Hari sibuk suatu sore.
“Terima kasih atas bimbingan Bapak selama ini,” ujar seorang mahasiswi dengan santun, duduk di hadapan Po’oh.
Po’oh tersenyum menanggapinya.
“Oya, ini untuk Bapak,” ucap mahasiswi itu sembari menyodorkan sebuah buku. “Sangat bagus untuk Bapak baca,” lanjutnya.
Po’oh masih mengulas senyum. Ia lantas meraih buku itu, membaca judulnya: Malam Pertama di Alam Kubur. Sampul dengan warna kusam, ilustrasi pohon meranggas, burung terbang sepi, dan pekuburan yang gersang. Seketika senyum Po’oh hilang. Bergidik ia membaca judulnya. Namun bergegas ia berucap, “Oh, buku yang sangat bagus. Terima kasih,” ucapnya.
“Kita semua akan mengalaminya. Tidaklah salah bila sebelumnya kita mendapatkan gambaran apa yang bakal kita alami,” ucapnya, kemudian pamit. “Semoga kita tidak menjadi golongan orang-orang yang merugi.”
Po’oh mengangguk. Setelah mahasiswi itu berlalu, ia kembali meraih buku itu. Sungguh ada perasaan berat. Ia membuka-buka sekenanya, matanya langsung tertuju pada kalimat: Dialah kubur, yang akan memusnahkan jasad kita dalam benaman tanah. Jantung Po’oh berdeg! Ia membalik buku itu, membaca sampul belakang: Kematian itu pasti. Ia tidak meleset meski hanya sedetik.Ia bisa datang menyergap dengan tiba-tiba.
Po’oh meletakkan buku itu. Ia menarik napas. Refleks tangannya kembali meraih buku itu kemudian membuka-buka lembarannya. Matanya terantuk pada kalimat lain: Apakah engkau telah bersiap-siap mengahadapi malam pertama itu?
Terkaget sendiri Po’oh. Buku itu seperti “berdialog” dengannya. Seakan berkata dengan kalimat teratur dan mengena, menunjuk dan mengingatkan apa nanti yang bakal dia alami. Mengingatkan bahwa sesuatu yang pasti, akan terjadi kepada siapa saja, termasuk dirinya.
Lama Po’oh terduduk, memandangi judul buku itu. Pesan tentang alam kubur bisa datang dari siapa saja. Termasuk dari seorang mahasiswinya. Po’oh tidak mau tahu apa yang ada di pikiran mahasiswinya ketika mendapatkan buku itu kemudian memberikan kepadanya. Tapi bagi Po’oh, sesungguhnya, sekarang, memang sudah saatnya kita selalu berjaga-jaga.
Di wilayah tempat tinggal Po’oh, dari menara masjid sering diinformasikan tentang seorang warga yang meninggal dunia. Tentu di masjid yang lain juga seperti itu. Terkadang subuh, siang, sore, atau malam hari. Ada yang membuat kaget karena mendadak meninggal, ada juga yang tidak lantaran sudah lama terdengar terbaring sakit. Berita kematian terakhir Po’oh dengar ketika menyimak siaran televisi soal tanggapan presiden tentang rekomendasi Tim Delapan.
Berita kematian dari menara masjid akan terus terdengar di wilayah tinggal Po’oh. Satu demi satu warga setempat telah selesai. Po’oh lantas membayangkan, suatu waktu nanti, panitia masjid akan meng-on-kan mic. Meniup-tiup satu dua kali, kemudian dengan suara datar mengabarkan giliran dirinya.
Po’oh menghela napas. Setiap hari selalu ada kabar kematian di muka bumi ini. Setiap hari selalu ada mayat yang dikubur. Tetapi kita, terkadang, melupakan jejak kematiannya.
Makassar, 28 November 2009.
