Sembari membolak-balik halaman koran Fajar di rumah, saya menerima SMS dari seseorang. Isinya: Pak, saya PNS di Unhas meninggalkan pekerjaan saya beberapa jam, sudah izin atasan. Saat ini saya menunggu dibukanya kantor lurah. Sudah sekitar setengah jam menunggu belum buka, padahal sebelum ke sini sudah konfirmasi atau deal dengan staf lurah. Di kantorku saya memberi pelayanan prima karena itu ibadah.
Saya tertegun membacanya. Saya membayangkan bagaimana ia menunggu di kantor pemerintah, seperti beberapa kejadian yang pernah saya alami, sementara pegawai belum datang. Ada perasaan kesal. Tapi tidak tega juga untuk menumpahkannya. Saya membalas SMS-nya dengan mengatakan agar ia bersabar dan semoga urusannya berjalan lancar.
Sekali lagi SMS itu saya baca. Kalimat terakhir yang menyebut pelayanan prima dan ibadah kembali membuat saya tertegun lama. Saya percaya setiap sesuatu ada tujuannya. Tuhan tidak menjadikan segala sesuatu sia-sia. Tidak sia-sialah sebutir pasir. Sebutir pasir tetap menjadi bagian terpenting dari sebuah gedung tinggi yang menjulang indah. Tuhan selalu punya maksud. Bahkan ada maksud pada telepon yang tidak terjawab, telepon genggam yang terlupa, hilang, atau SMS yang lama baru terkirim. Sesuatu yang terkadang kita tidak bermaksud apa-apa melakukannya, sesungguhnya ada maksud apa-apa bagi orang lain.
Saya menangkap bahwa pesan dari kalimat itu adalah beraktivitas dengan ikhlas. Bila ikhlas, yang bersangkutan tak akan merasa terbebani oleh apa, bagaimana, dan siapa pun. Ikhlas tidak akan teperdaya oleh janji muluk. Juga tidak akan terpengaruh godaan kedudukan. Seseorang yang ikhlas selalu merasa bahagia menjalankan aktivitas yang dia lakukan dan selalu berpikir untuk tidak menyusahkan orang lain. Seseorang itu juga, tentu, tidak pernah mengeluh.
Mengeluh? Seorang kawan pernah bertanya di facebook bagaimana agar dia bisa berkembang, tidak banyak mengeluh, dan menjalani aktivitasnya dengan gembira. Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya teringat SMS yang saya kutip di atas. Saya mengatakan sembari berharap apa yang saya katakan benar, bahwa satukan kerja dengan ibadah.
Bukankah kita sering menjumpai seseorang yang terlihat rajin beribadah tapi di waktu lain perbuatannya menyimpang dan mengkhianati pekerjaannya? Sebab, seseorang yang demikian, menempatkan ibadah di satu sisi dan kerja di sisi lain. Dengan demikian dalam hidupnya, terkadang, ibadah jalan, penyimpangan dan penyelewengan juga tetap jalan. Di sisi lain beribadah, setelah itu korup. Bukankah ketika ada penyimpangan, saat itu juga akan menjadi beban? Sementara kehidupan ini seolah menempuh perjalanan jauh.
Saya meletakkan telepon genggam. Melontarkan napas. Isi SMS itu masih terngiang. Benar, kita mesti berjalan dengan ikhlas. Sebuah kalimat pernah saya jumpai dalam sebuah buku yang judulnya entah. Dalam menempuh perjalanan ini, ringankan beban Anda. Ringankan langkah kaki kita.
Makassar, 5 Februari 2010



