Ketika kali pertama menginjakkan kaki di bangku SMA, dulu, Po’oh berkenalan dengan seseorang yang wajahnya sangat lugu. Lugu seperti tepung terigu yang ditaburkan di kue bayao pannyu. Po’oh bertanya temannya itu tinggal di mana dan spontan dijawab: Burma!
Po’oh mengerutkan dahi. “Burma? Di mana itu?”
“Biring utara Maccini!”
Kawan itu sejak selesai kuliah di Unhas, mengadu nasib ke Jakarta. Sekarang sudah berkeluarga. Po’oh dengar kawannya itu bekerja di salah satu perusahaan otomotif. Ia yang mendesain jok dan bagian dalam kendaraan. Hebat dia.
Baru-baru ini mereka bertemu di Masjid Raya Makassar. Teman Po’oh itu lantas bertanya, “Sekarang kamu tinggal di mana?”
Spontan Po’oh menjawab, “Timor Leste!”
Kawan Po’oh terperangah. “Hah, yang benar?!”
“Timor Leste, Tidung Mariolo lewat sedikit Hertasning!”
Kawan itu meninju bahu Po’oh. “Sekarang saya tengah mengunjungi ibu yang tinggal di Uganda.”
“Apa itu?”
“Ujung Gang Dangko!”
Setelah bertemu kawan tersebut, Po’oh teringat singkatan-singkatan nama tempat yang cukup khas di Makassar. Entah siapa yang demikian kreatif menciptakannya. Po’oh suka itu. Inilah antara lain yang membuatnya teramat mencintai kota ini. Di balik watak keras warganya, terselip kreativitas yang dapat memancing senyum.
Po’oh sudah meninggalkan Masjid Raya. Ia melambaikan tangan kepada kawan yang hebat itu dan mengisyaratkan agar mereka saling kirim kabar. Menyusuri Jalan Masjid Raya, Po’oh teringat kawan SMA yang lain, tinggal di sekitar situ. Badannya tinggi besar, sebagian teman kurang ajar menyebutnya lotong. Dulu temannya itu selalu mengatakan tinggal di Jakarta, Jalan Kandea RT A ternyata.
Sekarang Po’oh mengarahkan kendaraan ke Jalan Urip Sumoharjo. Inilah kawasan Prancis, Perempatan Maccini Selatan. Beberapa kawan sekolahnya, jurusan SMA 5 dulu, kalau turun dari mikrolet ada yang berteriak, kiri Depok. Itu artinya Depan Pongtiku. Ada juga yang berteriak, Blok M, belokan Maccini.
Panas kian menyengat di luar sana. Kendaraan berebut jalan. Mikrolet tak mau kalah. Terutama jurusan Daya. Untung jalur agak lancar. Beruntung pula mahasiswa tidak demo di kantor dewan.
Mikrolet masih bertumpuk di depan Po’oh berebut jalan. Inilah persaingan hidup. Banyak penumpang yang wajahnya cemberut. Pasti nanti di antara mereka ada yang turun di Belanda, Belakangnya Daya. Sebagian dari mereka mungkin kuliah di Udayana, Ujungnya Daya sana. Terus ke sana akan lanjut ke Swis, sekitar wilayah Sudiang. Kemungkinan pula di antara penumpang itu ada orang Sidney, Sidrap niye. Atau penumpang yang akan turun di dekat PLTU untuk melanjutkan perjalanan ke Kamboja, Kampung Borongjambua. Jangan-jangan di antara mereka ada yang keturunan Libanon, Limbung Bontonompo. Libanon yang terdapat di Bogor, Bontonompo Gowa Raya, yang punya ikatan kekerabatan dengan orang Senegal, Serikat Nelayan Galesong.
Po’oh tersenyum sukacita. Di kotanya sudah berseliweran orang luar negeri. Juga dari kota lain. Ada dari Paris, Parang tambung dan sekitarnya, Cilacap, Cilallang cappa dan banyak lagi.
Sekarang Po’oh sudah melewati gedung DPRD Sulsel. Tak terasa ia sudah berada di sekitar Brasil, Barawaja samping Tol. Sebentar lagi tiba di kantor. Dengan hanya melintasi beberapa ruas jalan di Makassar, rasa-rasanya ia telah melintasi seluruh dunia.
Makassar, 11 Juli 2008.
