya bertanya kepada tukang parkir, ia juga tidak melihatnya.

“Pa, bagaimana ini?” ujar putra saya sembari memperlihatkan uangnya. Saya melipat dan membenamkan dompet. Saya kembali masuk ke rumah makan itu, merangkul bahu putra saya, menepuk-nepuknya, sembari berpikir apa yang telah dibahasakan Tuhan kepada saya, saat itu.

Masih saya tolehkan wajah mencari-cari. Tak ada. Justru yang tertinggal: wajah memelas perempuan tua itu.

Makassar, 17 Oktober 2009.

T o k e k

•Oktober 10, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

“Tokek!”

“Bunting ja.”

“Tokek!”

“Tena ja”

Puluhan tahun lalu, ketika masih kanak-kanak, setiap mendengar suara tokek, saya selalu menyahuti dengan kata-kata “kawin” atau “tidak kawin”. Teman-teman saya dengar selalu menyahuti seperti itu. Saya ikut-ikutan. Ada juga yang menyahuti “lulus” atau “tidak lulus”, “menang” atau “kalah”.

Pernah ketika mendengar bunyi tokek, seorang kawan menyahutinya dengan “kawin” atau “tidak”. Ketika ia menyahut “tidak”, tokek itu tidak bersuara lagi. Kami meledek teman itu tidak akan kawin. Mukanya merah padam. Ia sangat marah. Ia langsung menyeruduk saya sembari menancapkan giginya di lengan kiri saya. Saya menjerit kesakitan. Kata orang, teramat sakit kalau digigit tokek dan tidak akan terlepas kecuali terdengar bunyi petir. Tapi gigitan teman saya jauh lebih sakit lagi.

Kami juga segera menghindar kalau melihat tokek. Bentuknya sangat seram dan sangar. Kami diberi tahu, jangan dekat tokek, nanti melompat dan menempeli kami. Kalau menempel, tokek itu tidak akan lepas dengan cara apa pun. Makanya tokek wajib diusir padahal sangat bermanfaat mengusir serangga rumah.

Saya tidak menyangka, puluhan tahun kemudian, pandangan tentang tokek berubah 180 derajat. Tokek yang menjijikkan menjadi pembicaraan di mana-mana. Dicari di mana-mana. Tiba-tiba banyak orang berburu tokek. Harganya melambung tinggi. Benar-benar menjadi primadona. Ada yang menjadikannya nada panggil telepon genggam. Ada seekor tokek yang secara bergiliran dijaga satpam di salah satu rumah sakit. Malah tokek dimuat di iklan baris: dicari tokek seberat 4 ons, hubungi dan seterusnya.

Saya percaya betul tokek diburu setelah rumah tetangga kedatangan beberapa orang bermobil yang ingin melihat tokek. Tetangga menyampaikan mempunyai dua ekor tokek ukuran besar. Beberapa orang lantas datang melihatnya. Saya kaget melihat jumlah orang sebanyak itu hanya urusan tokek. Sayang berat tokek itu tidak sesuai.

Manfaat tokek yang umum didengar adalah sebagai obat penyakit kulit, gatal-gatal, khususnya eksim. Seekor tokek dibakar sampai hangus, dihaluskan menjadi bubuk, dicampur kopi, lantas diseduh air panas. Beberapa hari kemudian penyakit eksim sembuh. Bagi penggemar makanan ekstrim, tokek dipercaya dapat meningkatkan stamina. Bila sekarang diburu dan bernilai jutaan rupiah, kabarnya, dapat meningkatkan kekebalan tubuh bagi penderita AIDS.

Saya melihat di rumah tetangga tokek itu dijaga seperti barang mewah. Sesekali diintip memastikan keberadaannya. Kalau ada, yang punya rumah merasa lega. Kalau tokek bersuara, tetangga itu akan tersenyum lega. Tapi ia merasa tidak nyaman bila ada tetangga lain yang menanyakan keberadaan tokeknya.

Tokek masih terus diburu, tidak hanya di pelosok desa, juga perkotaan. Tidak ada yang menyangka, tokek yang menjijikkan, sekarang jadi barang berharga. Tapi yang pasti, Allah Swt menciptakan apa saja di muka bumi ini, semua mempunyai kegunaan tersendiri. Tidak ada yang diciptakan-Nya sia-sia, bagi makhluk-Nya: kita.

Makassar, 10 Oktober 2009.

Tanah Jujur

•Oktober 3, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ada pandangan bijak leluhur kita di Bugis-Makassar yang menyebutkan bahwa: dunia akan kacau, perempuan akan mati bersalin, huru-hara merajalela, penyakit aneh mewabah, kampung terbakar, tanaman tidak tumbuh subur, kemarau panjang terjadi, banjir di mana-mana, lain yang menanam, lain menuai, lain memasak, lain memakan,  gempa bumi terjadi beruntun, masyarakat akan sengsara dan menderita – bila pemimpinnya salah.

Lantaran itu, masih pesan bijak tersebut, pemimpin harus jujur kepada Sang Pencipta, jujur kepada sesama pemimpin, jujur kepada rakyat, kepada diri sendiri, keluarga, bahkan harus jujur kepada sesuatu yang dilihat maupun yang tidak terlihat.

Setiap peristiwa alam, oleh leluhur kita selalu dikaitkan dengan pemimpin. Bukan dikaitkan warga atau masyarakatnya. Demikian pula tidak dikaitkan kondisi alamnya. Maka untuk terhindar dari semua itu, leluhur kita menegaskan kepada pemimpin agar bersikap jujur.

***

Saya tidak mau mengaitkan gempa beruntun yang terjadi di tanah air, wabah penyakit, kekeringan di mana-mana, lantaran kepemimpinan nasional sekarang. Terlebih saya tidak mau berpendapat bahwa presiden yang  menyebabkan terjadinya bencana beruntun itu, lantaran ditolak oleh alam. Tapi saya lebih ingin melihat gempa itu lantaran tanah yang kita pijak setiap hari.

Tanah itu bersifat jujur dan rendah hati. Pandangan orang tua kita tentang tanah adalah lapisan tipis permukaan bumi yang hidup. Tanah anggerang tallassa atau membawa kehidupan dan sangat memengaruhi aktivitas penduduk bumi. Kejujuran tanah akan memberi apa yang kita tanam lantaran memperlakukannya secara baik. Tanah akan mengeluarkan rezeki bila kita mengharapkan rezeki. Tanah akan memberi kerusakan bila kita merusak tanah.

Tanah yang terbentuk dari pelapukan batuan, mineral, dan tumbuhan itu teramat baik. Sifatnya pun sangat baik. Wajar bila tanah selalu dikaitkan manusia karena tanah memberi kehidupan. Bukankah manusia berasal dari tanah? Orang tua kita, sejak dulu selalu mengingatkan, setiap keluar rumah,  jangan lupa memberi salam kepada tanah.

***

Manusia sudah sangat jauh berubah, ucap seorang kawan. Manusia semakin jauh dari sifat-sifat tanah yang menolak salah. Manusia juga semakin tidak jujur. Banyak tatanan kehidupan yang dilanggar. Banyak tindakan-tindakan yang jauh dari sifat tanah yang menyebabkan ketidakseimbangan. Tanah bergerak menyeimbangkan tatanan yang dilanggar manusia. Tanah akan terus bergerak sesuai sifat yang diperlihatkan manusia yang memijak dan mendiaminya. Hanya saja pergerakan tanah itu, antara lain, menyebabkan gempa.

Siapa yang bisa meluruskan tatanan yang salah itu? Kekuasaan seorang pemimpin. Dengan kekuasaan, sesuatu itu menjadi baik – atau malah menjadi semakin buruk. Kelebihbaikan, seperti yang dipesankan leluhur kita, itu terbangun dari kejujuran.

Benar, tanah itu teramat jujur. Maka gempa, tanah longsor, dan banjir itu sesungguhnya sifat jujur yang diperlihatkan tanah kepada kita,  juga kepada pemimpin kita.

Makassar, 3 Oktober 2009.

Rezeki Tape

•September 26, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pada hari Lebaran, saya menyantap tape Takalar siang hari, tape Sinjai sore hari, dan tape Soppeng malam hari. Nama daerah itu berdasarkan dari mana tape itu berasal. Tape adalah panganan yang terbuat dari beras ketan, rasanya manis. Kebetulan selama Ramadan saya teramat ingin makan panganan itu. Alhamdulillah benar-benar terwujud ketika Lebaran. Tiga rumah keluarga yang saya kunjungi, kompak menawarkan panganan itu. Puas pokoknya.

Bagi saya itu adalah rezeki. Tuhan teramat baik mengatur rezeki hamba-Nya, misalnya tape. Tuhan begitu baik menyediakan apa saja yang diinginkan hamba-Nya, dan mengatur serta menyebarkan rezeki itu dengan cara-Nya pula, lewat hamba-Nya yang lain.

Soal rezeki, saya teringat kisah Nabi Sulaiman as. Suatu hari Sulaiman yang merasa kerajaannya begitu luas, kekayaannya melimpah, dapat memerintah bangsa jin, menguasai bahasa binatang, meminta kepada Allah untuk menanggung rezeki penduduk bumi.

“Tuhan, perkenankanlah hamba untuk menanggung rezeki makan hamba-Mu di bumi ini, satu bulan saja,” mohon Sulaiman.

Allah menjawab, “Sulaiman, kamu tidak akan sanggup.”

“Kalau begitu, satu minggu saja.”

“Kamu juga tidak akan sanggup, ” jawab Allah.

Sulaiman terus meminta, lima hari, empat hari, terus hingga satu hari dan Allah tetap menjawab bahwa Sulaiman tidak akan sanggup melakukan itu. Sulaiman yang merasa kekayaannya cukup, akhirnya memohon: “Tuhan, perkenankan hamba untuk menanggung rezeki makan penduduk bumi ini, satu kali saja. Satu kali saja, ya, Allah….”

Mendengar permohonan nabi-Nya, Allah pun akhirnya mengizinkan Sulaiman untuk melakukan itu. “Baiklah, Sulaiman, silakan, satu kali saja.”

Sulaiman pun mengumpulkan rakyatnya, dipotonglah ribuan hewan untuk dimasak. Buah-buahan, sayur-sayuran juga dikumpulkan, jumlahnya pun membubung seperti beberapa gunung. Aroma masakan yang sedap seakan memenuhi bumi ini. Maka semuanya pun siap. Saat perjamuan itu pun tiba.

“Sudah siap ya, Allah,” lapor Nabi Sulaiman.

“Baiklah, makhluk yang hidup di mana akan mendapat giliran pertama menikmati hidanganmu?”

Nabi Sulaiman memilih yang hidup di laut.  Kepada makhlut laut, Allah lantas menyampaikan bahwa rezeki makan mereka ditanggung oleh hamba-Nya yang bernama Sulaiman. Allah pun menunjuk seekor ikan yang agak besar mendapat giliran pertama.

Bergeraklah ikan itu menemui Nabi Sulaiman dan melaporkan bahwa ia yang ditunjuk mendapat kesempatan pertama menikmati hidangan hari itu. Sulaiman mempersilakan. Ikan itu mendekati makanan, dan hanya sekali sedot, seluruh hidangan yang menggunung itu berpindah ke perut ikan tersebut. Habis tuntas.

Melihat itu, Sulaiman sangat marah dan menegur ikan tersebut. Sulaiman bertanya mengapa ikan itu tidak menyisakan untuk makhluk yang lain. Ikan itu kemudian berkata: “Sulaiman, yang Allah siapkan untukku setiap hari tiga kali lipat dari yang saya makan ini. Karena engkau yang menanggung rezeki makanku, aku minta kamu siapkan selebihnya lagi.”

Mendengar itu, Sulaiman langsung berlutut dan memohon ampun kepada Allah. Ia mengakui kesalahannya. Itu baru seekor ikan besar. Di dasar samudera boleh jadi ada ribuan ikan seperti itu. Belum lagi makhluk yang hidup di darat. Belum lagi manusia yang mempunyai ragam selera dan keinginan, seperti zaman sekarang: tape, es kelapa, keripik ubi, pizza, kebab Turki, burger, dan lain-lain. Belum lagi karena manusia memiliki nafsu yang seakan tidak mempunyai batas dan tepi.

Mahabesar Allah. Mahakeciiiiil kita.

Makassar, 25 September 2009.

Kita Ini….

•September 5, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Awal minggu lalu saya mendapat cerita dari seorang kawan  keturunan China, yang mempunyai seorang kawan pengusaha keturunan Batak di Jakarta yang menyekolahkan anaknya di New York Private High School. Diceritakan bahwa aturan di kampus
itu, antara lain, mahasiswi tidak boleh berpakaian seksi, bagian atas tertutup rapat, rok harus 10 cm di bawah lutut, berbicara yang positif dan sopan, dilarang minum minuman keras, dilarang berciuman, termasuk berpelukan serta perbuatan asusila lainnya.
Diceritakan pula bagaimana penerimaan mahasiswa baru di kampus itu. Begitu ada mahasiswa baru tiba, sang senior menyambutnya: membantu mengangkatkan barang, menanyakan kesulitannya, menunjukkan ruang yang dituju, termasuk memberi penjelasan tentang ruang-ruang penting di kampus tersebut. Semua itu dilakukan dengan tulus. Kemudian si mahasiswa baru yang setahun berikutnya telah menjadi senior, akan melakukan hal yang sama kepada para mahasiswa baru. Begitu seterusnya.
Saya sangat terkesan karena cerita itu berasal dari negeri yang sangat menjunjung tinggi kebebasan individu. Mereka bebas berekspresi termasuk berpakaian dan bergaul. Saya terkesan karena kampus itu sangat menekankan soal akhlak kepada mahasiswa sebelum menimba ilmu. Semua yang diterapkan tidak bertentangan dengan ajaran agama saya — sangat islami. Padahal selama ini tertanam anggapan bahwa penduduk di sana, termasuk di lingkungan kampus mereka, sudah tidak memperhatikan hal-hal seperti itu.
Seketika menggelinding di pikiran saya suasana kampus di negeri sendiri. Bagaimana penampilan dan cara berpakaian sebagian mahasiswanya. Bagaimana pergaulan mereka. Duh, ada yang membawa minuman keras. Aduh-aduh, ada yang membawa parang dan jenis senjata tajam lainnya masuk ke ruang belajar.
Bagaimana penerimaan mahasiswa baru? Apakah mereka disambut dengan senyum dan dibantu dengan tulus? Mahasiswa baru itu tulus ketika mendapat tendangan. Mereka juga tulus ketika disuruh berjalan jongkok melewati seniornya yang duduk di bangku.
Tiba-tiba menyelusup perasaan malu lantaran sering beranggapan bahwa kita ini adalah suatu bangsa atau penganut agama yang paling beradab. Malu lantaran kita merasa paling baik dalam soal sopan santun. Orang di sana terus memperbaiki diri soal akhlak dan menerapkan dalam kesehariannya, kita justru semakin jauh.
Malam kelima Ramadan, saya mendapatkan ceramah tentang karakter umat muslim khususnya keturunan Timur Tengah, di Eropa sana. Ceramah yang menarik. Digambarkan bagaimana dalam kehidupan sosial, mereka sering melanggar aturan, kurang disiplin, dan berperangai kasar. Sehingga dengan sendirinya, perangai-perangai seperti itulah yang tertanam di benak bangsa lain tentang Islam yang sebetulnya rahmatan lil-alamin.
Saya pernah ke Osaka dan di kereta tanpa sengaja menginjak kaki seorang ibu. Saya malu sendiri karena justru ibu itu mendahului saya meminta maaf lantaran merasa salah menempatkan kaki. Saya menemukan penduduknya teramat disiplin, teratur, gigih, dan itu adalah sikap yang islami.
Cerita kawan soal sebuah kampus di Amerika, ceramah tentang umat muslim di luar negeri, pengalaman di Osaka, masih terngiang-ngiang ketika tanpa terasa saya sudah berhenti di  dekat traffic light setelah mengurus kredit di bank.
Sebuah mobil menerobos traffic light. Saya kaget melihatnya. Entah mengapa dari perbuatannya itu, lantas berkelebat di pikiran saya bahwa pengemudi itu tidak berakhlak, lantaran melanggar aturan. Dan apa pula anggapan orang lain, penganut agama yang lain, misalnya, sebab di belakang mobil itu terdapat tulisan Arab bertuliskan kalimat tauhid….

Makassar, 4 September 2009.

Pelajaran Sandal

•Agustus 29, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Salat tarwih di salah satu masjid yang besar di Makassar. Po’oh tiba ketika muazin tengah ikamah. Setelah mendapatkan tempat parkir, Po’oh dan keluarganya berusaha mencari jalan di koridor yang penuh pedagang kaki lima. Sungguh sesak. Sebagian sudah menggelar sajadah di halaman. Bercampur jemaah pria dan wanita. Duh, kenapa jadi semberawut begini?

Setelah meletakkan sandal di sudut tangga, menapak tangga masjid, Po’oh menoleh ke halaman. Di bawah sana, terdapat ratusan jemaah dengan saf yang tidak beraturan. Bergegas Po’oh masuk ke masjid yang ternyata masih sangat lapang. Ia terus menuntun putranya hingga mencapai tiga baris saf terdepan.

Ternyata putra Po’oh juga terusik dengan jemaah di halaman itu. Usai salat ia bertanya, “Mengapa mereka tidak masuk ke masjid, Pa? Bukankah masih banyak yang kosong?”

“Mereka terlalu cepat mengambil keputusan, menyangka di masjid sudah penuh dan buru-buru menggelar sajadah di halaman. Mereka cuma melihat apa yang ada di depannya dan merasa itu sudah cukup, padahal di depan sini jauh lebih baik. Atau mereka memang terpanggil datang ke masjid, cuma terpanggilnya hanya sampai pekarangan. Tidak benar-benar masuk ke masjid,” jawab Po’oh.

“Berarti yang di luar sana salatnya tidak di terima dibanding yang di dalam masjid?”

“Itu rahasia Allah. Tapi yang pasti, di luar sana sangat ribut dibanding di dalam masjid,” jawab Po’oh. “Bukankah mendirikan salat sebaiknya suasana yang tenang?”

Usai tarwih, Po’oh mengajak putranya melihat-lihat arsitektur masjid. Masjid yang cukup megah dan menjadi kebanggaan di  kawasan timur Indonesia. Putra Po’oh terkagum-kagum melihatnya. Di tengah kubah, seperti ada burung hantu yang bertengger, seakan mengawasi para jemaah.

Ketika tiba di ujung tangga, putra Po’oh bergegas mencari sandal. Cukup lama ia mencari-cari. Sandal Po’oh telah ia dapat. Sandalnya belum.

“Dapat?” ucap Po’oh.

“Kayaknya hilang.”

Po’oh ikut mencari. Membolak-balik sandal yang ada. Po’oh mencari di halaman, jangan-jangan tanpa sengaja terseret oleh jemaah yang lain.

“Tak ada. Sudahlah, Pa. Mau diapa kalau sudah hilang,” ucap putranya.

“Benar tak apa-apa?” kejar Po’oh.

“Ya, tak apa.”

“Ikhlaskan saja. Jadikan sedekah. Doakan semoga bermanfaat bagi orang lain. Kalau orang yang ambil itu datang lagi ke masjid, menggunakan sandal itu, kamu juga akan dapat pahala. Pernah dengar bahwa semua yang kita pakai hanya pinjaman dari Allah?” ucap Po’oh.

“Ya.”

“Dan apakah kamu merasa berat hati kalau yang diambil itu hanya sebuah sandal?”

Po’oh tidak tahu apakah putranya akan mengerti. Tapi paling tidak, malam itu menjadi Ramadan yang indah. Po’oh mendapat pelajaran tentang ketulusan dan keikhlasan.

Makassar, 28 Agustus 2009.

Momen Ramadan

•Agustus 22, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ramadan datang lagi, seperti kapal pesiar yang merapat di dermaga dan kita semua, khususnya yang beriman, berhak untuk naik — menikmati segala kelebihan dan kemewahan fasilitasnya. Demikian besar rasa sayang Allah swt kepada hamba-Nya sehingga menghadirkan Ramadan kepada penduduk bumi. Maha Kasih Allah, memberi bulan yang penuh rahmat agar kita selalu sadar untuk tidak melakukan perbuatan buruk di dunia ini. Setiap kedatangan Ramadan, juga bermakna usia yang terus bertambah — sehingga diingatkan untuk selalu mengevaluasi diri.

Ramadan sungguh bermakna bagi siapa saja. Momen yang penuh hikmah ini diingatkan pula oleh beberapa kerabat Nasrani, Buddha, dan Hindu yang mengirim pesan pendek, mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa. Juga mengharapkan hubungan vertikal dan horizontal semakin berarti dan puasa menjadikan kita berkualitas.

Saya bertekad meraih Ramadan yang berkualitas itu. Dua hari menjelang Ramadan, saya berziarah ke makam orang tua. Momen Ramadan bersama mereka telah lama berlalu. Saya sungguh terharu. Keindahan-keindahan yang mereka ciptakan menjadi kenangan yang sulit saya lupakan sampai sekarang. Saya benar-benar merasakan kualitas Ramadan bersama mereka.

Seorang kawan dari golongan Nasrani keturunan China pernah mengatakan bahwa sebagai orang tua kita semestinya menciptakan momen-momen indah yang nantinya akan dikenang anak-anak kita, dalam kesempatan apa pun. Salah satu momen itu adalah dengan menciptakan kebanggaan bagi mereka. Kebanggaan itu dapat terwujud dengan teladan demi teladan yang kita perlihatkan kepada mereka. Juga dengan kedekatan emosional yang kita jalin bersama mereka.

Seminggu menjelang Ramadan, bermaksud untuk menciptakan momen Ramadan, saya ke toko buku, mencari-cari buku kumpulan cerita penuh hikmah. Saya berjanji kepada anak-anak, setelah berbuka, salat magrib, akan menyuguhkan satu-dua cerita setiap malam. Saya dapatkan buku Kalilah wa Dimnah dan Nabi Sulaiman dan Burung Hudhud. Ditambah buku yang lain, buku itu saya rasa cukup untuk bercerita selama Ramadan.

Kisah di dalam buku itu antara lain tentang manusia yang terjerumus lantaran tidak bisa menahan diri. Misalnya tidak bisa mengendalikan mata, telinga, dan mulut. Sangat bernuansa Ramadan. Juga bagaimana mengasihi sesama. Saya membayangkan putra-putri saya akan gembira karenanya.

Duhai, Ramadan sesungguhnya mengandung kegembiraan. Ke mana-mana bernuansa gembira. Tentu juga di masing-masing rumah kaum muslim. Ada keluarga yang mengisi Ramadan dengan berbagai hal, membawa keluarga salat di sejumlah masjid setiap malam. Ada juga yang merancang berbagai kegiatan yang bertujuan berbagi dengan sesama. Atau mempersiapkan hidangan sahur yang spesial tentu dengan momen  spesial pula.

Puasa adalah proses membersihkan diri. Sejak dulu saya sering mendengar ungkapan seperti itu. Benar, jangan sampai puasa kita luar biasa, dapat menahan haus dan lapar, tapi ketika berbuka, malah memakan “daging manusia” atau berghibah. Artinya masih tetap bergunjing satu sama lain. Atau jangan sampai kita berpuasa, tetapi yang terhidang di rumah berasal dari sesuatu yang haram.

Ops! Dapatkah kita membayangkan momen Ramadan seperti ini: putra-putri kita berpuasa dengan penuh semangat, sementara hidangan berbuka yang mereka santap di rumah berasal dari sesuatu yang tidak benar.  Subhanallah….

Makassar, 22 Agustus 2009

1 Ramadan 1430 H